<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991</id><updated>2011-07-31T03:56:07.718-07:00</updated><title type='text'>.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3778274338216433550</id><published>2010-04-20T05:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-20T05:24:14.572-07:00</updated><title type='text'>Tok Janggut (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S82c2ToMU0I/AAAAAAAAA2I/gXOXwRCKujY/s1600/15030_1438337559934_1277874140_1254075_436729_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S82c2ToMU0I/AAAAAAAAA2I/gXOXwRCKujY/s320/15030_1438337559934_1277874140_1254075_436729_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462194379866002242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kala, di tanah Melayu ada seorang tua yang dipanggil dengan sebutan Tok Janggut. Ada setengah orang menyebutnya ulama, setengah lagi menyebutnya justru sebagai pengkhianat. Sejarah memang selalu menyisakan dua sisi yang tak pernah berhenti ditikaikan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok Janggut dihukum mati oleh penjajah British. Setelah dibunuh, mayatnya digantung di atas pancang bambu. Kaki di atas, kepala di bawah, rakyat dipaksa untuk menontonnya agar menjadi peringatan yang tak lekang di dalam kepala. Apakah salahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama aslinya Wan Muhammad Hassan Wan Muhammad Yunus, tapi orang-orang lebih memanggilnya sebagai Tok Janggut, karena janggutnya yang panjang. Ada yang menyatakan, Tok Janggutlah orang pertama yang mengumandangkan kata merdeka di tanah Malaysia dari penjajahan Inggris. Pemerintahan Malaysia memberikan anugerah gelar pahlawan nasional pada tokoh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman itu - Perang Dunia I- pertempuran berkecamuk hampir di seluruh penjuru dunia. Salah satu komponen yang terlibat adalah kekuatan Islam, Khilafah Utsmani Turki. Kerajaan Inggris dan sekutunya menjadi kekuatan adikuasa yang berdiri di satu sisi. Di sisi lain, Khilafah Utsmani bersekutu dengan Nazi Jerman sebagai kekuatan alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kekuatan ini berperang dengan seru dan hebat. Semua komponen menjadi terlibat. Kawan-kawan Turki Utsmani dan Jerman, berdiri dalam satu barisan. Sedangkan Inggris, di seluruh wilayah jajahannya, diserukan untuk memberi bantuan tak terkecuali di tanah Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang propaganda dan agitasi juga dilancarkan. Inggris menghembuskan kabar ke negeri-negeri Melayu yang beragama Islam, jika Turki Utsmani yang bersekutu dengan Jerman berhasil menang, kaum Muslimin di seluruh dunia akan kesulitan menunaikan rukun yang kelima. Makkah dan Madinah akan di bawah kendali Jerman, dan berhaji bukan urusan gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, agitasi berhasil dan umpan mendapat gigitan. Raja-raja di negeri Melayu termakan, bahkan sampai-sampai mereka mengerahkan rakyat untuk mendirikan shalat hajat agar British menang dan Turki Utsmani bersama Jerman bisa dikalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, raja-raja Melayu lengkap dengan ulamanya memobilisasi massa untuk memberikan dukungan pada British Raya. Hanya satu orang tua yang berani bersuara lain. Dia menolak, menentang dan melawan. Dia adalah Tok Janggut. Tak mau tunduk dan menentang. Khota Baru menjadi basis gerakan, melawan dominasi Inggris yang didukung raja-raya Melayu yang sudah tak jelas pandangan salah dan benar. Tak mau keadaan semakin runyam, tiga kapal tentara Inggris dikirimkan dari wilayah Singapura. Banyak pengikut Tok Janggut ditahan, sedangkan orang tua berjanggut panjang itu dihadiahi timah panas sebagai hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Inggris akhirnya menang. Khilafah Utsmani Turki tumbang. Kekuatan sekuler menancapkan kekuasaannya, sementara kekuatan Islam pelan-pelan musnah, lalu hilang untuk selamanya. Setelah Khilafah Utsmani runtuh, tanah Palestina dijarah oleh Inggris dan dihadiahkan kepada Zionis. Tak lama, susul menyusul tragedi di seluruh dunia Islam, dari Indonesia sampai Timbuktu, dari Thailand Selatan sampai ke Sudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kisah ini terlalu disederhanakan. Mungkin kisah yang sesungguhnya lebih rumit dan begitu banyak cabang. Tapi ada satu benang merah yang ingin dimunculkan. Ternyata tanah Melayu ini dulu, para pemimpin di Nusantara ini dulu, punya peran yang tidak bisa dianggap ringan dalam keruntuhan Khilafah Utsmani Turki, satu-satunya daulah yang mempersatukan kekuatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini kita belum lagi memiliki satu pucuk kepemimpinan yang mempersatukan. Hingga kini, seluruh dunia Islam mendapatkan ujian yang memilukan; dijajah, dianiaya, dirampas kekayaannya dan sekian ketidakadilan lain oleh dunia. Sampai kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus menjawabnya. Kita harus memberikan jawaban, dan harus menghentikan semua ketidakberdayaan ini. Cara pertama, jangan menjadi pengkhianat bagi kepentingan umat Islam!    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3778274338216433550?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3778274338216433550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/tok-janggut-oleh-herry-nurdi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3778274338216433550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3778274338216433550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/tok-janggut-oleh-herry-nurdi.html' title='Tok Janggut (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S82c2ToMU0I/AAAAAAAAA2I/gXOXwRCKujY/s72-c/15030_1438337559934_1277874140_1254075_436729_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-6646814600073466359</id><published>2010-04-15T19:52:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T19:55:31.238-07:00</updated><title type='text'>Sekadarnya, Secukupnya! (Oleh Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fRk7Z3pHI/AAAAAAAAA14/lWbcMK-DaTU/s1600/1_759172728l.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fRk7Z3pHI/AAAAAAAAA14/lWbcMK-DaTU/s320/1_759172728l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460563505561707634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan seseorang atau sekelompok manusia yang melakukan kesalahan adalah, agar mereka mau menerima nasihat dan memperbaiki diri. Tapi banyak di antara kasus yang terjadi di sekeliling kita, ketika bertemu dengan seseorang yang melakukan kesalahan, justru target utamanya adalah membuat mereka merasa bersalah dan terpojokkan. Maka janganlah heran jika kita menemukan orang dan banyak kelompok menerapkan strategi untuk membela diri, mencari berjuta kilah, dan jika perlu memutarbalikkan fakta. Karena, sangatlah manusiawi, manusia tak ada yang mau dipersalahkan, apalagi dituding sebagai bertanggung jawab atas segala kekacauan.    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dalam banyak kasus pemberian nasihat dan menegur kesalahan, Rasulullah menerapkan target bukan pengakuan kesalahan dari yang bersangkutan. Tapi kejujuran perasaan, penerimaan nasihat, dan perbaikan diri menuju kondisi yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini saya masih belajar dengan keras, bagaimana caranya mengendalikan diri. Terutama ketika marah dan tidak senang hati. Pada anak-anak dan istri, pada teman-teman sejawat yang saya koordinatori, kepada pengendara sepeda motor yang seolah punya jalan sendiri, kepada banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya merasa marah dan tidak ridha hati, padahal masalahnya kecil sekali. Lalu kemarahan kecil itu, merembet, melebar, meluas, menjalar. Tak hanya satu nama yang disebut, tapi bertambah dua. Kemudian tiga, kemudian banyak yang disalahkan. Setelah reda, biasanya saya menyesal. Istighfar berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca kisah tentang seorang Badui di zaman Rasulullah tercinta. Tapi mohon dimaafkan, saya lupa namanya, tapi saya ingat betul kisahnya. Tokoh kita ini, rumahnya jauh dari Madinah, dan sesekali saja berjumpa Rasulullah untuk mempelajari agamanya. Suatu ketika, ia belajar dari Rasulullah tentang kalimat yang diucapkan ketika seorang saudaranya bersin. ”Alhamdulillah,” yang bersin berkata demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dijawab oleh yang mendengar, ”Yarhamukumullah.” Kemudian yang didoakan menjawab ulang, ”Yahdikumullah.” Begitulah agama ini, penuh doa-doa yang menggembirakan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, untuk beberapa waktu lamanya, si fulan dari suku Badui Arab ini tak berkunjung ke Madinah dan menemui Rasulullah tercinta. Suatu hari, ia berkunjung ke Madinah dan mendapat Rasulullah dengan para sahabat sedang menunaikan shalat. Lalu ia pun bergabung menunaikan shalat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah shalat, ada salah seorang jamaah yang bersin. Tapi sang tokoh kita mendapati tak satu pun yang berkata Alhamdulillah dan menjawab seperti yang pernah ia dengar dari ajaran Rasulullah. Lalu dengan semangat ia mengingatkan, agar yang bersin melafazhkan hamdalah. Tapi semua dalam kondisi shalat, dan mata para jamaah memandangnya, seolah-olah melontarkan teguran bahwa ia bersalah. Dan memang, faktanya ia telah bersalah dengan bersuara di dalam shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat, Rasulullah membalikkan tubuh dan bertanya, suara siapakah gerangan yang berkata-kata di dalam shalatnya. Biasanya, Rasulullah selalu mengenali suara-suara para sahabatnya. Tapi karena tokoh kita yang satu ini jarang bertemu dan hanya sesekali datang ke Madinah, Rasulullah pun tak terlalu hapal pada suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah bertanya, tokoh kita ini, merasa bakal mendapat marah besar karena telah mengganggu shalat dan melakukan kesalahan. Dia sudah membayangkan hal-hal yang bukan-bukan. Tentang kemarahan Rasulullah, tentang hukuman yang akan diterimanya, tentang pandangan-pandangan semua orang atas dirinya. Tentang banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya, semua yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Rasulullah hanya berkata, ”Tidak ada bacaan lain dalam shalat kecuali yang sudah ditentukan.” Dan seketika si fulan mengerti tentang kesalahan yang dibuatnya. Dan kegundahannya akan kemungkinan-kemungkinan hukuman yang ada di dalam dadanya, sirna seketika. Rasulullah memberikan teguran secukupnya, sekadarnya, karena Rasulullah mengerti yang melakukan kesalahan memang baru belajar dan banyak lagi yang perlu dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu malu mengingat riwayat ini, karena seringkali saya tak secukupnya, tak sewajarnya, berlebihan dan tak mampu menahan kemarahan. Padahal marah pada orang yang salah, menegur seseorang yang alpa, tujuan besarnya adalah menasihati agar kembali pada jalan kebaikan dan kebenaran. Tapi ketika kita justru marah panjang kali lebar kali tinggi, barangkali pesan yang sesungguhnya ingin kita sampaikan tak pernah masuk ke hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi jika yang dipersalahkan membela diri, melakukan perlawanan, memberikan argumentasi-argumentasi tandingan, maka yang lahir kemudian adalah perdebatan, saling bantah, dan bisa jadi tukar pukul dan baku hantam. Maka, keduanya bertambah jauh dari kebaikan dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah mengampuni saya, yang sering kali berlebihan ketika marah. Astaghfirullah hal Adzim. Dan semoga Allah memberi kekuatan kepada saya, ketika kemarahan-kemarahan mengirimkan hasutan pada hati dan akal untuk berlaku berlebihan. Laa haula walaa quwwata illa billah. Dan semoga Allah senantiasa menjaga saya, selalu berada dalam kebaikan dan kebenaran. Amin ya Rabbal Alamin.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-6646814600073466359?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/6646814600073466359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/sekadarnya-secukupnya-oleh-herry-nurdi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/6646814600073466359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/6646814600073466359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/sekadarnya-secukupnya-oleh-herry-nurdi.html' title='Sekadarnya, Secukupnya! (Oleh Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fRk7Z3pHI/AAAAAAAAA14/lWbcMK-DaTU/s72-c/1_759172728l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-8735272146516723767</id><published>2010-04-15T19:50:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T19:51:55.572-07:00</updated><title type='text'>Asma Al Husna : Allahu (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fQxhU3E-I/AAAAAAAAA1w/E2tYwQKIuOo/s1600/allah1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 296px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fQxhU3E-I/AAAAAAAAA1w/E2tYwQKIuOo/s320/allah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460562622388048866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah mempunyai 99 nama. Seratus kurang satu. Barangsiapa menghafalnya, akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada nama yang lebih besar, dibanding nama Allah. Dia menciptakan segala. Dia mengatur semua. Dia mengawasi seluruhnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al Qur’an, kata Allah dalam banyak varian disebutkan dalam jumlah yang sangat besar. Kata Allah disebutkan sebanyak 2.698 dalam berbagai konteks, peristiwa dan sifat-sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah nama Allah, maka hati menjadi tenang. Ingatlah nama Allah, maka semuanya menjadi terang. Dzikirkan selalu kata Allah, dengan izin-Nya, takkan ada penghalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Allah adalah kata yang merangkumi seluruh nama-Nya, segenap sifat-Nya dan seluas makna-Nya. Allah, tak ada nama yang sebesar ini. “Dan sungguh jika kami bertanya kepada mereka siapakah pencipta langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab Allah.” (QS. Az Zumar: 38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bahkan mengajarkan pada kita pelajaran sangat detil bagaimana dan bila waktunya seharusnya menyebut nama Allah. “Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka. Tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah. Padamkanlah lampumu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah periukmu dan sebutlah nama Allah. Rapatkanlah kendi airmu dan sebutlah nama Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah Allah. Kapan saja. Dimana saja. Ingatlah Allah, dalam diam, dalam gerak, saat sepi, saat ramai. Niscaya Dia akan menjagamu, melapangkan jalanmu dan memudahkan urusanmu, mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awali hidup kita setiap hari, dengan kata sederhana: Allahu. Niscaya Dia akan membuka semua pintu, memungkinkan semua yang mustahil, karena bagi-Nya tak ada yang tak mungkin. Amin. (Herry Nurdi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-8735272146516723767?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/8735272146516723767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/asma-al-husna-allahu-oleh-herry-nurdi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8735272146516723767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8735272146516723767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/asma-al-husna-allahu-oleh-herry-nurdi.html' title='Asma Al Husna : Allahu (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fQxhU3E-I/AAAAAAAAA1w/E2tYwQKIuOo/s72-c/allah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-9009870926335517728</id><published>2010-04-15T19:45:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T19:47:12.028-07:00</updated><title type='text'>Meminta Maaf Dengan Sangat Serius (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fPp2zgsvI/AAAAAAAAA1o/qJteqxLFPXY/s1600/buka_lah_pintu_maaf_mukompas.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 248px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fPp2zgsvI/AAAAAAAAA1o/qJteqxLFPXY/s320/buka_lah_pintu_maaf_mukompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460561391203169010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu masih mengingat, siapa sosok Bilal bin Rabbah ra. Salah satu tokoh dalam sejarah Islam yang mengukirkan namanya dengan tinta emas, meski awal sejarah hidupnya adalah orang yang papah, tak dihargai, budak yang diperjualbeli dan mungkin tak dipandang sebelah mata. Lalu dengan Islam, nama Bilal bin Rabbah ra menjadi mulia, bahkan menjadi rujukan amal-amal shalih yang kita lakukan saat ini.    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga ingat sosok Abu Dzar al Ghiffary ra, seorang manusia yang mencari kebenaran dengan seluruh hidupnya. Menebus kebenaran dengan nyawa. Membela kebenaran dengan seluruh keberanian jiwanya. Dua manusia mulia yang pernah dilahirkan oleh sejarah Islam, hasil dari tarbiyah Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, keduanya pernah berselisih pendapat. Entah karena didorong rasa apa, Abu Dzar ra sampai mengucapkan kata-kata yang sangat menyinggung Bilal bin Rabbah ra. “Hai, anak orang hitam!” kata Abu Dzar ra pada Bilal bin Rabbah ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Bilal sangat sedih, dan mengadukan hal ini pada Rasulullah saw, sang pemimpin yang adil dan penuh kasih sayang. Setelah mendengar pengaduan sahabatnya Bilal, Rasulullah memanggil dan mengajak Abu Dzar berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, setelah obrolan bersama Rasulullah tersebut, Abu Dzar menyadari betul ada sifat dan perilaku jahiliyah yang masih tertinggal dan dilakukannya. Abu Dzar merasa, seharusnya tak terjadi hal yang demikian, apalagi pada sahabat sendiri yang telah dimuliakan oleh Islam dan memuliakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sungguh-sungguh, kemudian Abu Dzar mencari Bilal bin Rabbah. Ketika menemui Bilal bin Rabbah, Abu Dzar duduk dengan penuh takzim di depannya. Kemudian Abu Dzar meminta maaf, ia tempelkan sebelah pipinya ke tanah dan berkata, ”Wahai Bilal, injaklah pipiku dengan kakimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, ini adalah catatan sejarah tentang keseriusan permintaan maaf. Betapa banyak hari ini kita melakukan kesalahan, lalu sebesar apa perasaan bersalah itu muncul ke permukaan. Semendalam apa penyesalan kita atas kesalahan yang telah kita lakukan. Sekuat apa kita memperbaikinya, atau jika menyangkut orang lain, sedahsyat apa usaha permintaan maaf yang sudah kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bahasa, kita sering mengganti perkataan ”maaf” dengan kata ”sorry” yang sering diucapkan dengan hambar dan nyaris tak berarti. Secara bahasa kita sering mengganti kata ”maaf” dengan mengucakan ”afwan” yang kita keluarkan dengan sangat ringan. Tapi kita lupa menitipkan kesungguhan di sana. Kita alpa meletakkan ruh pada kata maaf, sorry dan afwan. Karena, kita tidak benar-benar merasa bersalah atas sebuah perbuatan, pada seorang teman, pada banyak orang, pada orangtua, pada saudara, pada bawahan, pada pemimpin, pada rakyat yang dipimpin, pada jamaah, pada qiyadah, pada orang-orang yang tanpa sepengetahuan kita menganggap sangat besar kesalahan yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pertunjukan kolosal yang kita saksikan hari ini, tentang pelajaran menghindar dari kesalahan. Ada jumpa pers yang digelar untuk membela diri. Ada selebaran yang dibuat untuk klarifikasi. SMS bertebaran untuk menjelaskan ulang. Sumpah menyebut nama anak dan istri di depan seluruh rakyat Indonesia di dalam siaran televisi. Pidato politik yang sangat melankoli untuk mengubah kesalahan menjadi undangan gelombang simpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang mengakui kesalahan dengan gagah berani. Tapi sesungguhnya, ini sama sekali bukan tentang gagah atau berani, atau digabungkan sekaligus, gagah berani. Ini tentang masa depan yang lebih baik. Masa depan yang lebih baik antara dua orang yang berseteru dan berselisih paham. Masa depan yang lebih baik untuk banyak orang yang telah merasa dirugikan. Masa depan yang lebih baik untuk harapan tentan penegakan keadilan dan pembelaan kebenaran. Masa depan yang lebih baik untuk kemanusiaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata maaf, melibatkan dua komponen vital yang sangat besar. Pertama, tentang rasa bersalah dan niat memperbaiki keadaan. Kedua, ikhlas membuka pintu maaf dan juga memperbaiki keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai urutannya, tentu saja yang pertama menempati posisi yang sangat krusial. Ketika kita sudah menyadari kesalahan dan berniat memperbaiki keadaan, mari kita tanyakan pada diri sendiri. Seberapa serius kah permintaan maaf yang sudah kita lakukan? Saya mohon maaf jika tulisan ini memiliki banyak kesalahan. I’m deeply sorry. Ana asif jiddan. Semoga dibukakan pintu maaf yang paling lebar.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-9009870926335517728?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/9009870926335517728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/meminta-maaf-dengan-sangat-serius-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/9009870926335517728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/9009870926335517728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/meminta-maaf-dengan-sangat-serius-oleh.html' title='Meminta Maaf Dengan Sangat Serius (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S8fPp2zgsvI/AAAAAAAAA1o/qJteqxLFPXY/s72-c/buka_lah_pintu_maaf_mukompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-1942994225789716622</id><published>2010-04-06T04:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T04:24:53.450-07:00</updated><title type='text'>Keberpihakan Seorang Pemimpin (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7sZ1Z4IjkI/AAAAAAAAA04/8cw__ydpY6A/s1600/palu-hamik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7sZ1Z4IjkI/AAAAAAAAA04/8cw__ydpY6A/s320/palu-hamik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456983778759577154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, dalam sebuah perjalanan, Rasulullah memisahkan diri dari rombongan untuk menunaikan satu keperluan. Ketika ditinggal itulah, salah seorang sahabat melihat seekor burung kecil dengan dua ekor anaknya yang berada di sarang. Kemudian dia mengambil kedua anak burung tersebut. Sampai-sampai sang induk kebingungan mencari dan terbang berputar-putar di atas sarang.    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah datang, beliau melihat burung tersebut dan berkata, ”Siapa yang telah mengganggu burung ini dan mengambil anaknya? Kembalikan anaknya!” Rasulullah memerintahkan dengan tegas, siapapun yang mengambil untuk segera mengambalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, betapa detilnya pandangan Rasulullah. Selalu jeli melihat sekelilingnya, dan bahkan menangkap pesan yang sangat sulit untuk diterjemahkan manusia. Perhatian beliau, bukan saja pada manusia dan kehidupan sosial umat Islam, sampai-sampai kebingungan seekor burung pun tertangkap oleh radar Rasulullah yang memang sangat terasah dan tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di saat yang lain, Rasulullah dengan nada marah bertanya pada sahabat saat mendapat sarang semut yang dibakar. ”Siapa yang membakar sarang semut ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang sahabat berdiri dan mengakui, ”Saya, ya Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menunjukan perasaan marah yang besar dan sangat tidak senang. ”Tidak ada yang berhak menyiksa makhluk dengan api selain Penguasa api,” kata Rasulullah dengan nada marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi akhir zaman, manusia mulia pilihan memberikan sikap pembelaan pada semut. Beliau marah ketika sarang semut yang menjadi rumah dan tempat bernaung, tempat berhimpun koloni-koloni binatang yang sering dianggap remeh dibakar. Bahkan kata-kata yang dipilih beliau sangat tajam, ”Tidak ada yang berhak menyiksa makhluk dengan api kecuali Penguasa api.” Yang dimaksud Penguasa api tentu saja Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semut saja mendapatkan pembelaan demikian rupa, pasti juga sikap dan pembelaan kepada orang lemah, kepada mereka yang dipinggirkan, kepada mereka yang tak dianggap dan diremehkan juga sangat besar. Rasulullah mendapatkan julukan nabinya orang-orang lemah, karena pembelaan yang beliau berikan kepada kaum yang tak terbela. Dan kaum yang tak terbela, tentu merasa sangat mulia ketika yang membela mereka adalah manusia yang paling mulia. Allahu akbar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan ditegakkan, sikap membela yang lemah dan terpinggirkan selalu dikedepankan, dan peka terhadap semua penindasan. Kerinduan pada pemimpin seperti ini nyaris dimiliki oleh seluruh manusia di zaman sekarang. Mereka rindu pada pemimpin yang tak perlu dikawal dan mudah didatangi. Mereka berharap betul pada pemimpin yang membuka tangan dan bukan pemimpin yang main tangan. Andai saja ada pemimpin yang sejenak mau merasakan, betapa tak nyamannya macet di jalanan. Tak perlu mobil bersirene yang menghentikan jalan, agar sang pemimpin bisa mengebut dengan alasan menunaikan urusan kenegaraan. Andai saja pemimpin itu tahu, ada banyak orang yang berdoa ketika mobil dan lalu lintas terhenti karena seorang pemimpin akan melintas tanpa pernah tahu kondisi yang dilalui. Dan semoga saja doa mereka baik semua. Tapi bagaimana jika sebaliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berkait dengan binatang, dalam tulisan ini saya mengumpulkan beberapa contoh dan perilaku Rasulullah yang begitu peka terhadap binatang, yang justru sering tak dimiliki oleh manusia zaman sekarang. Manusia saja sering dianggap binatang, apatah lagi yang binatang sungguhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, beliau melihat dua orang laki-laki sedang bercengkerama dari atas punggung unta yang dinaiki keduanya. Rasulullah saw menaruh rasa iba pada unta-unta tunggangan mereka. Kemudian beliau melarang dan berkata, ”Janganlah kalian jadikan kursi hewan tunggangan kalian.” Artinya, hewan tunggangan haruslah digunakan sesuai keperluan, bukan untuk yang demikian. Jika hajat yang memerlukan bantuan seekor binatang sudah tertunaikan dan tidak lagi dibutuhkan, maka kita sebaiknya turun dari punggung hewan tunggangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7sZ7-XG5zI/AAAAAAAAA1A/zphREsu2B18/s1600/hertwg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7sZ7-XG5zI/AAAAAAAAA1A/zphREsu2B18/s200/hertwg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456983891632383794" /&gt;&lt;/a&gt;Tentu saja perasaan peka tak datang dengan sendirinya. Perasaan itu perlu diasah. Dan pasti, pembelaan terhadap yang lemah tak dengan tiba-tiba terjadi pada diri seorang pemimpin. Sikap itu perlu ditempa. Apatah lagi, sikap membela yang lemah selalu melahirkan risiko yang tak pernah ringan bobotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan, akan mengantarkan kita pada keberpihakan, dan keberpihakan selalu melahirkan sikap pembelaan, meski dengan cara yang paling ringan. Saya selalu berdoa agar mendapat dan dipimpin oleh para pemimpin yang peka jiwanya, halus budi pekertinya, pandai pemikirannya, bijak sikapnya dan juga mampu menjaga lidah. Saya juga selalu berdoa, agar Allah senantiasa mengaruniakan pemimpin yang berpihak pada yang lemah, bukan sebaliknya. Dan saya selalu berdoa, agar para pemimpin selalu diberi hidayah agar mampu memberikan pembelaan yang sempurna pada semua hal yang memang perlu dibela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi kita dari para pemimpin yang jahil, apalagi mampu mendatangkan mudharat bagi yang dipimpin. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemimpin, yang lidah dan pemikirannya menyeret orang-orang yang dipimpin pada lubang-lubang pembawa binasa. Dan semoga bangsa ini, mampu belajar untuk memilih pemimpin, untuk kemudian berusaha melahirkan para pemimpin, membesarkan para pemimpin dan mendidik para pemimpin yang mengajak kita pada hidup mulia. Amin.    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-1942994225789716622?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/1942994225789716622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/keberpihakan-seorang-pemimpin-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1942994225789716622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1942994225789716622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/04/keberpihakan-seorang-pemimpin-oleh.html' title='Keberpihakan Seorang Pemimpin (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7sZ1Z4IjkI/AAAAAAAAA04/8cw__ydpY6A/s72-c/palu-hamik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-2246765580951165861</id><published>2010-03-30T03:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-30T03:16:33.339-07:00</updated><title type='text'>Pertanyaan untuk Tuan Presiden (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7HPBXruF2I/AAAAAAAAAyQ/3lUA3-lE4Vs/s1600/PelantikanDPR011009-3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7HPBXruF2I/AAAAAAAAAyQ/3lUA3-lE4Vs/s320/PelantikanDPR011009-3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454368246166591330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang malang! Setiap orang berebut untuk mengambil keuntungan. Selagi sempat, selagi luang dan punya jabatan. Kalau dulu ada istilah Indonesia for Sale, lalu seiring waktu sebutan berubah, Indonesia for Steal dan saya percaya hari ini sudah berubah lagi menjadi Indonesia for Grab. Setelah Indonesia untuk dijual, lalu Indonesia untuk dicuri, kini Indonesia untuk dirampas, dibawa lari, dan menghilang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya untuk Tuan Presiden, apakah Anda bisa tidur di malam hari? Memikirkan semua yang terjadi. Ada pegawai Anda, yang hanya golongan III, mampu mengumpulkan uang selama bertahun-tahun, berpuluh milyar jumlahnya, untuk memperkaya diri dan keluarga. Apakah Anda bisa tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya golongan III, Tuan Presiden. Saya tidak ingin berburuk sangka, karena memang sejak kecil kami diajari untuk berbaik sangka. Tapi, untuk kali ini saya terpaksa bertanya, apakah Anda bisa tidur Tuan Presiden, memikirkan golongan-golongan lain yang lebih tinggi dari golongan III. Apakah mereka lebih kaya dari Gayus Tambunan? Ataukah mereka lebih jujur dari Gayus Tambunan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Tuan Presiden. Apakah Anda bisa tidur memikirkan siapa-siapa orang-orang yang mengeliling Anda, bekerja bersama Anda, dan membantu Anda? Kalau Anda bisa tidur, syukurlah. Karena seharusnya Anda tidak bisa tidur dengan itu semua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya kisah untuk Anda, Tuan Presiden yang mulia. Dulu sekali, dalam sejarah ada seorang raja bernama Umar bin Abdul Aziz. Ini bukan hanya sekadar kisah, tapi ini contoh dan peristiwa yang pernah terjadi sesungguhnya. Dia, Umar bin Abdul Aziz, memerintah hanya sebentar saja. Pada saat diangkat sumpah, dia berjanji, ”Demi Allah aku akan menegakkan keadilan di bumi ini meski usia jabatanku hanya tiga hari saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betul, dia tidak lama, meski juga tidak tiga hari. Kurang lebih ia berkuasa hampir tiga tahun. Tapi yang pasti, dia sungguh-sungguh menegakkan keadilan. Saya ingin mengingatkan, Tuan Presiden, kini Anda sudah berkuasa untuk penggal lima tahun yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kepemimpinan yang diwarisinya, bukan situasi nyaman dan penuh suka cita. Dia mewarisi suasana yang tak kalah chaotic dengan situasi yang Anda alami saat ini, Tuan Presiden. Tapi dia bersungguh-sungguh dengan sumpah dan janji yang diucapkannya, ”Aku akan menegakkan keadilan di muka bumi, meski usia jabatanku hanya tiga hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meminta istrinya untuk menyerahkan seluruh harta pribadi yang dimiliki. Dia mematikan lampu pada saat berbincang dengan sanak keluarga, karena minyak yang dipakai milik negara. Dia memikul sendiri bantuan-bantuan yang diberikan, untuk teladan sempurna. Itu kisah yang sudah biasa kita dengar tentang Presiden Umar bin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak sering kita dengar, Tuan Presiden, Umar bin Abdul Aziz menebus janjinya sendiri dengan satu-satunya nyawa yang dia punya. Dia jarang tidur untuk memikirkan negara dan rakyatnya. Bahkan ketika dia sedang penat berat, dan hendak terlelap. Pernah suatu ketika, seorang anaknya mengadukan urusan negara pada Umar bin Abdul Aziz. Lalu kata sang presiden, ia meminta anaknya menemuinya lagi setelah ia istirahat sebentar. Lalu sang anak menjawab, ”Siapa yang menjaminmu akan bangun dan hidup untuk menyelesaikan masalah ini?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu Tuan Presiden? Umar bin Abdul Aziz begitu terpukul dengan kalimat ini. Dia merasa, lalai dan tak tahu diri. Siapa dia yang merasa yakin akan bangun dan masih bernyawa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah kekuasaannya membentang luas, dari seluruh jazirah Arabia, Syam ( Palestina, Yordania, Syria ), Persia ( Iran, Irak dan sekitarnya ), Afrika Utara, seluruh semenanjung Iberia ( Spanyol dan Portugal) bahkan hingga ke Sisilia (kepulauan di Laut Tengah,sekarang milik Italia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan Anda juga sangat luas, Tuan Presiden. Seluruh pulau di Indonesia, lebih dari 16 ribu jumlahnya. Membentang panjang dengan hampir 300 juta penduduknya. Jadi pertanyaan saya, apakah Anda masih bisa tidur Tuan Presiden?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz, duduk sebagai Amirul Mukminin hanya dalam kurun waktu 2 tahun, 5 bulan, dan 5 hari. Ia menjadi pemimpin pada saat usianya 36 tahun. Usia puncak bagi seorang manusia. Sehat, bertenaga, kuat, bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7HPPmuWh_I/AAAAAAAAAyY/CrTf6OSS1hM/s1600/hertwg.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7HPPmuWh_I/AAAAAAAAAyY/CrTf6OSS1hM/s200/hertwg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5454368490722330610" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam kurun waktu 2 tahun, 5 bulan, dan 5 hari itu, dia berhasil membuat perubahan besar dalam tata pemerintahan. Tidak ada lagi kemiskinan, Tuan Presiden. Tidak ada lagi orang yang layak menerima zakat. Bahkan harta zakat bertumpuk menggunung, malah perlu diiklankan untuk siapa saja yang mau menerima, semisal seorang pemuda yang tak mampu menikah akan dinikahkan oleh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahannya, sumur-sumur diperbaiki, lahan-lahan mati dihidupkan kembali, tanah sangat produktif, masjid-masjid juga disemarakkan oleh berbagai rencana dan rancangan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga yakin, Tuan Presiden, Anda melakukannya juga. Saya yakin, tentang jenisnya, tapi saya tidak yakin tentang ukuran dan intensitasnya. Karena itu, pertanyaan saya adalah, masih bisakah Anda tidur, Tuan Presiden?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz, meninggal dalam usia muda, Tuan Presiden. Di akhir usianya, dia sakit-sakitan. Badannya dulu yang muda dan gagah ketika naik tahta, menjadi kurus, kering dan hampir tak bertenaga. Dan itulah yang dia tebus dalam rangka menegakkan keadilan, mensejahterahkan rakyat, memakmurkan negeri dan memuliakan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang lupa mengkajinya, Tuan Presiden. Bahwa Umar bin Abdul Aziz menderita kesakitan yang luar biasa hebat sebagai tebusan kemakmuran dan kemuliaan atas tanah dan manusia yang dipimpinnya. Dia telah memberikan seluruh nyawanya untuk memimpin negara. Dia memberikan seluruh raganya untuk memimpin negara. Dia memberikan seluruh tenaganya untuk memimpin negara. Dia memberikan seluruh kemampuannya untuk memimpin negara. Bahkan dia telah menukar waktunya untuk istirahat demi memimpin negara. Karena itu semua, namanya masih kita bicarakan ratusan tahun setelah dia dikuburkan. Terima kasih, Tuan Presiden, mudah-mudahan Anda membaca tulisan pendek ini sebagai tanda rindu pada pemimpin yang tidak dikelilingi Gayus-gayus dengan beribu wajah!  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-2246765580951165861?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/2246765580951165861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/03/pertanyaan-untuk-tuan-presiden-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/2246765580951165861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/2246765580951165861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/03/pertanyaan-untuk-tuan-presiden-oleh.html' title='Pertanyaan untuk Tuan Presiden (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S7HPBXruF2I/AAAAAAAAAyQ/3lUA3-lE4Vs/s72-c/PelantikanDPR011009-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-5578520249110501609</id><published>2010-03-22T03:00:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T03:55:26.754-07:00</updated><title type='text'>Dunia Media yang Berubah: Koran, Internet dan Perilaku Manusia (Oleh Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S6c_8n0MZII/AAAAAAAAAv4/KtKPWfrQkTg/s1600-h/12310_1406703569104_1277874140_1173685_3031976_a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S6c_8n0MZII/AAAAAAAAAv4/KtKPWfrQkTg/s320/12310_1406703569104_1277874140_1173685_3031976_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451396184667874434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social media berkembang pesat dengan segala konsekuensinya. Pada titik tertentu, ada banyak pihak yang diuntungkan. Tapi, ada banyak sisi yang akan dibunuh dengan kejam. Salah satunya media konvensional, koran dan majalah yang tak siap menyambut perubahan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memasuki Newseum dan memulai tour di lantai atas tingkat enam, pemandangan pertama yang disajikan pada para pengunjung musium berita di Washington DC ini adalah front page atau cover depan media massa dari seluruh dunia yang terbit hari itu. Setiap hari, display di ruangan ini berubah, menyesuaikan front page yang dikirim dari seluruh dunia yang dianggap menarik untuk di pajang di dinding musium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Indonesia, hanya satu front page yang dikirim ke Newseum, Media Indonesia. Padahal kita memiliki tak kurang dari 20 koran yang terbit dan beredar secara nasional. Ada halaman depan koran dari Brunei, sampai Burundi dari Kairo sampai Kuba. Pada hari ahad lalu (14/03), front page yang diterima oleh Newseum sebanyak 589 cover depan koran dari 56 negara dari seluruh dunia. Newseum adalah sebuah musium modern di tengah kota Washington yang menghimpun tentang sejarah pers dan media dari seluruh dunia, wabil khusus Amerika. Mulai dari mesin ketik, sampai dengan foto-foto jurnalis yang meninggal dari seluruh dunia, terhimpun di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar gedung, salju mulai turun. Seolah memberikan empati pada masa depan koran cetak yang kian hari kian menurun dengan pasti. Pemandangan di dalam Newseum, di dinding front page yang menggambarkan masa-masa kegemilangan koran cetak, bisa jadi akan segera berakhir. Karena internet dengan social media yang berkembang seperti facebook, youtube, twitter, flickr, blogspot, wordpress dan berbagai media sosial lainnya telah memberikan pukulan telak pada industri media konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri ini sedang terhuyung-huyung di dalam ring tinju, menjelang dikanvaskan oleh ciptaan yang mereka besarkan sendiri: internet! “Jika Anda punya jalan keluar untuk mengatasi masalah ini, jual saja pada Rupert Murdoch. Anda bisa jadi orang kaya,” kata Gene Mater, International Program Manager Freedom Forum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pertemuan dengan Gene Mater, lelaki berusia lebih dari 60 tahun dan sudah sangat matang di dunia media ini membahas tentang masalah jaminan kebebasan informasi. Dalam program belajar Investigative Reporting untuk beberapa wartawan Indonesia dalam International Visitor Leadership Program. Di beberapa negara berkembang, kebebasan informasi sering tertabrak oleh pengekangan, kekuasaan dan regulasi tiran. Tapi menurutnya, ada tantangan yang lebih berkuasa dari regulasi tiran untuk membungkam, bahkan membunuh media dan itu adalah peralihan publik pembaca ke media internet yang kian tak terbendung kesaktiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini yang disebut dengan nama creative destruction. Kreativitas yang kita ciptakan sendiri, kita kembangkan, kita besarkan, lalu secara pasti akan membunuh kita pada akhirnya. Saya tidak banyak menggunakan internet, sejujurnya saya tak terlalu pandai menggunakan komputer. Tapi saya paham betul tantangan yang muncul dari keduanya pada industri media konvensional,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ada sebuah media besar di Amerika Serikat yang tadinya memuat motto news and education, salah satu alasannya karena media ini bergerak di dua bidang bisnis; lembaga pendidikan dan kantor berita. Tapi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, lini pendidikan lebih banyak memberikan untung. Sedangkan media, justru menampakkan kecenderungan turun. Karena itu, kabar terakhir motto berita dihilangkan dalam tagline dan diganti hanya dengan kata pendidikan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Giant Killers&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihampir semua tempat, di banyak media yang kami kunjungi, keluhan yang sama muncul ke permukaan. Bahkan, koran sekelas The New York Times mengumumkan dalam waktu dekat akan mengutip pembayaran dari divisi online yang mereka miliki. Tapi belum tahu bagaimana caranya dan berapa besarnya. Kantor berita CNN, yang berbasis gambar dan langganan kabel, juga mendapatkan dampak yang sama dari internet lewat social media dan juga jutaan blog yang tersebar di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the near future, you don’t need to find the news. The news will find you. Itulah yang terjadi, tidak lama lagi bukan kita yang mencari berita tapi berita yang akan menemukan kita di manapun kita berada. Dalam kadar tertentu, semua ini sudah terjadi dengan fenomena facebook, twitter, youtube, flicker, myspace, skype, bebo, digg dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diinternet kita bisa mendapatkan semuanya dengan lebih cepat, interaktif dan sesuai kebutuhan kita dengan gratis, mengapa kita perlu bayar untuk membeli koran cetak dan harian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dengan nama besar Washington Post yang memiliki reputasi tersendiri dalam investigative journalism, tak mampu membalikkan situasi. Sampai hari ini, dalam dunia jurnalistik, terutama yang mendalami bidang investigasi, nama Washington Post masih menjadi semacam legenda. Dengan dua jurnalisnya, Bob Woodward dan Carl Bernstein yang menurunkan sebuah laporan tentang Watergate mampu berdampak pada mundurnya Presiden Amerika, Richard Nixon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kondisi yang sulit juga kami hadapi di sini, tak ada yang tak terdampak dengan kekuatan internet yang kita besarkan sendiri,” ujar Jeef Leen, Assistant Maganing Editor Investigations Washington Post. Jurnalisme investigasi yang kerap dianggap sebagai mahkota dunia pers, tak sanggup menolong kondisi yang terus memburuk juga bagi Washington Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Washington Post kami mempelajari dan mengajukan berbagai pertanyaan tentang investigasi. Mulai dari teknik mengajukan pertanyaan, mencari deep throut, memperoleh data yang dibutuhkan, melakukan pendekatan kepada sumber-sumber yang diperlukan serta berbagai keahlian investigatif lainnya. Tapi tetap saja, selain subyek tersebut, pembicaraan tentang masa depan jurnalis yang bekerja diranah cetak menjadi topik yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak korban berjatuhan dan tak sedikit wartawan yang sudah menjadi jobless di Amerika karena perkembangan ini semua. Dalam hitungan waktu kurang dari 20 tahun, Internet sudah menjadi the giant killer bagi dunia media yang sudah eksis beratus-ratus tahun. Bahkan kini muncul gejala baru untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Sedang dirintis semacam Donations Journalism untuk mempertahankan eksistensi media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua karena pendapatan berdasarkan penjualan oplagh dan juga pemasangan pasar iklan terus menurun. Andrew Davis, President American Press Institute kepada kami menjelaskan dengan detil apa sesungguhnya problem yang sedang dihadapi dunia pers konvensional hari ini. American Press Institute adalah semua lembaga yang didanai oleh berbagai media di Amerika Serikat, dan juga filantropi perorangan untuk meneliti dan menemukan resolusi bagi dunia media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat iklan misalnya, setiap tahun menurut data American Press Institute selalu menunjukkan trend menurun. Total print advertising revenue tahun 2000 di Amerika menunjukkan angka, $ 48,7 milyar. Lima tahun setelah itu, tepatnya akhir tahun 2007 angka dolar yang dibelanjakan untuk pemasangan iklan cetak di media Amerika menjadi $ 42,2 milyar. Dan tahun 2008, belanja iklan yang dibukukan hanya sekitar $ 34,7 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia memang sedang berubah,” katanya. Termasuk tradisi dan cara orang mencari serta menyajikan berita. Dulu, editor dan wartawan yang memilih berita. Sekarang, dengan internet dan social media, konsumen sendiri yang menentukan berita apa yang diperlukan dan yang ingin mereka baca. Bahkan, sebagian besar dari mereka membuat berita sendiri tentang berbagai peristiwa dengan blog dan situs-situs yang jumlahnya lebih dari 200.000.000. Dulu komunitas dikategorikan secara demografis, sekarang pembaca dikategorikan berdasarkan definisi virtual yang selalu berkembang. Dulu hanya ada satu sumber untuk informasi. Tapi kini, berita datang berbagai sumber, bahkan dalam beberapa kasus tertentu datang langsung dari sumber berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada fakta-fakta menarik tentang social media seperti facebook, twitter, youtube, bebo, digg, myspace dan yang lainnya dalam pengaruhnya pada kehidupan manusia modern yang tak bisa dipisahkan internet. Lihat saja, delapan pasangan yang menikah di Amerika, satu di antaranya menemukan pasangannya lewat social media. Radio, perlu waktu 38tahun untuk meraih 50 juta pendengarnya, televisi perlu waktu 13 tahun untuk merebut pemirsa, internet hanya perlu waktu empat tahun saja untuk menggaet 50 juta orang pengguna. IPOD malah lebih sadis lagi, tiga tahun saja. Sementara facebook, hanya dalam waktu sembilan bulan telah mendaftar 100 juta manusia dari seluruh dunia sebagai anggotanya. Bahkan, jika facebook dicatat sebagai negara, situs ini menempati urutan ketiga dengan jumlah penduduk terbesar di dunia setelah setelah Cina dan India. Indonesia berada di urutan keempat, pengguna facebook jauh lebih banyak dari seluruh penduduk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Youtube sudah menjadi semacam universitas maya tempat banyak orang belajar banyak hal. University of Youtube. Mulai dari memasak, main gitar, mengirit kartu kredit sampai urusan ranjang dan kampanye pemilihan. Tentu saja, masih banyak hal negatif yang ada di luar sana, tapi hal yang positif juga tak terhitung jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, twitter menjadi demam baru yang tak kunjung reda gejalanya. Followers Ashton Kutcher dan Ellen DeGeneres di twitter bahkan melebihi populasi penduduk Irlandia, Norwegia dan Panama. Coba saja bayangkan, penggemar seorang bintang bisa mengalahkan jumlah penduduk sebuah negara berkat social media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Wikipedia telah menjadi eksiklopedia raksasa yang masih akan terus bertambah besar jumlah artikelnya, mengalahkan ensiklopedi Americana, Britania, Encarta dan ensiklopedia konvensional lainnya. Wiki diambil dari bahasa Hawaii yang berarti cepat. Kini telah menampung lebih dari 13 juta artikel tentang banyak hal. Bahkan menurut salah satu studi, Wikipedia malah lebih akurat dibandingkan Britannica. Sebanyak 78% artikelnya tidak ditulis dalam bahasa Inggris, artinya ini adalah ensiklopedia paling kaya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merebut Hati Pembaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, media Amerika belum sembuh benar dari luka-luka kredibilitas yang terjadi akibat Perang Afghanistan atau Perang Irak. Besar atau kecil, media dilihat oleh publik Amerika turut terlibat dalam terjadinya perang, terutama di Irak. Pidato Menteri Pertahanan Amerika di zaman George Bush, Collin Powell di depan sidang umum PBB tentang senjata pemusnah massal yang dimiliki Irak, telah mendorong terjadinya perang. Dengan tertatih-tatih, media mulai membangun reputasinya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua orang sedang berlomba dengan waktu, sekarang. Tak ada banyak waktu yang tersisa, internet dan social media berkembang dengan pesatnya. Jika sudah terjadi di Amerika Serikat, dalam waktu yang tak akan lama lagi juga akan terjadi di Indonesia. Dunia sudah tanpa batas, sekarang. Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian-kejadian, baik yang negatif maupun yang positif, harus kita ambil hikmah dan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat pembaca semakin pintar, dan tak bisa lagi didikte oleh editor, redaktur, bahkan wartawan atau penulis-penulis yang tidak memegang teguh nilai-nilai mulia yang menjadi common value bersama pembaca. Pembaca dengan sangat kejam akan meninggalkan media. Sementara pengelola media masih ternina-bobokan oleh fakta-fakta kusam tentang pembaca fanatik yang telah berhasil dibangunnya bertahun-tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setuju, sesungguhnya sudah tak ada lagi pembaca fanatik hari ini, begitu juga tak ada pendengar atau pemirsa fanatik. Pembaca, pendengar atau pemirsa, dengan sangat mudah akan meninggalkan media di depan mereka. Satu-satunya jaminan yang mampu menyita hati pembaca, setidaknya untuk sementara adalah, kualitas dan karakter media yang berpihak pada kebenaran dan kebaikan. Selamanya, pembaca akan mencari tahu tentang kebenaran dan kebaikan, meski itupun sudah sangat relatif sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua yang siap selalu akan menjadi yang bisa selamat. Sebab, hukum alam selalu sama. Tantangan bisa berarti krisis bagi seseorang, tapi bagi orang lain justru menjadi peluang. Kita yang mana?    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-5578520249110501609?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/5578520249110501609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/03/dunia-media-yang-berubah-koran-internet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5578520249110501609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5578520249110501609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/03/dunia-media-yang-berubah-koran-internet.html' title='Dunia Media yang Berubah: Koran, Internet dan Perilaku Manusia (Oleh Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S6c_8n0MZII/AAAAAAAAAv4/KtKPWfrQkTg/s72-c/12310_1406703569104_1277874140_1173685_3031976_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-542372745732544617</id><published>2010-03-15T09:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T09:44:50.224-07:00</updated><title type='text'>Membunuh Itu Mudah! (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S55j394cPiI/AAAAAAAAAvI/c0pcD8red0I/s1600-h/belati.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 282px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S55j394cPiI/AAAAAAAAAvI/c0pcD8red0I/s320/belati.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448902412320128546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, membunuh itu mudah. Menyalahkan orang lain juga tak kalah gampangnya. Tapi menjaga kehidupan, dan membetulkan sesuatu yang dianggap salah, jauh lebih berat daripada menanggung beban seluruh dunia. Dan itulah seharusnya tanggung jawab yang kita pikul, dan bukan kita campakkan dengan cara yang paling keji. Membunuh dan menyalahkan dunia!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah sebuah protes, tentang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi atas nama penegakan hukum. Juga untuk orang-orang yang menjadi korban kekerasan atas nama apapun.  Sungguh, kematian yang zalim tak layak bagi siapapun. Termasuk orang-orang yang dipersalahkan dengan label terorisme atau pembuat keonaran. Karena lingakaran pembunuhan atas nama penegakan hukum ini terus berulang, maka protes harus diserukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita urut satu persatu, siapa saja yang telah mati diujung senapan atau ditembus peluru. Pertama sekali, DR Azahari yang tewas, konon, dengan cara meledakkan diri di dalam rumah yang penuh dengan bahan peledak di Batu, Malang. Lalu, urutan-urutan daftar semakin panjang. Kemudian, setelah Dr Azahari perburuan semakin gencar, konon mencari Noordin M Top yang menjadi biang dari segala ketakutan. Korban tewas lainnya adalah, Ibrohim pasca peristiwa Bom Ritz Carlton. Peristiwa tewasnya Ibrohim sangat dramatis. Dikepung lebih dari 10 jam, dengan pasukan tempur lengkap, robot pengintai, bukit dan tanah lapang penuh dengan aparat keamanan. Hanya untuk menangani satu orang. Hasil akhirnya, nyawa Ibrohim melayang, setelah seluruh rakyat Indonesia menontonnya di siaran langsung layar kaca. Sampai di titik ini, Noordin belum lagi jelas di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar korban penembakan Densus 88 semakin panjang.  Ada Urwah dan Air Setiawan, yang didor di Jatiasih, Bekasi. Dari cerita yang digelar, keduanya melakukan perlawanan dan aparat keamanan terpaksa membuat nyawa mereka melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datanglah hari besar itu, Noordin M Top digerebek di Solo. Kali ini tanpa drama pengepungan yang disiarkan live oleh televisi swasta yang akrab sekali dengan berita-berita Densus 88. Cerita yang sering dibangun tentang Noordin adalah, sosok yang licin, cerdik dengan penciuman tajam bau aparat keamanan. Kemana-mana ia akan selalu memakai rompi lengkap dengan bahan peledak, untuk berjaga-jaga, agar dia tak ditangkap hidup-hidup. Tapi kisahnya berakhir tidak dengan ledakan rompi peluru atau yang lainnya, Noordin M Top yang diburu selama lebih dari delapan tahun tewas tertembus peluru anggota Densus 88.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah selesai setelah Noordin tak bernyawa? Tidak sama sekali, bahkan hingga kini, terus muncul nama lama yang dihidupkan lagi, atau nama baru yang dibangun dengan cerita gagah disekelilingnya. Nama baru yang muncul adalah Saifuddin Zuhri dan saudara kandungnya, Jailani. Dua lelaki bersaudara yang juga meregang nyawa diujung peluru Densus 88.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah berbulan-bulan isu terorisme mereda, dan masalah Bank Century tengah berada di titik didih dan puncak perhatian rakyat Indonesia, Densus 88 muncul kembali dengan berita teroris sedang menggalang kekuatan besar di Aceh Besar. Bahkan pengamat intelijen dan masalah terorisme, dengan gagah dan sok tahu bercerita, “Mereka sedang membangun kekuatan dan berencana melakukan pembajakan kapal di Selat Malaka, terinspirasi oleh mereka yang beroperasi di Teluk Eden, Somalia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, Dulmatin alias Joko Pitono alias Yahya Ibrahim alias Amar Usman tewas tertembus peluru di sebuah booth warnet di Pamulang, Tangerang Selatan. Dua pengawalnya, juga tertembak di tempat lain, Ridwan dan Hassan Noer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita horor terorisme seolah diperpanjang episodenya, dan kalau bisa terus dikembangkan skenarionya. Dengan kisah pembajakan di Selat Malaka, tidakkah mereka yang menuturkan berpikir panjang. Setelah kelompok Ibrohim, Noordin M Top, Saifuddin Zuhri dan Jailani dipangkas bersih, jika pun masih ada, sisa-sisa yang tersisa pasti tertatih-tatih memperbaiki system dan sel-sel mereka. Dengan membentuk kelompok pembajak, yang bergerak di laut, tentu bukan urusan sederhana. Perlu dana yang sangat besar, perlu peralatan yang advance, lebih dari sekadar gotri dan bubuk hitam. Untuk menjadi pembajak di Selat Malaka, perlu heavy sophisticated equipment. Apakah tidak terpikirkan tentang hal ini oleh para pembuat teori kemungkinan terorisme, yang sering tampak gagah di televisi tapi ternyata keterangannya tak lebih hanya bocoran dari BAP polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lelah dengan semua ini, sampai kapan terorisme? Sampai kapan pembunuhan atas nama penegakan hukum dan upaya pengamanan terus dilakukan? Tak ada yang layak mati! Siapapun itu, pelaku kekerasan atau korban kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang layak mati, siapapun itu. Mereka yang disebut sebagai teroris, tak layak mati dibunuh dengan cara seperti yang telah kita saksikan bersama. Mereka yang menjadi korban, dan akan menjadi korban tindak kekerasan, bom atau apapun, juga tak layak mati! Sekali lagi, tak ada yang layak mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, drama terorisme masih menyisakan dua nama lagi untuk memperpanjang cerita. Ada Hambali yang sangat misterius dan lepas bahkan setelah dihandover pada kekuatan seperti Amerika Serikat. Ada pula Umar Patek, yang konon disebutkan tak pernah berpisah dengan Dulmatin alias Joko Pitono alias Yahya Ibrahim alias Amar Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S55j7pFDwhI/AAAAAAAAAvQ/iCPS0booSPU/s1600-h/herrynurdi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 167px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S55j7pFDwhI/AAAAAAAAAvQ/iCPS0booSPU/s200/herrynurdi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448902475455382034" /&gt;&lt;/a&gt;Membunuh itu mudah, sungguh! Manusia ini secara fisik hanya terdiri dari daging, tulang dan cairan. Sebutir peluru akan dengan segera mengakhiri semua denyut jantung, dan menumpahkan darah. Tapi ideologi, paham dan pemikiran, tak akan pernah mati oleh senjata pemusnah massal sekalipun. Menjaga kehidupan tetap berlangsung, agar kita mampu berada dalam situasi dialog, meski dengan kondisi yang tidak nyaman, akan memberi kemungkinan kebaikan jauh lebih besar dari pada pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang sering disebut sebagai teroris, mereka yang sering disebut sebagai pecinta kekerasan ini, bukan manusia yang tak bisa diajak bicara untuk mendiskusikan kebenaran. Tapi pertanyaannya, mungkinkah mereka yang berdiri dengan seragam, memegang senjata resmi dengan izin dari negara, memberi peluang agar sama-sama membicarakan kebenaran? Kita sering mengembangkan pertanyaan tentang saudara-saudara yang mendapat predikat sebagai teroris ini. Siapakah mereka? Dan bagaimana mungkin mereka menjadi mereka seperti sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ada pertanyaan yang juga tak kalah pentingnya, yang harus kita ajukan juga pada diri kita sendiri. Siapakah kita ini? Dan bagaimana mungkin mereka terlahir dan membesar seperti sekarang ini? Apa yang sudah kita sumbangkan sehingga semua ini terjadi? Kita sering mengajukan pertanyaan tentang mereka, tapi tak sekalipun mengajukan pertanyaan tentang kita. Lalu dengan mudah kita menyelesaikan masalah dengan membunuh mereka. Betapa tidak adilnya kita!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-542372745732544617?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/542372745732544617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/03/membunuh-itu-mudah-oleh-herry-nurdi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/542372745732544617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/542372745732544617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/03/membunuh-itu-mudah-oleh-herry-nurdi.html' title='Membunuh Itu Mudah! (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S55j394cPiI/AAAAAAAAAvI/c0pcD8red0I/s72-c/belati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-5758664050021535638</id><published>2010-02-27T00:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T00:24:56.634-08:00</updated><title type='text'>Shaf-Shaf yang Terurai (Oleh : Muhammar Khadevi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4jW0ZM2CYI/AAAAAAAAAqg/ALZS4ddA7zs/s1600-h/qadha.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4jW0ZM2CYI/AAAAAAAAAqg/ALZS4ddA7zs/s320/qadha.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442836345283545474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memarkirkan motornya, Lie berjalan tenang menuju tempat berwudhu' di sebuah langgar. Sambil berwudhu', Lie mendengar suara iqomah dari ruang shalat. Dengan kata lain mungkin kali ini ia harus bermasbuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan ia tak tergesa menuju ruang shalat, lalu mendapati seorang makmum duduk di halaman tidak turut shalat dengan sang imam. Ia adalah Pak Suhail, 'pelanggan' rutin langgar itu. Maka merupakan sebuah pemandangan yang tidak biasa jika ia tidak ikut berjamaah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Lie pun menegurnya dengan salam lalu bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak shalat Pak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak mau bershalat dengan mereka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie pun tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihatlah Nak! Karpet untuk shalat telah diganti dengan yang baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie pun seketika menyadarinya dan memperhatikan karpet baru tersebut. Karpet itu mirip sajadah yang bersambungan, tidak seperti karpet lama yang hijau polos tak bermotif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihatlah! Tiap orang sudah punya kavling-kavlingnya sendiri. Lihatlah shaf-shaf mereka! Bahu-bahu dan ujung-ujung jari kaki mereka tak bersentuhan. Padahal sang imam telah mengisyaratkan untuk merapatkan shaf. Mereka seakan ego tak mengikuti suruhan sang imam. Mereka kira mereka sudah merapatkan barisan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie pun terdiam, menyepakati pernyataan Pak Suhail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sedih melihat kenyataan bahwa ini sama halnya apayangterjadi pada umat kita saat ini. Mereka berkelompok-kelompok dan ego dengan masing-masing kelompoknya sendiri. Silaturahim pun menjadi longgar. Tak rapat lagi. Tak bersentuhan lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie terhenyak dengan kesedihan Pak Suhail. Merinding ia membayangkan metafora tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah ini sebaiknya kita diskusikan dengan imam saja tentang hal itu. Namun sekarang saya jadi bingung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa bingung Nak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah saya ikut bershalat dengan mereka atau tidak sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie bisa saja ikut berjamaah merapatkan barisannya sendiri dengan jamaah terdekat. Namun ia memikirkan Pak Suhail yang tidak mendapatkan shalat berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak tetap tidak shalat dengan mereka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak akan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu saya masbuk dulu ya Pak? Saya coba dorong jamaah di belakang dari arah kanan supaya shaf rapat. Jika tidak berhasil dan bapak tetap tidak mau berjamaah dengan mereka. Tepuk bahu saya saja! Jadi bapak juga dapat bershalat berjamaah saat ini. Daripada shalat sendiri, pahala berjamaah khan lebih banyak." ajak Lie tersenyum lebar hingga gusinya terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Nak." jawab Pak Suhail sembari tersenyum pula.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-5758664050021535638?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/5758664050021535638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/shaf-shaf-yang-terurai-oleh-muhammar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5758664050021535638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5758664050021535638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/shaf-shaf-yang-terurai-oleh-muhammar.html' title='Shaf-Shaf yang Terurai (Oleh : Muhammar Khadevi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4jW0ZM2CYI/AAAAAAAAAqg/ALZS4ddA7zs/s72-c/qadha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-4769679506887133757</id><published>2010-02-26T05:51:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T06:13:39.152-08:00</updated><title type='text'>Arti Kata Sabar (Oleh : Yanuardi Syukur)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4fXCQkkQUI/AAAAAAAAAqY/w_Jeh00v7dI/s1600-h/sholat_jamaah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4fXCQkkQUI/AAAAAAAAAqY/w_Jeh00v7dI/s320/sholat_jamaah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442555108508582210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If you find a good wife, you'll be happy;&lt;br /&gt;if not, you'll become a philosopher” SOCRATES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sabar sudah sering sekali kita dengar, bahkan ada juga orang yang namanya Muhammad Sabar, Sabri, Shobur atau salah seorang kawan saya namanya Sabir yang dalam kesehariannya memang termasuk sabar. Untuk perkenalan lebih jauh tentang arti kata yang sering kita dengar namun agak berat juga dalam menjalankannya, marilah kita lihat penjelasan di bawah ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “sabar/as-shabru” yang telah diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia, awalnya dari Bahasa Arab. Mengutip dari beberapa sumber, Said bin Ali Wahf bin Wahf al-Qahthany dalam bukunya Indahnya Kesabaran, menjabarkan asal kata yang biasa kita dengar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar,“ tulis al-Qahthany, berarti al-hasbu (menahan) dan al-man’u (mencegah). Lawan kata dari keduanya adalah al-jaz’u (keluh kesah). Jika dikatakan: “shabara-shabran”, maka maksudnya adalah, “tegar dan tidak berkeluh kesah.” “Shabara” berarti: menunggu. Contoh lain, jika disebut: “shabara nafsahu”, dapat berarti, “menahan diri dan mengekangnya.” Kata “shabartu shabran” dapat diartikan, “aku menahan diriku dalam berkeluh kesah.” Puasa, atau “shaum” dalam Bahasa Arab, disebut juga dengan sabar karena di dalamnya mengandung makna menahan diri dari makanan, minuman dan berhubungan bagi suami-istri (jima’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari asal kata ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna dari kata sabar adalah mencegah dan menahan diri dari berkeluh kesah, menahan lisan dari mengeluh, dan menjaga anggota badan dari perbuatan mengamuk seperti menampar pipi, merobek saku baju, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar adalah kekuatan jiwa. Siapa yang bersabar, maka keadaan jiwanya relatif akan stabil dan akhlaknya juga akan menjadi baik. Dengan demikian, mereka yang sabar, akan mampu menaham gelombang cobaan dan tantangan kehidupan. Walau berat cobaan seperti kasus “istri baik/buruk” yang dikatakan filosof Yunani di atas, pasti cobaan itu diberikan Allah tidak lebih dari kekuatan kita. Artinya, “kita pasti bisa menyelesaikan masalah tersebut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman tentang hal tersebut, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah yang bagus. Ini tentang seorang perempuan yang tanamannya rusak karena badai, namun karena bersabar, akhirnya apa yang telah hilang itu diganti oleh Allah dengan yang lebih baik. Al-Barqy (Abu Abdillah Ahmad bin Ja'far bin Abdu Rabbih bin Hasan) berkata, "Saya melihat seorang perempuan di dusun. Saat itu, salju sudah turun dan semua tanamannya habis, rusak karena salju tersebut. banyak orang yang datang untuk menghibur dan menampakan rasa prihatin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4fV7h4ftqI/AAAAAAAAAqQ/nkzMr6Mxd-k/s1600-h/yanuardi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4fV7h4ftqI/AAAAAAAAAqQ/nkzMr6Mxd-k/s200/yanuardi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442553893384861346" /&gt;&lt;/a&gt;Tak seberapa lama kemudian, perempuan tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berdo'a, 'Ya Allah, Engkaulah satu-satunya-yang dapat diharapkan oleh mahluk-Mu yang terbaik (yaitu manusia). Berada di tanganMulah pengganti dari apa-apa (tanaman) yang telah rusak. Maka, berbuatlah untuk kami sesuai dengan sifat yang Engkau miliki (Pengasih, Penyayang). Sungguh, rizki kami ada pada-Mu, harapan kami pun hanya kepada-Mu.'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu, datang seorang kaya dan dermawan dari daerah tersebut. Dan setelah mendapat informasi tentang apa yang terjadi, orang tersebut memberikan uang untuk si perempuan tadi sebesar lima ratus dinar. Demikianlah, kalau kita bersabar seperti yang dikutip dari Al-Faraj Ba'das-Syiddah 1/181. Selalu saja ada ganti yang terbaik. Nah, sudahkah kita bersabar kalau ada masalah?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-4769679506887133757?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/4769679506887133757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/arti-kata-sabar-oleh-yanuardi-syukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4769679506887133757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4769679506887133757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/arti-kata-sabar-oleh-yanuardi-syukur.html' title='Arti Kata Sabar (Oleh : Yanuardi Syukur)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4fXCQkkQUI/AAAAAAAAAqY/w_Jeh00v7dI/s72-c/sholat_jamaah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-1037653337817106281</id><published>2010-02-25T03:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T04:06:27.274-08:00</updated><title type='text'>Anak Muda Islam (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4Zmyo6i2_I/AAAAAAAAAp8/ez5qwECcNQw/s1600-h/kafiyeh_gaza.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4Zmyo6i2_I/AAAAAAAAAp8/ez5qwECcNQw/s320/kafiyeh_gaza.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442150219886287858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin melihat kalian, anak-anak muda Islam, energik dan cerdas.&lt;br /&gt;Aku ingin melihat kalian, anak-anak muda Islam, gagah dan berani.&lt;br /&gt;Tapi aku juga ingin melihat kalian, anak-anak muda Islam,&lt;br /&gt;sebagai anak-anak muda yang sopan dan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah orang-orang yang ringan dalam kebaikan,&lt;br /&gt;murah hati dan bercita-cita tinggi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetakkan tatapan matamu&lt;br /&gt;pada bintang-bintang yang paling tinggi,&lt;br /&gt;tapi jangan lupa pijakkan kaki kalian&lt;br /&gt;dengan sangat kuat di atas tanah untuk bekerja mewujudkan cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4ZlqPiAdoI/AAAAAAAAAp0/R5qnS495hT4/s1600-h/hernurdi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 169px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4ZlqPiAdoI/AAAAAAAAAp0/R5qnS495hT4/s200/hernurdi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442148976121902722" /&gt;&lt;/a&gt;Keberanian, kerja keras, pengendalian diri dan kecerdasan&lt;br /&gt;adalah kunci untuk kehidupan yang gemilang.&lt;br /&gt;Karakter unggulan adalah faktor penting yang&lt;br /&gt;menentukan masa depan kehidupan pribadi dan juga bangsa.&lt;br /&gt;Maka bangunlah karakter mulia dalam diri kita semua.&lt;br /&gt;Sekarang!    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-1037653337817106281?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/1037653337817106281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/anak-muda-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1037653337817106281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1037653337817106281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/anak-muda-islam.html' title='Anak Muda Islam (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S4Zmyo6i2_I/AAAAAAAAAp8/ez5qwECcNQw/s72-c/kafiyeh_gaza.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-9172033660069905874</id><published>2010-02-11T19:56:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T20:00:25.861-08:00</updated><title type='text'>Menanam Benih Kesadaran (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S3TSJCngn6I/AAAAAAAAAlM/NrelGdA2hO4/s1600-h/3698263372_2b05de93dc.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S3TSJCngn6I/AAAAAAAAAlM/NrelGdA2hO4/s320/3698263372_2b05de93dc.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437201702906273698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar tentang menanam benih budi dari seorang bernama Ustadz Salamat Hashim. Beliau adalah pemimpin Moro Islamic Front Liberation, gerakan Islam yang memperjuangkan kemerdekaan bagi kaum Muslimin di wilayah Mindanao, Filipina Selatan. Beliau mengatakan kata-kata yang bagi saya sangat kuat pesannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“If this freedom cannot be achieved during my lifetime, I can assure you, and I can assure everybody, that I have already planted the seeds of Jihad. I have already planted the idea of fighting for freedom in the heart of my people, the Bangsamoro people.”&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jika kemerdekaan ini tidak bisa dicapai semasa saya hidup, maka saya memastikan pada Anda, saya akan memastikan pada semua orang, bahwa saya telah menabur dan menanam benih Jihad. Saya telah menanam ide perjuangan kemederkaan di dalam hati semua orang. Di dalam hati kaum saya, Bangsamoro.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak pejuang yang bisa mengecap kemenangan dan hasil dari perjuangannya. Kalaupun ada, mungkin bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Salah satu nama yang bisa kita sebut adalah Nelson Mandela, yang akhirnya bisa melihat langit cerah dan matahari keadilan di Afrika Selatan, setelah tahun-tahun pedih di bawah apartheid mereka rasakan. Sisanya, banyak sekali orang-orang seperti Ustadz Salamat Hashim yang meninggal karena serangan jantung setelah berjalan kaki empat hari menghindari serangan militer Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, di sebuah tempat bernama Kamp Abu Bakar, Ustadz Salamat Hashim sedang menyampaikan Khutbah Idul Adha tahun 2000 silam. Ketika serangan udara dari pesawat udara militer Filipina menghujani tempatnya dengan peluru-peluru besar yang mematikan. Setelah berjalan kaki berhari-hari, Ustadz Salamat Hashim sudah merasakan, ajal sudah mendekat dan nyaris tak berjarak. Beberapa usaha pengobatan sudah dilakukan, bahkan ada usaha untuk membawa Ustadz Salamat Hashim keluar dari Filipina untuk mendapatkan perawatan. Tapi beliau menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah saya mati di sini, di tanah yang saya cintai, dikeliling orang-orang yang saya kenali, yang dihatinya telah ditanam benih perjuangan.” Setelah menunjuk pemimpin yang akan melanjutkan perjuangan, Ustadz Salamat Hashim pun menghembuskan napas terakhirnya dalam pergolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S3TSP67XybI/AAAAAAAAAlU/MRs1ciFWBnc/s1600-h/hertw.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 117px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S3TSP67XybI/AAAAAAAAAlU/MRs1ciFWBnc/s200/hertw.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437201821101181362" /&gt;&lt;/a&gt;Menanam benih. Betapa sederhana sebetulnya hidup ini. Kemenangan hanyalah sebuah konsekuensi logis dari benih-benih yang tumbuh dan berkembang. Membesar dan memberikan hasil yang maksimal. Benih-benih mengakar jauh ke dalam tanah, mengokohkan pokok yang tinggi menjulang ke angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah mereka yang menanam benih hari ini? Masih adakah orang-orang yang bersungguh menyiangi benih-benih yang sudah di tabur, menjaganya dari serangan hama yang menganggu dan memberikan pupuk agar tumbuh subur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tugas yang sebenarnya harus kita lakukan. Menabur dan menanam benih, menjaga dan menyirami, memupuk dan membesarkan. Tanpa harus menganggap ringan orientasi hasil akhir, kita harus bersungguh-sungguh dalam proses penanaman. Karena memang, tak ada yang pernah tahu, kapan musim panen tiba dan hasil bisa dituai dengan senyum gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menjadi orang-orang yang ke bawah tak mengakar, ke atas dan berpucuk, dan di tengah-tengah di heret kumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanam benih kesadaran. Itu tugas besar yang harus kita lakukan saat ini. Tak peduli berapa lama kemenangan dan kejayaan akan diraih, mungkin kita bisa menyaksikan, mungkin juga tak pernah. Tapi yang harus kita pastikan adalah, sudahkah kita menanam kesadaran pada orang-orang, agar perjuangan bisa diwariskan?&lt;/span&gt;\&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-9172033660069905874?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/9172033660069905874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/menanam-benih-kesadaran-oleh-herry.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/9172033660069905874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/9172033660069905874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/menanam-benih-kesadaran-oleh-herry.html' title='Menanam Benih Kesadaran (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S3TSJCngn6I/AAAAAAAAAlM/NrelGdA2hO4/s72-c/3698263372_2b05de93dc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-6277993211535466402</id><published>2010-02-04T00:52:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T01:12:36.717-08:00</updated><title type='text'>Belajar Syahadat dari para Syuhada (oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2qNFQKCLnI/AAAAAAAAAkM/P_bqxaQbrls/s1600-h/g14+27.11.07+PFV.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2qNFQKCLnI/AAAAAAAAAkM/P_bqxaQbrls/s320/g14+27.11.07+PFV.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434311021751840370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allama Mohammad Iqbal pernah berkata, “Aku beritahu kamu, tanda-tanda orang beriman. Ketika kematian datang, dia akan menyambutnya dengan senyuman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengingat kata-kata Mohammad Iqbal ini ketika menerima dan melihat foto jenazah Mahmoud al Mabhouh. Ada luka-luka di wajahnya. Ada bekas jeratan tali yang mencekik lehernya. Bahkan hidungnya memar, mungkin juga patah. Tapi luka-luka itu semua, terkalahkan dengan sesungging senyuman yang muncul di bibirnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa membayangkan, apa yang dialaminya pada detik-detik terakhir dengan luka-luka seperti itu. Bahkan dalam sebuah berita, saya membaca tentang bekas luka-luka akibat sengatan listrik di kepalanya. Jika dengan segala bekas luka itu, jeratan di leher, memar di hidung, sengatan listrik di kepala, bagaimana dia bisa tersenyum di penghabisan umurnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana senyum itu muncul dan mengatasi segala rasa sakit yang ada? Nalar memang kerap kali tak bisa menerjemah. Termasuk tentang fenomena kecil, senyuman dibibir jenazah syuhada (insya Allah) Mahmoud al Mabhouh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Samson Rahman, memberikan komentar ketika foto senyum terakhir Mahmoud al Mabhouh ini saya posting ke halaman facebook saya. ”Menjadi syuhada itu karunia. Maka kuatkanlah tekad kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Samson Rahman, banyak orang mengenalnya sebagai salah satu penerjemah terbaik materi-materi dakwah dari bahasa Arab ke Indonesia. Salah satu terjemahan terbaik yang pernah disumbangkannya adalah, La Tahzan karya Dr Aidh al Qarni. Tapi tak banyak yang mengetahui bahwa Ustadz Samson Rahman yang berdarah Madura ini adalah satu dari sedikit orang yang menjadi saksi kematian Abdullah Azzam ketika dibom di Pakistan pada tahun 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bom seberat 20 kilogram itu ditanam di sebuah gang yang akan dilalui oleh asy Syahid Abdullah Azzam. Beliau meninggal, tubuhnya terlempar dan tersandar di dinding gang. Tubuh anaknya, hancur. Bahkan potongan tubuhnya tersangkut di atas tiang listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2qNM4DtXXI/AAAAAAAAAkU/0HlO-IPaJsE/s1600-h/herry_nur.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2qNM4DtXXI/AAAAAAAAAkU/0HlO-IPaJsE/s200/herry_nur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434311152721812850" /&gt;&lt;/a&gt;Saya mendengar kisah ini bertahun-tahun silam dari Ustadz Samson Rahman. Dan ketika beliau menuliskan komentarnya di facebook, bahwa syuhada itu adalah karunia, maka pahamlah saya mengapa jenazah Mahmoud al Mabhouh menyungging senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak!? Dia sedang memperoleh anugera besar. Tentu saja, ada sebab yang membuatnya tersenyum dan melupakan penderitaan yang dirasakan badan. Seketika saya ingat salah satu kemuliaan yang direkam Allah dalam salah satu ayat-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, badan dan umur, nalar dan perasaan, jawablah pertanyaan yang kuajukan. Siapa yang lebih menepati janji dibanding Allah SWT? Sungguh, Allah adalah sebaik-baiknya pembuat janji. Dan dalam janji-Nya, Dia berikrar akan membela diri dan harta, setiap orang yang berjuang di jalannya dengan surga. Maka, rasa sakit manakah yang mampu menahan senyum untuk tak tersungging ketika jiwa dan harta kita dibeli dengan balasan yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah Azzam pernah berkata pada dirinya sendiri dan kepada anak dan istrinya. Bahwa ia telah berjanji, akan menjadikan urusan jihad sebagai urusan dalam rumah tangganya. Jihad adalah urusannya sebagai ayah. Jihad adalah urusan istrinya sebagai ibu dan permaisuri. Jihad adalah urusan anak-anak yang dilahirkan oleh rahim mulia ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya merasakan ngilu yang luar biasa di dalam dada. Di mana letak dan posisi saya di depan kata yang sangat mulia itu, ”Jihad.” Dimana letak dan posisi kita semua dalam di depan kata yang penuh dengan kebesaran itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih terlalu sering mengeluh tentang urusan dunia, bahkan pada hal-hal yang tak penting sama sekali. Tentang macet di jalan yang entah habis sampai kapan. Tentang cuaca yang mudah berubah, sebentar panas, sebenar hujan. Tentang rasa asin yang terlalu pekat dalam makanan. Tentang pundak yang letih karena bermain games atau chatting seharian. Kita mengeluhkan banyak hal yang tak ada kaitannya dengan derajat mulia seorang pejuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Commander al Khattab, salah seorang pejuang legendaris Chechnya pernah berkata pada kawan-kawan seperjuangannya. ”Hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan yang paling mulia adalah perjuangan di jalan Allah SWT. Jangan mati karena urusan dunia,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dunia tidak menyita waktu dan hidup kita. Dan mudah-mudahan semua yang kita lakukan bernilai jihad dan ibadah. Paling tidak, tidak terhitung sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika saya menghibur diri dengan kalimat seperti di atas, saya teringat perkataan salah seorang pejuang yang lainnya. Sayyid Quthb. Tokoh yang dianggap sebagai bapaknya radikalisme dalam Islam ini pernah berucap, ”Kata-kata tidak akan berarti apa-apa. Tidak memiliki ruh dan tenaga. Sampai, yang mengucapkan kata-kata berani memberikan nyawa dan badannya pada kata-kata yang dianggapnya benar sebagai bentuk pelaksanaan perjuangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita mempertaruhkan seluruh hidup kita untuk kata-kata yang benar? Ini menjadi pertanyaan lain yang harus kita berikan jawaban. Dan itu pula yang diberikan Sayyid Quthb ketika algojo memintanya mengucapkan syahadat sebelum mengakhiri umur di tiang gantungan. ”Kau tahu mengapa aku berdiri di tiang gantungan? Karena aku bulan lagi bersyahadat dengan lidah dan kata-kata. Aku telah bersyahadat dengan hidupku!” Begitu kata Sayyid Quthb lantang, menolak perintah algojo yang memintanya bersyahadat dengan lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, sudah sejauh apa syahadat yang kita ucapkan? Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita, untuk tidak sekadar bersyahadat dengan lisan dan kata-kata, tapi juga dengan jiwa dan raga. Amin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-6277993211535466402?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/6277993211535466402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/belajar-syahadat-dari-para-syuhada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/6277993211535466402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/6277993211535466402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/belajar-syahadat-dari-para-syuhada.html' title='Belajar Syahadat dari para Syuhada (oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2qNFQKCLnI/AAAAAAAAAkM/P_bqxaQbrls/s72-c/g14+27.11.07+PFV.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-8576878757761714085</id><published>2010-02-01T17:42:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T17:47:18.764-08:00</updated><title type='text'>Amal Unggulan (Oleh : Herry Nurdi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2eDZ6JanwI/AAAAAAAAAj0/owgLcKUPFEI/s1600-h/kematian21.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2eDZ6JanwI/AAAAAAAAAj0/owgLcKUPFEI/s320/kematian21.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433455956574510850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru-baru ini kehilangan, salah seorang ustadz yang bagi saya sudah menjadi guru yang mengajarkan banyak hal. Ustadz Abdul Wahid Kadungga, berpulang awal Muharam silam diusia 69 tahun. Komunikasi terakhir yang saya lakukan pada beliau ketika saya masih berada di tanah suci saat ibadah haji. Ustadz Kadungga mengirimi saya SMS dengan kalimat yang memberikan semangat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ananda Herry Nurdi, insya Allah cita-cita ananda meminang bidadari akan diijabah oleh Allah. Tetap teguhlah memegang syariat, belalah yang benar dan jangan nampakkan takut pada musuh-musuh Islam,”&lt;/span&gt; begitu petikan SMS yang saya terima.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenang beliau sebagai seorang yang tabah dan juga sederhana. Seringkali saya menemui Ustadz Kadungga selalu dalam keadaan berpuasa. Kemana-mana tak pernah merepotkan orang lain. Dan selalu memberikan motivasi dakwah dan perjuangan Islam. Diakhir-akhir usianya, beliau tinggal di Dewan Dakwah Indonesia Islamiyah. Huru-hara terorisme pernah melampirkan fitnah kejam atas dirinya yang disebut-sebut sebagai promotor kekerasan gerakan radikal Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya pernah disebut sebagai penghubung gerakan jihad internasional. Bahkan dalam laporannya International Crisis Groups mengatakan, Ustadz Kadungga adalah sosok yang dengan mudah berhubungan dengan Usamah bin Ladin di pedalaman Afghanistan, lalu beberapa saat kemudian menelepon koleganya yang lain di Malaysia, Indonesia atau belahan penjuru dunia lainnya. “Saya adalah penghubung internasional untuk urusan umat Islam dalam arti yang positif,” ujarnya suatu kali.&lt;br /&gt;Kenangan pada beliau mewariskan untuk saya sebuah ingatan tentang amal-amal unggulan yang terus istiqamah dilakukan. Puasa sunnah, mendirikan shalat malam, tahan atas godaan dunia, hidup sederhana, mandiri dan berani. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan pada saya untuk meneladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok lain yang mengajarkan kepada saya amal unggulan adalah Ustadz Maulana. Salah seorang sahabat yang berprofesi sebagai dai keliling. Setiap hari, Ustadz Maulana bisa ditemui di Masjid Shalahuddin, Jogjakarta. Sosok sederhana yang memiliki kegigihan luar biasa. Hampir semua masjid di Jogjakarta, pernah didatanginya, meski hanya untuk sekadar adzan. Hampir semua taklim dan halaqah pernah disambanginya untuk menjalin ukhuwah dan persahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu bukan pekerjaan utamanya. Tugas pokok yang setiap hari dilakukannya adalah mengajak manusia ke jalan Allah. Didatanginya dua sejoli yang asyik bermesraan di taman-taman, diingatkan dengan halus dan sopan, bahwa Allah melarang kita mendekati zina yang berakibat fatal. Didatanginya gerombolan pemuda yang sedang bermabuk-mabukkan, dengan sabar dan halus, dia meminta dan mengambil botol-botol minuman untuk dibuang. Diajaknya orang untuk menegakkan shalat, menutup aurat, dan meninggalkan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal itu, dilakukannya tidak saja di Jogjakarta, tapi juga di Padang, terutama seusai peristiwa gempa besar. Ustadz Maulana memperkenalkan dakwah yang dilakukannya pada aktivis Islam di kota Padang. Pantai Padang menjadi salah satu target dakwah yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancol juga pernah menjadi lahan dakwahnya. Mobil goyang yang berserakan di garis pantai, didatanginya satu per satu. Diketuk kaca jendela, dan para penumpang yang bermaksiat ria diingatkan untuk kembali ke jalan yang benar. Ada yang lari lintang pukang, bahkan lupa memakai pakaian. Ada yang tersipu malu, ada yang menangis sadar. Itu adalah amal unggulan Ustadz Maulana yang bisa saya ceritakan. Mungkin potongan kisah ini terlalu sedikit dan sederhana, dan sama sekali tidak menggambarkan sosok Ustadz Maulana yang seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2eEEmdNc_I/AAAAAAAAAkE/G71C3BvYzZM/s1600-h/herry_nur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2eEEmdNc_I/AAAAAAAAAkE/G71C3BvYzZM/s200/herry_nur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433456690023199730" /&gt;&lt;/a&gt;Ada lagi Ustadz Abdul Wahab, warga negara Malaysia yang tumbuh dan belajar di Muhammadiyah Jogjakarta. Sekembali dari masa pendidikannya, beliau langsung mendirikan Muhammadiyah Internasional yang bertugas memperkenalkan Islam khususnya pada kaum pedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku-suku yang berada di dalam hutan, di semua wilayah, Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, Campa, Cina dan sampai kedaratan yang jauh pernah didatanginya demi mengemban amanah dakwah. Ada kalanya bahkan beliau dianggap dewa oleh suku-suku yang didakwahinya, hanya karena mengajarkan pada mereka mandi dan berbusana. Padahal yang diajarkannya lebih dahsyat dari sekadar mandi dan busana. Yang dibawanya adalah iman dan pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali sudah beliau mengalami serangan stroke. Terakhir bertemu, beliau sudah menggunakan tongkat dan selalu gemetar tangannya. Pada beliau saya pernah bertanya, kapan mau istirahat kiranya? “Nanti, kalau saya sudah mati. Dan tak perlu repot-repot kalau saya meninggal nanti. Dimanapun nyawa saya diambil oleh yang Maha Kuasa, kuburkan saja saya di sana dan biarkan alam yang akan menjadi saksi apa yang telah saya lakukan di dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, rasanya banyak yang bisa saya ceritakan tentang orang-orang “aneh” yang saya kenal dalam kehidupan. Saya menyebutnya aneh, karena memang belum tentu satu banding seribu jumlah mereka. Melakukan amal tanpa pamrih pada manusia. Dan amal-amal itu, kadarnya selalu memiliki kualitas unggulan. Apa amal unggulan saya, ya? Apa amal unggulan Anda? Apa amal unggulan kita semua?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-8576878757761714085?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/8576878757761714085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/amal-unggulan-oleh-herry-nurdi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8576878757761714085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8576878757761714085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/02/amal-unggulan-oleh-herry-nurdi.html' title='Amal Unggulan (Oleh : Herry Nurdi)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S2eDZ6JanwI/AAAAAAAAAj0/owgLcKUPFEI/s72-c/kematian21.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-1961596336161314018</id><published>2010-01-06T02:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T02:54:47.217-08:00</updated><title type='text'>Pensil Dan Vitamin (Oleh : Tantang Mentari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S0Rr8UelhSI/AAAAAAAAAgM/BDg21T9Sdgg/s1600-h/the-rain.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S0Rr8UelhSI/AAAAAAAAAgM/BDg21T9Sdgg/s320/the-rain.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423578535294240034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuat pensil menaruh pensil di sampingnya sebelum ia memasukkannya ke dalam kotak. “Ada lima hal yang perlu kau ketahui sebelum aku mengirimmu ke dunia,” kata pembuat pensil kepada pensil.&lt;br /&gt; “Pertama, kau dapat melakukan banyak hal yang besar asal kau bersedia berada dalam genggaman orang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kau akan merasakan pedihnya rautan dari waktu ke waktu, tapi kau membutuhkan itu agar menjadi pensil yang lebih baik.&lt;br /&gt;Ketiga, kau harus mengoreksi kesalahan yang kau goreskan.&lt;br /&gt;Empat, yang terpenting darimu adalah bagian dalam dalam tubuhmu.&lt;br /&gt;Lima, pada permukaan apa saja kau digoreskan, kau harus dapat meninggalkan coretan(kesan),” jelas si pembuat pensil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensil memahami semua nasehat itu dan berjanji akan selalu mengingatnya.&lt;br /&gt;Yakinku dirimu mengerti tulisan sederhana ini ialah refleksi dari adanya dirimu. Ya, seorang yang jauh lebih paham bagaimana cara membesarkan seseorang. Seorang yang jauh lebih merasakan pedihnya rautan dari tajamnya roda kehidupan dibanding rautan yang dirasakan pensil. Seorang yang selalu ingin meminta muhasabahi atas apa yang telah bahkan yang akan dilakukan. Seorang yang merasa tidak ada yang lebih penting dari dirinya kecuali iman yang bersemayam, yang walaupun tertatih dirimu menjaganya, tapi azzam kuat untuk menjadikannya modal untuk bertemu denganNya kelak terpancar jelas dari tutur dan raut mukamu. Dan seorang yang tidak hanya bisa meninggalkan kesan tapi juga pesan, pesan sederhana bagi kami, “ bahwa hidup itu begini, dan apapun yang terjadi terus lakukan kebaikan, meski kita takkan bisa menghindari, dalam proses kebaikan itu ada kesalahan, ada sakit yang dirasakan, tapi tetap lah kuat, dan perbaiki apa yang dirimu mampu perbaiki.” Seperti setablet vitamin yang terkadang pahit, tapi ia ada untuk menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-1961596336161314018?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/1961596336161314018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/01/pensil-dan-vitamin-oleh-tantang-mentari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1961596336161314018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1961596336161314018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2010/01/pensil-dan-vitamin-oleh-tantang-mentari.html' title='Pensil Dan Vitamin (Oleh : Tantang Mentari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/S0Rr8UelhSI/AAAAAAAAAgM/BDg21T9Sdgg/s72-c/the-rain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-4993739256931196817</id><published>2009-12-26T20:15:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T20:18:55.329-08:00</updated><title type='text'>Katak Dalam Tempurung (Berandalan Puritan Dan Dunia Nasyid Hari Ini) Oleh : Thufail Al Ghifari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Szbf4iiKUrI/AAAAAAAAAf8/jTTDjc_qFzs/s1600-h/MILAD+INTIFADHA.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Szbf4iiKUrI/AAAAAAAAAf8/jTTDjc_qFzs/s320/MILAD+INTIFADHA.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419765364022727346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya mengundurkan diri dari semua label dan stereotype 'dunia dakwah', 'dunia nasyid' hingga retorika - retorika syariat islam. Begitu enjoy rasanya menikmati dunia baru, kultur baru dan proses pewarnaan kehidupan.    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu dengan beberapa kawan - kawan Ketapel Art, Gunxrose dan tentunya band saya The Roots Of Madinah. Hingga eksplorasi Jembatan Harokah kini berubah wujud dan lebih dikenal dengan sebutan Berandalan Puritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya..Berandalan Puritan, sebuah jaringan teenager kontra kultur yang sederhananya ingin membangun karakter dan warna hidup yang mandiri, kreatif, tidak stagnan, independen dalam ragam warna mulai dari seni hingga bisnis indie. Dari semua itu saya beserta kawan - kawan Berandalan Puritan yang lain, bisa mengexodus hipokritas dan stagnasi ke level dinamisasi kejujuran hidup. Untuk belajar menjadi orang - orang kuat tanpa harus menggantungkan apalagi menjual nilai nilai prinsip kami demi seonggok popularitas, eksistensi, uang dan semua tetek bengeknya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun agak aneh, ketika kami yang 100% sudah tidak perduli dengan semua semua label dan stereotype 'dunia dakwah', 'dunia nasyid' hingga retorika - retorika syariat islam lainnya, harus sekali lagi dihadapi dengan keluh kesah perkembangan nasyid hari ini. Sebut saja orang ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Faiz Azzam Assyuhada&lt;/span&gt; , tidak ada tahu ada angin apa tiba - tiba dia menulis status di wall facebook dari fans page/halaman Berandalan Puritan seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;assalammualikum saya kecewa benar dengan panitia acara milad intifada yang ada di senayan tadi siang. waktu shoutul harokah tampil membawakan nasyid waktu dzuhur telah tiba bukan oof untuk shalat tapi malah tetap asyik bernasyid ketika ana tegur panitia ,eh panitia bilang tanggung waktu izzis tampil kejadian itu juga teruilang pas shalat ashar. apakah nasyid lebih penting dari shalat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Commen, kritik, caci maki langsung berdatangan terhadap status ini, esensi kecaman terhadap perilaku 'menabrak waktu sholat' yang sangat tidak pantas terjadi disebuah acara nasyid, plus tabayun personal via inbox dari kawan kawan Berandalan Puritan yang tidak tahu menahu tentang apa itu nasyid, shouhar dan izzis beserta semua tetek bengeknya. Namun melalui tulisan ini dengan sangat sederhana saya coba menjawab untuk semua fenomena ini (sesuai dengan permintaan beberapa pihak)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia nasyid bagi saya untuk hari ini hanyalah sebuah euforia. Dari sebuah rumus hura - hura yang berhasil membuat konstitusi syara ditinjau ulang, demi sebuah pengkultusan tanpa sadar, dan dominasi monopoli egosentris yang jika kita memaksakan diri untuk menyelidiki dan membuktikan saya hanya bisa berkata 'percayalah kalau maling ngaku penjara penuh'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hakikat dari sebuah topeng hegemoni, Ketika semua rekayasa eksistensi itu sebenarnya tidak bisa menjalarkan objektifitas dari sebuah nilai yang kita sebut syiar dan dakwah. Karena pada akhirnya, jika setiap emblem dakwah harus mengantongi kepentingan personal, golongan dan kelompok di dalamnya, wajarlah jika akhirnya saya menemukan lusinan katak dalam tempurung. Yang kini membuat saya dan lusinan penggemar Tengkorak, Purgatory, Down For Life, Burgerkill hingga Sepultura bahkan Marilyn Manson cengengesan, lantaran mitos brainstorming media pribadi sudah terlalu 'cerdas' untuk memfatwa ulang konser kampanye partai pribadi sejajar dengan nilai tur keliling indonesia grup nasyidnya itu. Merasa besar tanpa pernah mampu melihat luasnya dunia yang sebenarnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jika saya telaah ulang dari awal, semua yang terjadi dalam penurunan dominasi dunia nasyid bukanlah sebuah kekhilafahn personal, tapi ini murni telah menjadi sebuah kesalahan kolektif. Ketika seorang figur telah menganggap biasa suatu hal yang tadinya tidak biasa, maka jangan salahkan panitia menyepelekan keutamaan adzan dan sholat tepat waktu demi sebuah konser hingar bingar dengan atau tanpa label intifadhah di dalamnya. Maka kedepan semua ini akan menjadi 'hal biasa' sebiasa pelacuran demokrasi dimana ayat - ayat Alloh kini telah menjadi lebih murah diatas kepentingan politik pragmatis. oh....saya bersyukur tidak pernah mengotori tangan dan jari ini dengan tinta kafir bilik suara...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini belum termasuk juga, ketidaksadaran banyak pihak akan kelunturan nilai - nilai itu sendiri. karena 'banyak pihak' itu sendirilah yang telah menjadi bagian dari pemakmuran penyakit kronis internal dunia nasyid itu sendiri, baik dari segi ashobiyah, eksistensi, dominasi dan kepentingan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya bersyukur akan caci maki, pengucilan, fitnah inteligen yang akhirnya membuat saya makin tangguh untuk bertarung tanpa harus menjadi pragmatis dan opportunis dengan lingkungan dan ideologi. Dan jika kalian masih menemukan di kemudian hari konser - konser bernuansa nasyid dengan atau tanpa label intifadhah di dalamnya, yang menabrak waktu sholat, melakukan jumpa fans over acting bin lebay, mengajarkan akhwat jejingkrakan, dan lusinan prilaku boy band tengik. Maka jangan salahkan faktanya karena sejatinya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasyid Memang Sudah Mati!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah....saya lebih suka bersepultura ria, tapi respek sama integrity personal dari sebuah nilai kenyakinan apalagi dalam posisi saya sebagai seorang muslim. Apalagi sebagai berandalan 'futur' seperti saya ini, makin aneh dalam mengejewantah hakikat arti futur itu sendiri, karena hari ini perilaku menabrak waktu sholat itu ternyata dilakukan oleh mereka 'kaum militan' yang 'tidak futur' dan secara fakta mereka telah melewati masa tarbiyah (pembinaan islam) selama bertahun - tahun bahkan berpuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penikmat musik metal dan rock n roll, secadas apapun musik yang saya koleksi..tapi menghargai sebuah suara adzan untuk menghentikan musik dan belajar untuk sholat tepat waktu itu, ternyata banyak anak metal lebih bergetar hatinya..dibanding para ahli agama (baca:munsyid/pelantun nasyid) itu sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi..good bye nasyid..we dont give a damm about you anymore!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau kata Bobby bassis dari The Roots Of Madinah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasyid Is For Sissy..Metal Is The Best!&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Szbf9hMZe2I/AAAAAAAAAgE/Xtrr3wesA2E/s1600-h/18856_1195482369596_1304565575_30442030_5752161_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 167px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Szbf9hMZe2I/AAAAAAAAAgE/Xtrr3wesA2E/s320/18856_1195482369596_1304565575_30442030_5752161_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419765449562356578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-4993739256931196817?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/4993739256931196817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/12/katak-dalam-tempurung-berandalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4993739256931196817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4993739256931196817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/12/katak-dalam-tempurung-berandalan.html' title='Katak Dalam Tempurung (Berandalan Puritan Dan Dunia Nasyid Hari Ini) Oleh : Thufail Al Ghifari'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Szbf4iiKUrI/AAAAAAAAAf8/jTTDjc_qFzs/s72-c/MILAD+INTIFADHA.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-7317279529918919733</id><published>2009-12-07T18:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T18:08:54.307-08:00</updated><title type='text'>Harus ada Ujian!!! (Tantang Mentari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sx21MMuKTTI/AAAAAAAAAe8/18IaQm0HHfQ/s1600-h/big-trouble.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sx21MMuKTTI/AAAAAAAAAe8/18IaQm0HHfQ/s400/big-trouble.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412681548347100466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita mendengar bagaimana sebuah sistem memperlakukan masyarakat yang hidup didalamnya. Ada sistem yang sampai membuat warga Spanyol saat itu bergumam rindu agar diterapkan dinegara mereka. Ada pula sistem yang begitu menyengsarakan rakyatnya.     &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan saya kira semua sepakat kalau yang dirasakan sekarang adalah hal yang kedua. Begitu banyak kasus yang semakin memperkuat betapa bodohnya orang-orang yang masih mempertahankan Sistem saat ini. Saya tidak ingin membahas sistem, paling tidak kali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan, kezaliman, siksaan mungkin yang dirasakan sebagian orang yang sadar maupun tidak sadar, terkadang membuat kita berpikiran jahat mengenai hikmah takdir. Misal seperti Kasus seorang akhwat yang dilarang berjilbab dikampus, yang sampai detik ini masih dipersulit di akademiknya, yang waktu awal-awal kasus sempat membuat saya tidak bisa menahan air mata setiap bertemu dan mendengar cerita beliau. Tapi, semakin berat Allah SWT menahan penyelesaiannya saya berkesimpulan ini adalah cobaan yang hanya memerlukan ketegaran dalam keyakinan. Dan saya yakin, beliau bisa melalui ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya ingin berkata kepada beliau dan semua saudariku yang lain dimanapun sekarang kalian ditakdirkan hidup.  Yang masih dalam keadaan menunda kebaikan ada pada dirinya maupun yang sedang belajar untuk tetap berada dalam kebaikan. Kita bisa menjadikan apapun menjadi kekuatan kita. Masalah, kesusahan, kesenangan, bahkan kepayahan hidup sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak yang akan kita temui diluar sana. Begitu banyak pergesekan yang akan terjadi. Bukan, bukan kita yang menginginkan hal itu, tapi sudah fitrahnya sebuah kebenaran yang tidak akan pernah bercampur dengan kebatilan. Musuh pun sebenarnya bisa menjadi Kekuatan yang terkadang tidak kita sadari. Padahal bisa jadi mereka Sebagai alat untuk memuliakan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kalimat dari Dr.Najih Ibrahim beliau mengatakan, bukankah untuk kesyahidan Khalifah Umar bin Khathab ra. Harus ada Abu Lu’luah? Bukankah demi kesyahidan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Harus ada Abu Muljam? Bukankah untuk syahidnya Sumayyah ra. Perlu ada Abu Jahal?. maka itu di zaman ini Allah SWT menciptakan orang-orang seperti Musdah Mulia, Ulil abshar abdilla, Lufhfie Assyaukani, dan semua yang mempunyai pemikiran sama atau lebih parah dari mereka, dan mungkin mereka memang harus ada untuk semakin membuat kita bersemangat dalam mencari pemikiran yang benar. Karena pemikiran-pemikiran yang batil pun harus ada untuk membuktikan kebenaran dien ini. Wallahu’alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada ujian untuk bisa naik Kelas. Begitupun posisi kita dalam pandangan Allah SWT. Untuk mendapatkan gelar umat terbaik Harus ada kepayahan disana. Karena surga pun tidak didapat dengan Gratis. Begitupun dengan Khilafah, sistem yang mampu memuliakan Kaum Mukmin dan manusia seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, teruntuk saudaraku yang sedang direncanakan Allah SWT untuk dimuliakan dengan ujian dan cobaan. Saya yakin kalian dapat melewatinya.&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-7317279529918919733?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/7317279529918919733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/12/harus-ada-ujian-tantang-mentari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/7317279529918919733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/7317279529918919733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/12/harus-ada-ujian-tantang-mentari.html' title='Harus ada Ujian!!! (Tantang Mentari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sx21MMuKTTI/AAAAAAAAAe8/18IaQm0HHfQ/s72-c/big-trouble.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-976476255469040824</id><published>2009-12-02T19:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T19:37:01.130-08:00</updated><title type='text'>Memulai Sebuah Tulisan (Oleh : Tukang Tidur)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SxcyVhvkt2I/AAAAAAAAAeg/AKnNhrKHOjw/s1600-h/newpicture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SxcyVhvkt2I/AAAAAAAAAeg/AKnNhrKHOjw/s320/newpicture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410848822725490530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan.    &lt;span class="fullpost"&gt;Arswendo sudah menulis Mengarang itu Gampang, A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita). Here we go!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dengan Dialog&lt;br /&gt;“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dengan Deskripsi Tokoh &lt;br /&gt;Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit.... (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi&lt;br /&gt;Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)&lt;br /&gt; Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami.... (Sirkus, cerpen Agus Noor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dengan Adegan&lt;br /&gt;Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah dengan Seting Tempat&lt;br /&gt;Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.... (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.... (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari....”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini sampai selesai. Semoga bermanfaat. Jika kalian ada masukan, tulis komentar di bawah, ya. Senang jika kita bisa berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Noor H. Dee&lt;br /&gt;Si Tukang Tidur&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-976476255469040824?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/976476255469040824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/12/memulai-sebuah-tulisan-oleh-tukang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/976476255469040824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/976476255469040824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/12/memulai-sebuah-tulisan-oleh-tukang.html' title='Memulai Sebuah Tulisan (Oleh : Tukang Tidur)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SxcyVhvkt2I/AAAAAAAAAeg/AKnNhrKHOjw/s72-c/newpicture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3865678653591123491</id><published>2009-11-25T21:51:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T22:03:05.608-08:00</updated><title type='text'>Dogma Atheisme (Oleh : Divan Semesta)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sw4aCIoZaaI/AAAAAAAAAeI/0hEgjsEJlpg/s1600/atheism_poster_500x500.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sw4aCIoZaaI/AAAAAAAAAeI/0hEgjsEJlpg/s320/atheism_poster_500x500.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408288826497526178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang saya temui itu bersih sekali. Bekas air wudlu terkesan memancar dari wajahnya. Cahayanya menyapa jamaah masjid yang kebetulan tergesa-gesa untuk melapor ke yang Kuasa --sebab waktu itu sudah hampir petang. Saya memperhatikannya sekilas --diapun demikian. Sebelum memulai pembicaraan, dia lebih dahulu mencuri start untuk menegur saya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sering ikut diskusi disini ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya iseng-iseng berhadiah. Eh, namanya siapa Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kami bersentuhan. Ternyata, namanya Azhar (taruhlah demikian). Seperti biasa yang dilakukan orang-orang, saya kemudian melancarkan basa-basi yang memang bermanfaat untuk membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah dimana mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat dia menjawab “Di bawah alam semesta!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit terkejut. Feeling membisikan bahwa orang dihadapan saya ini, tidaklah sembarangan. Saya beri dia sedikit tes lagi, untuk memastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud saya, mas di Bandung tinggal dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terkekeh “Ya dimana-mana”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, mas bakteri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar!, saya bakteri. Seperti Tuhan yang juga, ada dimana-mana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aha, Pantheisme1) kalau begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bahasa kerennya. Bahasa dimasa wali songonya, manunggaling kawula gusti, ana al haq. Sayalah Tuhan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami pun terbahak-bahak. Ia tertawa serius sedangkan saya tertawa sembari menyembunyikan segala macam konsep yang bertentangan dengan pemikirannya. Setelah intensif berdiskusi, Azhar yang saya temui ternyata atheis 100%, bukan atheis yang sekedar sok seksi supaya mendapat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekilas Sejarah Atheisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membedah atheisme tentu memerlukan waktu yang lama. Space yang diberikan Ali pada saya tidak mencukupi untuk membuat kalian faham sedetail-detailnya, serinci-rincinya mengenai atheisme serta pernik-perniknya. Tetapi, saya bersenang hati untuk menjelaskan beberapa fundamen yang menyebabkan mengapa atheis bisa sampai ada di dunia ini, dan pemahaman seperti apa yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku orang yang tahu di tidak tahunya, saya tidak merasa canggung untuk mengangkat tangan jika ditodong pertanyaan, kapan atheis muncul didunia?. Apabila dirunut-runut, sangat rumit untuk menjawab pertanyaan itu. Kebanyakan sumber sejarah menyatakan bahwa atheisme telah ada sejak zaman Yunani menjadi mercusuar peradaban. Dari masa itu, hingga masa kegelapan dan rennaisance keberadaan orang atheis belumlah memiliki andil hingga datang orang-orang besar semacam Ludwig Feurbach, filsuf palu Nietche2) , Proudhon serta Bakunin3) ikut serta melanjutkan ide Heraklitos dan Demokritos (filsuf Yunani)4). Adanya mereka menyebabkan ajaran atheis yang semula sepi pengikut menjadi popular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikemudian hari, ketika Karl Marx menuliskan tesis XI tentang Feurbach, yang berisi. “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara, masalahnya adalah mengubah dunia”, barulah gerbang kesadaran kaum atheis dunia (khususnya, yang kekiri-kirian) terbuka. Tesis itu mengajak para filsuf untuk beranjak dari onani intelektualnya menuju kehidupan nyata. Melalui tulisan yang cukup membuat geger kalangan intelektual humaniora Eropa, filsafat atheis Marx mulai dipraktikkan berdasarkan program kerja yang langsung di terapkan ke tengah-tengah masyarakat. Setelah Marx wafat, Vladimir Illich Ulyanov (Lenin) --yang banyak dianggap sebagai pewaris sah ajaran Marx5)— berkerja melanjutkan program Marx dalam membebaskan manusia dari penindasan (termasuk penindasan agama, penindasan Tuhan). Ia berkerja memobilisasi masa untuk merevolusi kekuasaan Tsar Nicholas. Tsar runtuh, kekuasaan terbesar anti Tuhan terbesar muncul menjadi poros kekuatan yang menyaingi hegemoni Eropa dan Amerika hingga keruntuhannya di tahun 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa spektakuler yang terjadi di tahun 1917 itu, masyarakat, anak-anak SMA, serta mahasiswa perguruan tinggi, mulai terkena distorsi pemahaman, yang menyatakan bahwa atheis itu pasti sosialis, marxis, atau komunis padahal, atheis tidak selalu kiri sosialis-komunis. Sebab, pada fakta yang terdekat dengan kehidupan saya, Azhar mengaku sebagai atheis yang sepakat dengan ide kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut prakiraan pemikiran saya, --setelah membaca berpuluh buku berkenaan topik yang dibicarakan-- atheis merupakan sebuah pandangan mendasar mengenai kehidupan diantara keyakinan lainnya (theis : percaya tuhan dan agnostic6)). Atheis merupakan jalan hidup, cara berfikir yang anti terhadap sesuatu yang gaib (yang tidak bisa di indera oleh manusia). Munculnya atheisme kebanyakan dikarenakan adanya ketidakpuasan, atas jawaban-jawaban manusia ketika menyikapi fenomena alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, saat hujan turun, seorang yang dikepalanya berdempet pertanyaan kritis, menanyakan bagaimana dan dari mana asalnya hujan. Orang-orang disekitarnya mengatakan bahwa hujan berasal dari roh halus, dari tuhan. Yang anehnya lagi, ada yang mengatakan bahwa hujan berasal dari kodok (karena sebelum turun hujan kodok acapkali bertoet-toet mengisyaratkannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya dari mana datangnya gelombang besar lautan dan badai, orang mengatakan penyebabnya dikarenakan dewa Thor sedang mengamuk. Ketika ditanya, kenapa sampai muncul gempa bumi, maka jawaban yang paling mudah adalah dengan mengatakan bahwa dibalik bumi ini ada sebuah ular besar yang sedang menggeliat. Setelah menjawab --tanpa penelitian lanjutan-- permasalahan yang ada, kupas dituntaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disuguhi pendapat seperti itu, orang kritis tidaklah mungkin puas. Ketika jawaban orang awam mengenai bagaimana fenomena alam terjadi, mulai di ambil penguasa sebagai alat justifikasi kebenaran yang menzalimi orang kritis maka tumbuh suburlah antipati atau kekesalan terhadap sesuatu yang gaib (terlebih, ketika melakukan penelitian ternyata para filsuf tidak melihat --dengan mata kepala sendiri-- hal-hal gaib yang orang-orang umum bicarakan). Klimaksnya, titik puncak kebencian terhadap ketidaklogisan memunculkan front antara orang-orang atheis (yang tak mempercayai sesuatu yang tidak bisa ditangkap indera), versus orang yang mengakui adanya dewa-dewa, Tuhan penguasa alam dan hal-hal gaib lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran epistemologi --yang merupakan ilmu yang ditujukan untuk mencari kebenaran pengetahuan, serta alat-alat apa yang bisa digunakan untuk mencarinya--, orang atheis dapat dipandang memiliki epistemology yang hanya mempercayakan indera untuk menghakimi bahwa sesuatu itu ada atau tidak. Orang atheis mengambil metode ilmiah sebagai landasan berfikirnya. Kemudian, dari landasan utama atheisme, dibangun sekian banyak pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kritik atas Atheis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah pembahasan filsafat, terdapat dua aliran besar materialisme.dan idealisme. Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa tidak ada campur tangan hal-hal yang gaib dalam penciptakan alam semesta dan pengaturan hidup organisme yang ada didalamnya. Sedangkan idealisme adalah pemahaman yang mengatakan bahwa dibalik alam semesta mestilah ada kekuatan supranatural yang mengaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk idealis, karena mempercayai bahwa dibalik alam ini, terdapat sebuah kekuatan besar yang mengendalikan, mengelola bahkan memporak-porandakan alam, sebab saya menemukan kesimpulan bahwa materi tidak bisa berkuasa atas dirinya sendiri. Air tidak bisa mendidihkan dirinya tanpa ada syarat yang harus dipenuhi. Air baru mencapai titik didih dalam 100 derajat celicius pada 1 atmosfir. Lantas, siapa yang menentukan titik didih air? Apakah materi air itu sendiri?. Selaku manusia, saya tidak bisa mengatur debaran jantung, harus berdetak sepersekian detik atau sedetik sekali. Saya tidak bisa mengatur aliran darah atas kuasa saya pribadi. Saya tidak bisa menghentikan aliran darah hanya dengan mengatakan “stop” dan “jalan!” untuk menghentikan dan mengalirkannya kembali. Dan saya menemukan, bahwa panjang bulu alis tidak bisa melebihi panjang rambut (semenjak lahir, saya tidak pernah mengupayakannya demikian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta (diantara fakta lain yang tak terhitung banyaknya), saya mengambil anggapan, bahwa saya dan mahluk lainnya, dimiliki, diciptakan dan tergantung pada sebuah kekuatan supranatural yang juga menggatur alam semesta. Dengan kepercayaan seperti itu, bukan berarti saya selaku seorang muslim tidak mau melakukan research untuk mengetahui, mengapa detak jantung secara otomatis berdebar sepersekian detik sekali. Keyakinan seperti ini, tidak mengindikasikan bahwa saya tidak mau mengetahui mengapa darah memiliki jalur yang rumit dan terencana dalam mendistribusikan alirannya. Juga, tidak pula bermakna, saya tidak bekeinginan untuk memuaskan penasaran demi menyingkap faktor-faktor apa yang menyebabkan alis saya seperti ini. Demi Tuhan, atas suruhan Al-Quran, manusia diajak untuk membaca alam semesta, meneliti gejalanya, menjadikannya sebagai pembelajaran demi menyibak tabir yang menghalangi kemajuan peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung,Islam menyuruh manusia, memadukam metode rasional dan ilmiah untuk dijadikan landasan demi mencari kebenaran pengetahuan. Apa yang saya utarakan ini sempat dibantah oleh Azhar, dengan anggapan bahwa satu-satunya kebenaran pengetahuan hanya bisa didapat dengan menggunakan metode ilmiah. Seandainya saudara saya itu konsisten menjadikan metode ilmiah sebagai landasan untuk mencari kebenaran, maka orang atheis yang ada di Alaska, yang ada di Cuba, atau yang sedang menyandang senjata ikut dalam perjuangan Zapatista, harus menafikan keberadaan saya. Karena, saya tidak terindera oleh mereka. Padahal saya ada kan? Saya yang buat esai ini untuk teman-teman kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Azhar konsisten dengan pernyataannya, maka sudah sepantasnya ia menafikan sejarah. Seorang atheis yang tinggal dibandung --yang pada tahun 2004 menjadi seorang pedagang yang giat itu--, harus menafikan adanya Marx, sebab ia belum pernah bertemu dengan Marx.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Azhar mengatakan&lt;br /&gt;“Lho!, bukankah Marx diyakini karena meninggalkan Das Kapital, German Ideologi, Manivesto Komunisnya? Bukankah foto-foto Marx ada?”.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Celoteh saya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalo semua itu rekayasa?. Bagaimana kalau Marx tokoh fiktif?. Gambar, lukisan atau foto, gampang dibuat seperti rekayasa yang dilakukan oleh laki-laki brengsek, yang melukis wajah setan di acara Pemburu Hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya Azhar tidak mempercayai Marx sebab –bisa jadi-- ia merupakan mitos yang tidak memenuhi syarat ilmiah --yang tentunya, mengharuskan sebuah objek itu dapat diindera dan dapat di masukan ke dalam laboratorium. Mengapa? karena Marx sudah berada jauh dibelakang kita. Manusia Trier itu, tidak mungkin diindera serta dimasukan kedalam laboratorium. Satu-satunya cara agar eksistensi Marx dapat dicerna keberadaannya, ialah dengan melalui penyandaran kepercayaan terhadap adanya peninggalan berupa buku dan benda-benda, serta informasi yang menyatakan keberadaan Marx. Mungkin, hal tersebut dikatakan ilmiah, tetapi saya fikir, bagaimanapun juga, sejarah tidak mungkin memenuhi syarat ilmiah seperti halnya syarat metode ilmiah yang saya kemukakan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi Marx hanya dapat di yakini menggunakan perangkat metode rasional berupa penyandaran terhadap bukti-bukti dan informasi yang ada. Dan hal itupun (metode rasional) dipergunakan untuk mencari eksistensi Tuhan --yang eksistensinya dibuktikan dari keberadaan alam semesta dan diri kita yang tertelingkup didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan beberapa kasus orang atheis, sebenarnya menggunakan hal-hal yang tidak ilmiah dalam penelitiannya (dan ini kontradiktif dengan definisi metode ilmiah yang diagungkannya). Beberapa orang atheis, melakukan spekulasi atas penelitian-penelitan yang diklaimnya sebagai hal ihwal adanya manusia. Contoh konkretnya, --dalam sudut pandang, kacamata Rayban saya--, apa yang dilakukan Darwin sebenarnya tidak ilmiah. Ia menyimpulkan bahwa manusia berasal dari perkembangan, perjalanan evolusi mahluk renik hingga mamalia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diklaim, karena ia menemukan karakteristik atau struktur yang hampir sama dalam susunan tubuh manusia dan binatang (terutama pithechantropus erectus, monyet, simpanse orang utan, juga lain sebagainya). Yang harus dijadikan bahan kontemplasi (renungan) adalah, apakah Darwin hidup pada masa peralihan kera menjadi manusia purba?. Apakah Darwin memiliki lorong waktu, kemudian dia mengintip dua ekor manusia purba bersenggama di balik pohon kaktus, kemudian setelah beberapa lama, yang betinanya melahirkan hingga Darwin meyaksikan perubahan itu berlangsung (perubahan dari kera ke manusia purba/dari manusia purba menuju manusia modern seperti kita). Tidak kan?. Berarti Darwin berspekulasi. Dan spekulasi seperti itu sangat rentan, karena tidak memiliki pembuktian yang jelas, hanya mengawang-awang. Artinya, tidak ilmiah dong!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang atheis yang sering saya temui, banyak yang menjadi atheis tanpa memahami seharusnya pola fikir apa yang mendasari seorang atheis menyikapi fenomena alam raya (yaitu metode ilmiah bukan rasional). Banyak yang saya jumpai menyatakan bahwa dirinya, dan segala benda berasal dari atom yang kekal (mengutip pendapat-pendapat yang mahsyur). Tetapi, saya fikir teman-teman itu, belum pernah memegang dan meneropong sebuah atom melalui mikroskop super yang kebanyakan hanya terdapat di laboratorium negara maju. Jelasnya, teman saya menjadi atheis bukan karena dia menjadikan metode ilmiah sebagai asas berfikirnya. Ia menyandarkan keatheisannya pada pendapat ilmuwan atheis yang melakukan eksperimen. Ia menyandarkan keatheisannya pada orang-orang atheis, yang pernah langsung melihat atom dan strukturnya. Ia mengambil metode rasional yang seharusnya dinafikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selaku seorang muslim mempercayai (disertai dengan seperangkat alat pembuktian) bahwa cara mencari kebenaran sebuah pengetahuan tidak bisa disandarkan pada metode ilmiah melulu. Metode ilmiah hanyalah bagian dari alat untuk mencari kebenaran. Alat yang lainnya untuk mencari kebenaran sebuah pengetahuan adalah juga, metode rasional. Seandainya saya menjadi seorang ilmuwan --atas dasar pemikiran diatas—saya akan menjawab dari mana datang hujan, dengan menerangkan kaidah kausalitas yang mengatakan bahwa hujan terjadi, karena uap air dinaikan oleh hangat matahari. Lalu, uap air berkumpul berkumpul di awan. Manakala awan tak kuat lagi ditunggangi bilyunan uap air, tumpahlah tetesan hujan. Dan dengan metode rasional --yang merupakan alat untuk mencari kebenaran eksistensi pencipta—maka, saya akan melanjutkan penjelasan perihal keterperangahan saya (mengenai keajaiban alam) dengan mengatakan : maha suci Allah atas segala kekuasaan-Nya yang meliputi semesta raya!.&lt;br /&gt;Saya terpaksa menjelaskan ini, untuk membantah anggapan yang sudah mengakar pada diri atheis batu! (yang proporsional nggak lho J) bahwa : orang yang mengakui keniscayaan kekuatan supranatural dibalik kedahsyatan alam raya, pasti tidak mau melakukan penelitian ilmiah. Katanya, “orang-orang beragama selalu menjelaskan fenomena alam semesta berdasarkan dogma!. Bahkan, dengan optimisnya, sang atheis batu mengatakan bahwa orang yang terpintar di dunia ini adalah atheis. Orang atheis pastilah selalu pintar. Ah!, kata siapa?. Apakah Einstein penemu relatifitas itu tak bertuhan? (contohnya standar banget sih?), apakah Habibie yang mampu membuat pesawat terbang, orang yang tak bertuhan? (meski pesawatnya nyusruk mulu). Apakah kamu selaku sang atheis batu, lebih pintar dari saya yang menyerahkan sepenuhnya hidup ini untuk Allah? tentu, dengan pongahnya akan saya katakan : tidak!, ditambah sedikit he..he…he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perputaran sejarah, pemegang tampuk peradaban selalu datang silih berganti. Ada kalanya suatu masyarakat melambung, hingga menjadi bahan acuan sebuah abad. Tetapi, kejayaan sebuah masyarakat tidaklah akan kekal sebab kejayaan sebuah masyarakat atas peradaban manusia akan selalu dipergantikan, selalu dipergilirkan, dan dijatah, selama masyarakatnya mau berusaha mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman dahulu, di Andalusia, orang atheis itu bodoh-bodoh (saya coba mengikuti alur fikirnya). Nama mereka kalah mahsyur karena penemuan yang dilakukannya tidak sespektakuler orang Islam ketika mengeksplorasi alam semesta dan isinya7). Mungkin, --saat ini-- orang atheis adalah orang yang paling pintar (mungkin lho) tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang mempercayai Tuhan, akan menggantikan masa dimana, orang atheis menjadi ilmuwan terhebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harap, jika seseorang yang memang meyakini kepercayaan terhadap kekekalan dialektika materialisme, ia tidak menjadi atheis yang batu!. Sebab, kembali saya ulangi : adalah keliru, jika seorang atheis mengeneralisasi bahwa orang yang mempercayai Tuhan pasti gaptek ilmu pengetahuan dan tidak mampu menciptakan inovasi material. Bolehlah saudara sedikit tahu bahwa, jika merujuk pada Al Quran, maka seorang muslim bukan saja dituntut untuk meyakini Allah, tetapi juga diharuskan untuk meneliti alam semesta, melakukan discovery, membuat rancangan inovasi yang darinya dipergunakan untuk kebaikan dan peningkatan standar hidup material serta kesejukan spiritual manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, saya berharap jika ada seorang atheis batu ikut menelusuri tulisan ini, setidaknya ia akan serta merta menjadikan atheis yang proporsional. Atheis yang menerima bahwa : orang yang mengakui Tuhan pun, memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi intelektualnya. Sukur-sukur jadi percaya pada kemaha kuasaan-Nya. Suit suit pituwiw!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan kaki korengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pemahaman yang menyatakan bahwa di dalam unsure semesta terdapat cahaya keilahian.Oleh karenanya Tuhan dapat menyatu dengan manusia dan manusia dapat menyatu dengan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dikatakan filsuf palu karena &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nietche&lt;/span&gt; sering mengeluarkan kata-kata kasar untuk mejelekan agama (terutama protestan dan katolik). Ia dikenal juga dengan julukan “nabi kematian Allah”. Nietche pernah mengatakan “Tuhan telah mati!” dan seorang lelaki dari perpustakaan batu api mengatakan “Nietche telah mati, Tuhan!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bapak anarkisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Heraclitos&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demokritos&lt;/span&gt; penganut faham filsafat naturalis. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua filosof Yunani ini mempercayai bahwa dibalik fenomena alam tidak terdapat kekuatan gaib. Alam berjalan dengan semestinya, disebabkan oleh materi yang merupakan unsure semesta yang tak terbagi dan kekal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ajaran Marx&lt;/span&gt; itu multi tafsir. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Banyak pihak yang menafsirkan ajaran Marx yang sebenarnya memusingkan diantaranya Friederich Engel yang merupakan sahabat karib Marx serta Kautsky dari tangan mereka lahir Marxisme. Sedangkan dari tangan Lenin lahir gerakan komunis yang menyatukan pemikiran Marx dengan pemikirannya sendiri (marxis-leninis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agnosti&lt;/span&gt;c &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paham yang tidak membenarkan dan menyangkal keberadaan Tuhan karena keduanya berada diluar jangkauan kapasitas manusia. Lain kata, agnostic pemahaman yang menyatakan tidak ada yang pasti. Tuhan merupakan spekulasi, sebab tidak ada satu orangpun pernah bertemu dengan Tuhan. Klaim tidak ada Tuhan pun merupakan spekulasi sebab tidak ada orang atheis satupun yang mencari keseluruh penjuru dunia dan angkasa hingga menemukan ketidakadaannya wujud tuhan. Jadi, orang agnostis akan mengatakan dari pada berspekulasi lebih baik tidak usah berfikir Tuhan itu ada atau tidak, toh keberadaan dan ketidakberadaannya tidak memliki relefansi dengan kehidupan.&lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3865678653591123491?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3865678653591123491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/dogma-atheisme-oleh-divan-semesta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3865678653591123491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3865678653591123491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/dogma-atheisme-oleh-divan-semesta.html' title='Dogma Atheisme (Oleh : Divan Semesta)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sw4aCIoZaaI/AAAAAAAAAeI/0hEgjsEJlpg/s72-c/atheism_poster_500x500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-4786326210149468178</id><published>2009-11-25T21:47:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T21:51:39.533-08:00</updated><title type='text'>sibunga yang nampak indah,dan sang elang yang begitu perkasa (Oleh Dhauz GunXrose)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sw4XY_BX4OI/AAAAAAAAAd4/EfWOuYsNCVA/s1600/sun%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sw4XY_BX4OI/AAAAAAAAAd4/EfWOuYsNCVA/s320/sun%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408285920520036578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM WAKTU dan kondisi yang tak seperti biasanya...!!!&lt;br /&gt;sibunga yang nampak indah&lt;br /&gt;dan sang elang yang begitu perkasa    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah...&lt;br /&gt;sibungalah yang bersembunyi di balik hangatnya sinar matahari,karna ia merasa matahari sinarnya tak begitu hangat dari hari-hari biasanya..atau..&lt;br /&gt;mataharilah yang sebenarnya enggan memberikan hangat sinarnya kepada sang bunga, karna dia merasa hangat sinarnya hanya untuk bunga yang lebih indah saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau mungkin entah...&lt;br /&gt;sang elanglah yang bersembunyi dibalik indahnya terang rembulan,karna dia merasa rembulan sinarnya tak begitu indah dari malam-malam yang biasanya...atau&lt;br /&gt;rembulanlah yang sebenarnya enggan memberikan keindahannya kepada sang elang,karna dia merasa kindahannya untuk hanya elang yang lebih perkasa saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah lah... terang yang bersembunyi darinya atau dirinya yang bersembunyi dari terang!!!   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-4786326210149468178?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/4786326210149468178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/sibunga-yang-nampak-indahdan-sang-elang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4786326210149468178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4786326210149468178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/sibunga-yang-nampak-indahdan-sang-elang.html' title='sibunga yang nampak indah,dan sang elang yang begitu perkasa (Oleh Dhauz GunXrose)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sw4XY_BX4OI/AAAAAAAAAd4/EfWOuYsNCVA/s72-c/sun%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-4942182844938471653</id><published>2009-11-24T22:40:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T22:55:51.156-08:00</updated><title type='text'>Revisi atau Mati? (Oleh : Tukang Tidur)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwzU7TdcfJI/AAAAAAAAAdw/zWWLkQYmaCg/s1600/41W8sbzWpwL._SL500_AA280_.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 280px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwzU7TdcfJI/AAAAAAAAAdw/zWWLkQYmaCg/s320/41W8sbzWpwL._SL500_AA280_.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407931367866268818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia kepenulisan, revisi adalah hal yang tidak bisa kita abaikan. Untuk bisa menciptakan tulisan yang bagus, tentu kita jangan pernah sungkan untuk melakukan revisi. Penulis yang baik adalah penulis yang tidak takut untuk merevisi tulisannya yang bahkan sudah selesai.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti apa sih kegiatan merevisi itu? Apa bedanya dengan mengedit? Dalam dictionary.com disebutkan bahwa revisi adalah: to alter something already written or printed, in order to make corrections, improve, or update: to revise a manuscript. Merevisi artinya mengubah sesuatu yang sudah ditulis atau dicetak, dalam rangka untuk melakukan koreksi, memperbaiki, atau memperbarui. Editing adalah bagian dari revisi, tapi editing tidak sampai mengubah substansi dari sebuah tulisan, sedangkan merevisi itu kadang harus menulis ulang sebuah tulisan yang sudah selesai! Oh, tidak! Hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ketika sedang menulis puisi, misalnya, tentu kita sering menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang sakral, yang tidak boleh kita ubah sama sekali. Kalau puisi itu kita revisi, kita merasa berdosa sekali, dan puisi tersebut kita anggap sudah tidak suci lagi. Padahal, untuk membuat puisi yang bagus pun kita harus tetap melakukan revisi. Puisi bukan kitab suci, jadi jangan takut untuk merevisi demi mendapatkan hasil yang bagus dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, saya pernah menulis puisi seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tertancap&lt;/span&gt; di telapak kaki ketika kita sedang berlari?&lt;br /&gt;Adakah yang lebih duri dari kalimat caci yang meluncur dari bibir seorang kekasih ketika kita sedang bersedih?&lt;br /&gt;Dan, adakah yang lebih caci dari hidup yang tak pernah menjanjikan apa-apa selain mati?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tertancap&lt;/span&gt; di puisi tersebut dikritik oleh teman saya yang kebetulan adalah seorang penyair. Teman saya itu memberi saran agar kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tertancap&lt;/span&gt; diganti dengan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;menancap&lt;/span&gt;, demi mendapatkan efek psikologis pembaca. Setelah itu, saya pun merevisi puisi tersebut menjadi seperti ini: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menancap&lt;/span&gt; di telapak kaki ketika kita sedang berlari?&lt;/span&gt; Begitulah. Jika kita ingin membuat tulisan yang bagus, revisi adalah hal yang tidak boleh kita tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Minta Pendapat Teman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis pemula, terkadang kita tidak bisa melihat kelemahan yang terdapat di dalam tulisan kita. Kita merasa tulisan kita baik-baik saja. Jadi, ketika ingin merevisi, kita sering bertanya-tanya dalam hati: “Apanya yang harus direvisi?” Untuk menghindari pertanyaan seperti ini, ada baiknya kita berbagi dengan teman dekat kita yang sesama penulis. Kita serahkan tulisan kita kepada mereka dan mintailah pendapatnya. “Gue baru buat cerpen, nih, tolong dikomentarin, dong!” Biasanya, dengan cara seperti itu, kita akan mengetahui kelemahan-kelemahan tulisan kita. Entah itu penokohannya yang flat (datar), terlalu banyak pengulangan kata, deskripsi setingnya yang tidak tergarap dengan baik, dialog yang terlalu kaku, banyak adegan-adegan yang tidak perlu, anakronisme, dan lain sebagainya. Setelah mendapat masukan seperti itu, tentu kita akan mendapatkan sedikit kemudahan ketika ingin melakukan revisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sering melakukan hal seperti itu. Setelah selesai membuat tulisan, biasanya saya akan minta komentar dan masukan dari teman saya. Siapa tahu saja ada beberapa hal yang terlewat dari pengamatan saya. Setelah mendapatkan masukan, saya akan merevisi tulisan saya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jangan Pernah Malas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita malas merevisi, tentu karya-karya kita tidak akan bisa tergarap dengan maksimal, padahal karya kita itu memliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah karya yang bagus. Dengan malas merevisi, itu artinya kita tidak peduli dengan nasib tulisan kita. Biarin ajalah, yang penting sudah jadi! Jika demikian, adalah wajar jika tulisan-tulisan kita nanti akan menjadi tulisan yang tidak menarik. Jangan jadi penulis yang egois. Jika ada masukan yang bermanfaat, ambillah. Jika menemukan kejanggalan dalam tulisan kita, ubahlah. Dengan kita melakukan revisi, tulisan kita akan menjadi tulisan yang bagus dan berkualitas. Wallahu alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, teruslah menulis dan jangan lupa merevisi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Noor H. Dee&lt;br /&gt;Si Tukangtidur&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-4942182844938471653?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/4942182844938471653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/revisi-atau-mati-oleh-tukang-tidur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4942182844938471653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4942182844938471653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/revisi-atau-mati-oleh-tukang-tidur.html' title='Revisi atau Mati? (Oleh : Tukang Tidur)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwzU7TdcfJI/AAAAAAAAAdw/zWWLkQYmaCg/s72-c/41W8sbzWpwL._SL500_AA280_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3080156450838205134</id><published>2009-11-23T07:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T07:52:28.313-08:00</updated><title type='text'>Lebih dari sekedar Ibu Rumah Tangga (Oleh : Tantang Mentari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwqvreJICGI/AAAAAAAAAdY/gmxPyUhwMtw/s1600/1_611764213m.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 115px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwqvreJICGI/AAAAAAAAAdY/gmxPyUhwMtw/s400/1_611764213m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407327463972276322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pekerjaan anda?” tanya seorang pegawai wanita bagian administrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya teringat cerita seorang ibu yang menceritakan betapa kesalnya ia, ketika ditanyai seperti ini, lalu ia menjawab pekerjaan saya seorang ibu rumah tangga. Dan pegawai itu mengatakan , Kami tidak menggolongkan ibu rumah tangga sebagai pekerjaan, itu termasuk dalam istri. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pekerjaan yang mereka maksud itu, harus seorang pegawai seperti mereka, eksekutif yang berpenampilan wanita karier, bersikap efisien, dan memiliki jabatan yang berwibawa. Selain itu bukan pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu rumah tangga. Seorang Ummu warobbatul bait, pengurus rumah tangga, tidak termasuk didalamnya. Hanya karena tidak berpenampilan seperti itu. Definisi Ibu rumah tangga adalah sebuah aktivitas remeh untuk dimengerti oleh otak sederhana seperti mereka. Anggapan masyarakat yang seperti ini yang terkadang membuat perempuan sekarang “dipaksa” untuk memutar otak agar dapat bekerja meskipun ia harus meninggalkan anak dan suaminya, kewajiban utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Saya tidak ingin membahas hukum bekerja bagi seorang wanita, terlebih ketika ia sudah menikah. Karena sampai kapanpun hukumnya jelas tidak berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ibu yang kesal tadi. Ada seorang ibu yang ketika ditanyai tentang pekerjaannya dia menjawab, “ Saya adalah Research Associate di bidang Pengembangan Anak dan Hubungan Masyarakat.” Saya yakin, yang menanyai akan tertegun sejenak untuk menganalisa kira-kira itu pekerjaan seperti apa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegawai itu tertegun sejenak, penanya membeku di angkasa, ia melihat ke atas seakan-akan ia belum memahami benar ucapan ibu itu.  Diulanginya lagi jabatan yang tadi ia sebut dengan  perlahan-lahan dengan menegaskan kata-kata yang dianggapnya penting. Dengan mata lebar ia menatap jabatan yang megah dan mulia tersebut ditulis oleh pegawai itu dengan tinta hitam tebal di atas formulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolehkah saya bertanya, “ kata pegawai itu penasaran, “ apa yang kau lakukan dalam pekerjaanmu ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tenang, tanpa rasa panik sedikitpun, ibu itu menjawab, “Saya terlibat dalam program penelitian yang berkesinambungan dalam Labolatorium dan di Lapangan (dalam keadaan normal akan kukatakan di dalam dan di luar rumah). Saya bekerja untuk majikanku (yakni Rabbku dan karenaNya saya penuh ketaatan pada suamiku) dan saya telah mendapat penghargaan karena 4 keberhasilanku (semuanya anak perempuan). Sudah barang tentu, pekerjaan ini sangat penting dan berat bagi kemanusiaan (adakah kaum ibu yang tidak setuju?). saya sering harus bekerja 14 jam sehari (lebih tepat 24 jam sehari). Pekerjaan ini penuh tantangan dibanding dengan kebanyakan karier yang ada. Dan keberhasilan pekerjaan ini tidak hanya membuat saya akan berbahagia jangka pendek tapi juga yang  berjangka panjang (di dunia dan di akhirat maksudnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini, nuansa penghormatan mulai terdengar dalam nada bicara pegawai itu ketika ia menyelesaikan isian dalam formulirnya. Ia kemudian berdiri dan mengantarkan ibu itu sampai ke pintu depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar ingin memberi pelajaran bagi orang-orang seperti ini. Saya rasa itu sudah cukup sebagai awal untuk mengalahkan BIROKRASI yang sering meremehkan pekerjaan Mulia ini,, yang dari pengasuhannya lah sebuah Peradaban akan tercipta. Dalam catatan pegawai itu ibu itu menjadi seorang terhormat dan sangat dibutuhkan bagi umat manusia, bukan hanya sekedar ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan terspesial untuk seluruh Kaum ibu karena keagungan perannya. Semoga Allah ampuni dan sayangi beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(special teruntuk saudariku “ ummu pedang “ yang sedang menjalani episode ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(dikembangkan dari tulisan tak bertuan, “Not Just Another Just Mom”)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coretan akhir, 22 Nov 2009&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3080156450838205134?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3080156450838205134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/lebih-dari-sekedar-ibu-rumah-tangga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3080156450838205134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3080156450838205134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/lebih-dari-sekedar-ibu-rumah-tangga.html' title='Lebih dari sekedar Ibu Rumah Tangga (Oleh : Tantang Mentari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwqvreJICGI/AAAAAAAAAdY/gmxPyUhwMtw/s72-c/1_611764213m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-5337913740203395441</id><published>2009-11-19T21:58:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T22:03:09.337-08:00</updated><title type='text'>Negara Bernama Keluarga (Oleh Divan Semesta)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwYxEPANxmI/AAAAAAAAAcA/DoONHSrhUcE/s1600/watch+my+back.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwYxEPANxmI/AAAAAAAAAcA/DoONHSrhUcE/s320/watch+my+back.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406062351521531490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abah! cari aku dong..!" teriak najma, putri sulung saya, yang lagi ngumpet bareng Ayla. "maap ya, mbak...! abah lagi kerja...!" jawab saya tidak beranjak dari depan laptop. "abah..! ayo cari dong...!" teriak najma lagi. "abah lagi sibuk, mbak...! maen ama adek ayla aja ya...?!" saya msh terpasung di depan laptop. tapi lalu selintas muncul pikiran baik saya, saya ingin kasih kejutan bwt putri2 saya.. saya pun keluar ruangan menuju ruang tamu tempat najma dan ayla bersembunyi di balik gordyn. "mana ya mbak najma ama mbak ayla...?!&lt;span class="fullpost"&gt;qo ga keliatan...?!" saya pura2 tidak melihat meski mereka nampak jelas ada di balik gordyn, mereka pun tertawa. saya terus mencari di samping mereka dan membuka gordyn tapi tetap pura2 tidak melihat, najma dan ayla semakin keras tertawa, mereka tau bahwa saya pura2 tidak melihat. "abah! aku disini..!" seru ayla, tapi saya msh saja terus mencari sambil pura2 tidak melihat mereka, tawa najma n ayla pun semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah permainan favorit najma n ayla, main petak umpet tapi yang nyari pura2 ga tau mangsanya, saya sering mencari najma n ayla di ketiak mereka atau di kantong mereka sendiri bahkan mencari di lubang hidung atau mulut mereka sambil bilang "mana ya mbak najma ama mbak ayla...?! qo ga keliatan..?! ngumpet dmn ya..?!", saya jamin mereka akan tergelak ketika saya melakukan itu dan mereka akan terus berteriak "abah! aku disini!" sampai mata kami saling bertemu baru saya akan mengakui keberadaan mereka, "oh.. ternyata di sini... td abah cari kemana2 ga ketemu...!". mereka akan meminta saya melakukan permainan itu sekali lagi dan lagi. mereka bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternyata, mudah sekali membuat anak2 bahagia, tidak perlu dibawa ke dufan atau mekarsari, cukup kita luangkan waktu dan perhatian kita juga sedikit tenaga kemudian mereka pun bahagia. sederhana sekali. namun jujur saya akui, saya sering menolak ajakan anak2 untuk bermain dengan alasan sibuk, padahal saya hanya bekerja di rmh di depan laptop.&lt;br /&gt;"abah lagi kerja ya?" tanya ayla putri saya yang berusia 2 tahun jika saya nampak khusyuk di depan laptopp.&lt;br /&gt;"iya.."&lt;br /&gt;"cari uang..?"&lt;br /&gt;"iya.."&lt;br /&gt;"bwt beli susu?"&lt;br /&gt;"iya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pertanyaan ayla persis seperti yang saya ajarkan. saya mgkn bisa berbahagia karena menganggap anak saya pengertian dengan kesibukkan ayahnya, tapi dari sudut pandang yang berbeda bisa jadi saya sedang mengajarkan ttg pemakluman terhadap anak2 saya, sama seperti pemakluman yang diajarkan pemerintah kepada rakyatnya ketika menaikkan harga BBM, menjadikan kampus sebagai BHMN, melakukan privatisasi BUMN. pemakluman atas suatu ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah suatu ketika saat najma yang belum genap 4 tahun menghampiri saya yang sedang khusyuk di depan laptop,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"abah lagi kerja ya?!"&lt;br /&gt;"iya sayang..." saya jawab tanpa berpaling dari lcd laptop (betapa kejamnya saya)&lt;br /&gt;"abah qo kerjanya ga selesei2,sih...?!" ucap najma santai tapi jelas saya menangkap ungkapan itu sebagai protes (kecil2 sudah jadi demonstran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Degh!! saat itu sepertinya ada yang membentur jantung saya, saya sudah sejak pagi di depan laptop hingga sore hari, jadi seharian saya di rumah tapi belum juga meluangkan waktu untuk anak2 saya. luar biasa! ini sungguh bertentangan dengan alasan saya kenapa dulu sejak kuliah bertekad untuk tidak mencari kerja kantoran dan memilih berwirausaha dengan konsep small office home office.saya memilih berwirausaha dengan harapan bisa punya waktu lebih banyak untuk keluarga dan sahabat2 saya, saya membayangkan kapan pun saya bisa bercengkrama dengan istri dan anak2 juga mengunjungi saudara dan sahabat tanpa harus menunggu weekend atau tanggal merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di tengah malam ini saya merenung sambil mengingat kejadian sore tadi saat bermain petak umpet bersama putri2 saya, ternyata kebahagiaan bagi anak2 begitu sederhana, paling tidak begitulah kesimpulan saya berdasarkan pengamatan terhadap anak2 saya sendiri. kebahagiaan bagi mereka adalah adanya curahan kasih sayang dari orang2 terdekat mereka. kebahagiaan bagi mereka adalah kebersaaman dalam kasih sayang. kebahagiaan bagi mereka sgt berbeda jauh dengan arti kebahagiaan bagi para koruptor yang meletakkan kebahagiaan pada pencapaian materi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya pun kemudian berpikir lagi, jangan2 orang tua yang sibuk dan enggan meluangkan waktu untuk anak2nya lah yang scara tidak langsung ikut andil dalam menciptakan manusia2 materialstik dan pada ekstrimnya akan menghalalkan segala cara demi kepentingan duniawi. betapa tidak?! orang tua yang sibuk dan enggan berbagi waktu dan kasih sayang dengan anak2nya lebih suka membelikan sekarung mainan agar anaknya bisa bahagia, jika mainan yang biasa2 saja sudah tidak dapat membahagiakan anak2nya maka ia membelikan mainan yang lebih canggih lagi hingga jika memungkinkan ia akan membelikan mainan yang paling canggih saat itu. mungkin tidak salah jika saya menyimpulkan bahwa orang tua yang seperti ini telah mengalihkan arti kebahagiaan bagi anak2 yaitu kebersamaan dalam kasih sayang menjadi sekedar ketersediaan materi semata. ketika anak2nya beranjak dewasa maka orang tua seperti ini lebih suka memberikan setumpuk uang daripada mendampingi saat2 penting dalam hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepertinya tidak banyak orang yang akan menyangkal jika saya menyatakan bahwa kondisi negeri yang kita cintai ini sedemikian kacau balau, keadilan sulit untuk ditemukan, rakyat kecil tidak diperhatikan dan tidak mendapatkan haknya, kepentingan para pemilik modal diutamakan sedangkan kepentingan rakyat diabaikan, tapi mudah2an kita tidak turut memperburuk keadaan dengan tidak memperhatikan anak2 kita. anak2 kita adalah harapan masa depan, kita harus mendidiknya dengan kasih sayang, kita ajari mereka tentang kebersamaan dan menjauhi sifat individualistis, kita pahamkan mereka tentang makna kehidupan yang sejatinya adalah pengabdian kepada Rabb Semesta Alam dengan menjalankan segala aturanNya, anak2 kitalah nanti yang akan berada di garis terdepan dalam upaya menjadikan dunia ini lebih baik untuk semua ummat dengan kebersamaan dalam ketundukkan pada tuntunan Sang Pencipta. mudah2an kita semua berhasil menjadi pemimpin yang baik yang memperhatikan rakyatnya di negara kecil kita yang bernama keluarga. (ali mufti)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-5337913740203395441?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/5337913740203395441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/negara-bernama-keluarga-oleh-divan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5337913740203395441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5337913740203395441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/negara-bernama-keluarga-oleh-divan.html' title='Negara Bernama Keluarga (Oleh Divan Semesta)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwYxEPANxmI/AAAAAAAAAcA/DoONHSrhUcE/s72-c/watch+my+back.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-4488775248905902149</id><published>2009-11-19T21:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T22:18:10.526-08:00</updated><title type='text'>Writer’s Block Dilarang Masuk - sebuah tips menghadapi kebuntuan menulis - (Oleh : Tukang Tidur)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwYvRC5K_WI/AAAAAAAAAb4/E3uUXjXqrkg/s1600/lightbulb+idea.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwYvRC5K_WI/AAAAAAAAAb4/E3uUXjXqrkg/s320/lightbulb+idea.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406060372585807202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block. Namun, apa sih writer’s block itu? Ada yang bilang bahwa writer’s block adalah kutukan. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa writer’s block itu cuma mitos. Tapi, hampir semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini:    &lt;span class="fullpost"&gt;duduk di depan layar komputer, jari-jari sudah gatal untuk segera menekan tuts di keyboard, dan segala macam gagasan berkelindan di dalam tempurung kepala. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada satu kata pun yang lahir. Ide tak juga kunjung mewujud. Dan, tentu saja, layar itu tetap saja kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Writer’s block bisa dibilang misterius. Ia datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita duga. Kadang ia datang dari awal ketika kita ingin menulis, sehingga membuat kertas atau layar komputer kita tetap saja kosong dari awal sampai akhir. Kadang ia datang di saat tulisan kita sudah lumayan banyak, sehingga kita sudah seperti pengendara motor yang sedang kehabisan bensin, mogok ditengah jalan tanpa bisa melakukan apa-apa. Bahkan ia juga pernah datang di saat-saat terakhir ketika tulisan kita sedikit lagi akan selesai. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika hal tersebut terjadi oleh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa Writer’s Block Bisa Terjadi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo, penulis buku Mengikat Makna Update, pernah mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya writer’s block itu ada banyak. Di antaranya adalah: pertama, miskin bahasa atau kata-kata. (Punya banyak ide, tapi tak bisa dikeluarkan karena kata-kata yang tersimpan di dalam diri tak bisa menampung ide-ide hebat tersebut). Kedua, tak memiliki topik yang mengesankan (bermakna) untuk ditulis. Kita sudah kepengin atau kebelet menulis, komputer sudah dinyalakan, tapi yang mau kita tulis tidak menggairahkan diri kita, ya, akhirnya nggak ada yang bisa dikeluarkan dari diri kita. Ketiga, tidak berani dan enggan mencicil menulis. Sebenarnya kalau kita mau pelan-pelan mengeluarkan bahan-mentah tulisan, nggak ada yang namanya writer’s block itu. (baca Tentang "Writer's Block", yang dimuat di Mizan.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana Mengatasi Writer’s Block?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Eka Kurniawan, penulis novel Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, fenomena writer’s block serupa seorang pejalan yang terjebak di tengah belukar. Belukar itu bisa merupakan rumpun yang belum terjamah, bisa pula merupakan belantara jalan raya yang tanpa petunjuk. Untuk mengatasinya cukup sederhana, yaitu kita harus kembali lagi dari awal dan pertanyakan kembali apa tujuan kita menulis. Kata Eka Kurniawan, “Saya harus tahu mengapa saya masuk ke belukar tersebut: mengapa saya menulis sesuatu. Saya juga harus tahu apa yang harus saya bawa untuk membabat belukar, saya harus tahu segala yang diperlukan untuk menuliskannya. Dan saya tak akan terjebak selamanya di dalam belukar, jika saya tahu kemana arah yang hendak saya tuju: kemana saya ingin membawa tulisan saya.” (baca Writer’s Block, Bagian 1: Jalan Belukar yang dimuat di ekakurniawan.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, mungkin tips-tips untuk menghindari writer’s block bisa saya paparkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tentukan Ide&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat penting. Ibarat ingin pergi ke suatu tempat, kita mesti tahu dulu tujuan kita. Kalau tidak, bisa-bisa kita bingung dan diam di tempat, atau paling buruknya kita akan tersesat. Itu sebabnya, sebelum menulis, kita mesti tahu dulu apa sih sebenarnya yang ingin kita tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Write About  what You Know&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, untuk seorang penulis pemula, sepertinya rumus “tulislah apa yang kamu tahu” itu memang bisa dijadikan sebagai panduan. Kadang kita memang selalu ingin menulis segalanya. Tentang mimpi, tentang nuklir, tentang seorang anak yang mengidap penyakit dislexia, tentang revolusi Perancis, tentang anarkis di Spanyol, tentang konspirasi sekte Mason Bebas, tentang si Google Guys Larry Page dan Sergey Brin, tentang penduduk asli Badui dalam, tentang sejarah Batavia, tentang Batik, tentang silsilah Nyi Roro Kidul, dan lain sebagainya. Semuanya ingin kita tulis, seolah-olah hidup kita sebentar lagi akan selesai. Padahal pengetahuan kita akan itu semua tidaklah terlalu banyak, bahkan bisa dibilang amat sedikit. Itu sebabnya, ketika kita ingin menulis sesuatu yang tidak kita tahu, writer’s block pasti akan datang menyapa kita. Waspadalah! Waspadalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cari Data&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tetap ngotot untuk menulis cerpen atau novel tentang—misalnya—konspirasi sekte Mason Bebas, padahal pemahaman kita akan hal itu sangatlah sedikit, apa boleh buat, kita harus cari data yang banyak. Kita bisa searching di google.com dan cari sebanyak-banyaknya situs yang membahas tentang tema yang ingin kita tulis. Kita ketikkan saja kata kunci seperti Freemason, Zionis, Teodor Herzl, Kabala, Talmud, dan lain semacamnya. Atau mungkin bisa juga kita baca buku-buku yang membahas tentang permasalahan tersebut. Catat segala hal yang menurut kita penting. Insya Allah, dengan banyaknya data yang kita punya, writer’s block akan mudah diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paragraf Pertama Begitu Menggoda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah paragraf pertama yang bagus—setidaknya bagus menurut kita. Sebab, paragraf pertama yang bagus bisa menyemangati kita untuk membuat paragraf-paragraf yang berikutnya. Gairah kita akan menjadi semakin terpacu. Sebaliknya, jika paragraf pertamanya sudah jelek, kita tentu jadi malas untuk membuat paragraf yang berikutnya. Itu sebabnya, menurut saya, paragraf pertama adalah unsur yang sangat penting dalam memulai sebuah tulisan. Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa Hemingway butuh waktu yang sangat lama hanya untuk membuat paragraf pertama, dan setelah paragraf pertama sudah selesai, maka ia akan menulis terus tanpa bisa dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat paragraf pertama yang bagus, tentu saja kita harus banyak berlatih. Kita bisa membaca tulisan-tulisan para penulis yang—katakanlah—sudah senior. Kalau perlu, tiru saja sampai sama persis. Setelah itu kita modifikasi dengan gaya kita. Tambal-sulam dengan kalimat-kalimat yang kita punya. Jangan khawatir, tindakan copy the master bukanlah tindakan kriminal. Bahkan penulis yang sudah terkenal pun pernah melakukan hal yang demikian. Saat ini kita sedang tidak berbicara tentang plagiat dan orisinalitas. Saat ini kita sedang belajar menulis. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Macet di Tengah Jalan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditengah jalan tiba-tiba tulisan kita macet, sabar dan tidak usah panik. Barangkali memang sudah saatnya kita untuk berhenti sejenak. Seduh kopi dulu jika kita memang pecandu kopi. Kalau perlu rebus indomie dulu, sebab siapa tahu saja kita sedang lapar. Tapi sejenak saja, jangan- lama-lama. Takutnya nanti kita malah tercerabut dari tulisan kita. Sebab writer’s block sering juga terjadi karena hal ini. Ketika kita rehat terlalu lama, dan ketika kita mencoba untuk menulis kembali, tiba-tiba saja kita jadi bingung untuk melanjutkan tulisan kita itu. Feel kita jadi berbeda. Segala yang kita rasa jadi tak sama. Kita seolah-olah harus memulai lagi dari awal. Hufff..... Kalau terjadi seperti ini, kita bisa membaca tulisan kita itu dari awal, resapi setiap kalimat yang sudah kita tulis, rasakan segala rima yang sudah kita ciptakan, sampai akhirnya feel kita kembali seperti semula dan semangat kita kembali menyala.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Menemukan Jalan Buntu? Turn Off Your Computer!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tulisan kita benar-benar macet dan seolah-olah kita seperti terjebak di jalan buntu dan kita tidak bisa bergerak kemana-mana, padahal segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, mungkin memang sudah saatnya untuk segera mematikan layar komputer kita atau menutup buku tulis kita. Buka pintu kamar, dan bermainlah keluar rumah. Tak usah terlalu dipaksakan, yang penting kita sudah berusaha. Sebab, segala sesuatu yang terlalu dipaksakan itu tidak baik. Apa pun itu. Pergilah keluar rumah dan saksikanlah segala peristiwa yang terjadi di sekitar kita: sekumpulan bocah bermain kejar-kejaran, seekor kucing mengeong di pinggir jalan, tukang sayur sedang berjualan, dan lain sebagainya. Semoga saja dengan menyaksikan segala hal yang terjadi di sekeliling kita, energi menulis kita menjadi terpompa kembali. Dan jalan buntu yang semula menghadang kita, akan dengan mudah kita hancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya sekian dulu tulisan ini saya buat. Semoga bermanfaat. Jika kalian memiliki tips-tips yang terlewat oleh saya, alangkah baiknya jika kita saling berbagi. Selamat menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Noor H. Dee&lt;br /&gt;Si Tukangtidur&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-4488775248905902149?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/4488775248905902149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/writers-block-dilarang-masuk-sebuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4488775248905902149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/4488775248905902149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/writers-block-dilarang-masuk-sebuah.html' title='Writer’s Block Dilarang Masuk - sebuah tips menghadapi kebuntuan menulis - (Oleh : Tukang Tidur)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwYvRC5K_WI/AAAAAAAAAb4/E3uUXjXqrkg/s72-c/lightbulb+idea.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-1062978972928400435</id><published>2009-11-16T01:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T01:59:26.692-08:00</updated><title type='text'>Sempurna Itu... (Oleh : Tantang Mentari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwEiWD_ZNZI/AAAAAAAAAag/k06__GBtSuo/s1600/139611-FB~Silhouetted-Man-Leads-a-Donkey-Bearing-a-Pregnant-Woman-Reminiscent-of-Joseph-and-Mary-Israel-Posters.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwEiWD_ZNZI/AAAAAAAAAag/k06__GBtSuo/s320/139611-FB~Silhouetted-Man-Leads-a-Donkey-Bearing-a-Pregnant-Woman-Reminiscent-of-Joseph-and-Mary-Israel-Posters.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404638790244971922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nak, jangan susahkan hidup kita dengan tidak sukanya orang pada kita. Tapi, tetap berusahalahlah kamu untuk selalu baik dengan siapa saja.” teringatku dengan kata seseorang yang mulai terlihat guratan lelah diwajahnya menjalani kehidupan ini. Dan hampir sama dengan sebuah ungkapan yang sangat menggugah, ''Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tetapi urusan orang itu dengan Allah SWT.''    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya tidak menemaninya ngobrol, atau sekedar duduk nonton dunia dalam berita bersamanya. Sok sibuk. Sampai dua bulan terakhir ini muncul pertanyaan di benakku. Kapan saya terakhir bicara dengannya? Sebuah kerinduan yang aneh. Kami bertemu setiap hari. Kami satu atap. Tiap pagi pun saya masih sempatkan untuk sekedar menatap wajahnya. Tapi tetap kerinduanku padanya dapat kurasakan setelah tidak berada dirumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak kata-kata darinya yang menginspirasi kehidupan saya. Sederhana. Kenapa sosoknya tidak hanya kami yang merindukannya. Tapi orang-orang sekitar kamipun begitu. Bahkan mungkin yang tidak suka dengan beliaupun begitu. Sosok yang sudah terlalu banyak mendapat hinaan mungkin. Sosok yang sudah terlalu banyak menumpahkan air mata mungkin. Sosok yang tidak malu untuk meminta maaf kalau memang beliau salah. Meski terhadap anak umur 4 tahun sekalipun. Bukan, bukan hanya meminta maaf, tapi memohon. Bukan pula sekedar memohon, tapi membuat anak itu mengerti kenapa beliau berbuat hal yang terlihat menyakiti. Sosok pendengar yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, insya Alloh saya tidak ada maksud untuk membanggakan sosok beliau. Tidak sama sekali. Hanya sekedar berbagi. Banyak orang disekitar kita yang mampu menginspirasi. Dan saya pun tidak bermaksud mengindahkan inspirasi terbesar, yakni Alloh dan RasulNya. Karna sudah semestinya semua dilakukan karna termotivasi pada keduanya, tidak kurang mereka mencontohkan indahnya menjalani hidup dengan Sami’na wa’ato’na. Dan bagi saya, ditakdirkannya sosok ini ada dalam kehidupan saya, membuat saya pun harus mengenal beliau. Maka itu akan muncul kepercayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga yang dilakukan oleh seorang anak yang semerta-merta percaya pada perkataan ayahnya yang mengatakan, kalau dia diperintahkan untuk menyembelihnya. Kalau mereka tidak saling mengenal, tidak akan muncul kepercayaan. Kepercayaan kalau ayahnya tidak mungkin berbohong. Percaya kalau dia tau ayahnya pun berat untuk melakukan hal itu. Dan anak itupun hanya mengatakan, kalau memang Rabbmu memerintahkan seperti itu, maka laksanakanlah. Maka kau kan dapati saya termasuk orang-orang yang sabar. Maka yang bisa kita lakukan sekarang apa??? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit saja, membutuhkan waktu yang tidak lama bahkan. Dengarkan pengalaman hidup mereka. Sosok pribadi yang sederhana tapi mampu menggapai hal-hal yang tidak sederhana. Maka jangan pernah sepelekan hal-hal yang sederhana. Sesuatu yang terlihat sederhana itu hasil dari sesuatu yang luar biasa. Maka itu Alloh Swt menantang kita untuk membuat Lalat kalau kita bisa. Itu pointer yang ingin saya bagi disini. Yang bisa kita lakukan itu yang menjadikan kesederhanaan  menjadi memukau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau yang melakukan hal yang sempurna dalam kehidupan kami.  Meski banyak orang yang mengatakan tidak ada yang sempurna. Biarlah. Bagi kami, Sempurna itu tidak siap, melakukan. Tidak tau, angkat tangan. Salah, minta maap. Berdosa, bertaubat. Ingin selamat, taat. Itu sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah kawan, pada pemilik semesta ini. Untuk orang-orang yang telah dianugerahkanNya menemani hidupmu. Dia Yang tidak memerlukan apapun, tapi semua memerlukannya. Temukanlah Ia agar hidupmu tidak sia-sia, agar tidak habis sebatas hembusan nafas saja. Agar hubungan inipun tidak hanya sebatas disini. Karena orang-orang yang saling mencintai karnaNya pun diizinkan untuk kembali berkumpul di kehidupan kekal nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coretan akhir, 14 Nov 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-1062978972928400435?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/1062978972928400435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/sempurna-itu-oleh-tantang-mentari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1062978972928400435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/1062978972928400435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/sempurna-itu-oleh-tantang-mentari.html' title='Sempurna Itu... (Oleh : Tantang Mentari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SwEiWD_ZNZI/AAAAAAAAAag/k06__GBtSuo/s72-c/139611-FB~Silhouetted-Man-Leads-a-Donkey-Bearing-a-Pregnant-Woman-Reminiscent-of-Joseph-and-Mary-Israel-Posters.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-8771388061512549548</id><published>2009-11-11T19:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T19:34:09.457-08:00</updated><title type='text'>Manusia Langka (Oleh : Divan Semesta)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvuCJoPWoTI/AAAAAAAAAYw/OSrwc9dsJEM/s1600-h/16233_1149660985447_1345280850_30378968_6990689_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 281px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvuCJoPWoTI/AAAAAAAAAYw/OSrwc9dsJEM/s400/16233_1149660985447_1345280850_30378968_6990689_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403055279893291314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, saya tidak mengingat judul filmnya apa, tetapi yang jelas malam itu saya tidak merubah-rubah saluran televisi seperti lazimnya. Sebuah film tampak di layar liquid, menarik sekali dan pemainnya anak-anak kecil yang benar-benar cantik yang tentu saja menarik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah film yang bercerita tentang bagaimana menghidupkan mimpi, bahwa dunia ini tidak hanya bisa dinikmati oleh indera, tetapi oleh fantasi, dan di pertengahan muncullah sebuah dialog unik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang anak lelaki ditanya: kenapa wajahmu muram?&lt;br /&gt;“Karena aku malas pergi ke gereja,” jawabnya santai. “Untuk apa pergi ke tempat yang tak kau percaya?” ia menambahkan.&lt;br /&gt;“Aku senang-senang saja pergi ke tempat itu,” Sang anak perempuan pun menyela. “Karena aku tidak membebani diriku untuk percaya atau tidak.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lantas anak lainnya di antara mereka mempertanyakan. “Mengapa kau tidak mempercayai Tuhan? Bukankah itu dosa dan kau nanti akan masuk neraka”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan yang ditanya tersenyum riang. “Aku yakin tuhan itu tidak disibukkan untuk memperhatikan kita, karena Tuhan sudah sibuk mengurus hukum alam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sahabatku terpengaruh oleh senyum perempuan kecil yang riang itu. Rupanya hal itu yang ingin dimasukkan oleh sang penulis scenario film. Sahabatku memandang diriku. Aku tak memandangnya. Kami sama-sama tahu bahwa dunia memang diisi oleh pertarungan ide dan salah satu syarat untuk survive/memenangkan hidup adalah: kita tak boleh cengeng. Kita tak boleh cengeng, mengeluh tentang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak bisa kita jawab. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan sang anak perempuan, aku yakin kalian bisa menjawabnya. Bagi kita pertanyaan itu terlalu gampang dan dan tidak mungkin membuat gamang karena kita mempercayai bahwa sang Pencipta memiliki satu system untuk tetap memonitoring pengakuan keimanan manusia (peratikan statement: Tuhan tidak disibukkan untuk memperhatikan kita karena tuhan sudah sibuk mengurus hukum alam) tanpa harus Ia terbungkuk, terjangkit asthma dan terkena tbc seperti halnya satpam tua yang kebanyakan menghisap bako (tembakau) sembari memonitoring situasi melalui cctv. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah memiliki system yang --kita yakini-- sangat canggih untuk dapat melakukan multitasking, memonitoring banyak hal dan hal ini sudah dijawab dalam Al Quran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ada-ada saja manusia jika berbicara dan bertanya. Diantara manusaia pernah ada yang menginginkan untuk menjadi malaikat, dan ada pula yang menginginkan menjadi Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Enak ya jadi Allah,” kata seorang pria sambil menjentikkan rokok putih pada asbak bamboo. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Memang kenapa?” tanya temannya. “Dimana enaknya?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya enaklah jadi Allah, soalnya kita bisa liat cewek-cewek yang mandi telanjang di jamban. Bisa ngelongok toket yang disembunyikan bra.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua orang pria itu ngakak. Lalu, selang beberapa detik kemudian petir menyalak, glegar! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka langsung berlari. Wajah keduanya pias. Dan setelah lari cukup jauh mereka istirahat sambil mengangkat tangan di kepala, ya hampir mirip dengan gaya jonggos ketika bertemu preangeplanter majikannya, sambil menguik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Itu kenapa ya? Kenapa bisa ada petir ya?”&lt;br /&gt;“Allah marah kali ke kita,” kata temannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua orang itu merinding.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aneh, aneh saja manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada lagi yang menggunakan hal-hal absurd dalam leluconnya. Ketika bermain judi acapkali kita melihat orang-orang mengoyang-goyang bahu sebelah kirinya. Hal itu mereka lakukan supaya malaikat salah menuliskan perilaku yang secara tidak langsung mereka akui keburukannya. Tidak cukup di sana, adakalanya seseorang mengajak untuk bermain di sebuah tempat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Hayu, hayu kita ke bawah atap seng. Kita main judi disana.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat teman-temannya bertanya kenapa, keluarlah pernyataan kalau maen judi di bawah seng aman sebab, “Nggak mungkin keliatan Tuhan,” sambil menunjuk ke atas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan awan pun bertumbukkan. Guntur menggelegar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sahabatku, mengatakan cerita yang kudapatkan dari seorang teman itu merupakan peristiwa kebetulan, tetapi aku mengatakan tak tahu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bisa kebetulan bisa pula teguran wallahualam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimanapun juga (adanya teguran atau kebetulan) seseorang yang mengaku beriman kadang tak pantas untuk mengungkapkan hal-hal yang terkesan menyepelekan sesuatu yang diagungkan olehnya (atau menyepelekan perbuatan-Nya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Biasa sajalah berbicara, tak usah terlalu gaya. Karena gaya seperti itu tak berguna bahkan untuk megeroposkan keyakinan seorang manusia, ya setidaknya manusia seperti kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah radio pernah mengatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan omongan, karena omongan bisa membuat kita murtad/keluar dari Islam berkali-kali. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Omongan seperti itu mampu membuat hati menjadi batu atau seperti halnya besi, menjadi karat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin, dipikir orang-orang yang suka guyon tentang Tuhan, penyiar radio tersebut tidak pernah berpikir ekstrem dalam melakukan pengembaraan. Inti kata, sang penyiar tidak pernah memiliki keberanian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin saja, tapi tidak untuk Salahuddin Lc. Sang penyiar dengan gelar Lc. Dibelakang namanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suaranya, seringkali terdengar saat aku merebahkan tubuhku. Suara lelaki yang konon lulusan Yaman itu terdengar lembut dan tegas tetapi ia tidak terkesan seperti tukang khotbah yang yang dari mulutnya keluar api. Ia terdengar santai, jawaban-jawabannya sarat oleh ilmu bahkan tidak hanya itu saja, aku rasa ia memang seorang pemikir yang menggali banyak perenungan mengenai ketuhanan bukan saja dari Al Quran dan hadist tetapi melalui pengalaman hidupnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ustadz, kenapa Allah menurunkan para nabi bukannya turun sendiri untuk membereskan permasalahan dunia?”  Tanya seseorang saat ia mengasuh sebuah rubric radio di malam hari. “Kalau dia yang turun sendiri permasalahan di dunia ini pasti beres sudah.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak ada emosi. Sang Ustadz sepenuhnya terkendali. “Pernyataan semacam itu, sudah ada sejak zaman dahulu kala,” ujarnya. “Memang bukan tentang Allah tetapi mengenai malaikat. Al Quran menjelaskan bagaimana orang-orang kafir bertanya mengapa malah kamu (nabi) yang diturunkan Allah. Padahal kamu tidak berbeda. Kamu manusia yang sama seperti kami. Mengapa tidak malaikat saja yang diturunkan Allah?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pertanyaan orang zaman sekarang mungkin terkesan lebih canggih karena mereka bukan saja menginginkan malaikat untuk membereskan masalah, melainkan menginginkan Allah yang langsung datang ke hadapan (mereka).”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sang Ustadz, mengambil nafas. Saat itu saya mulai berpikir bahwa ia akan menambahkan jawaban: jangankan manusia seperti kita, Musa sang utusan terpilih saja tak mampu melihat kilau cahaya-Nya. Ternyata, tidak. Ia menjawab di luar perkiraan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pertanyaan itu (mengapa tidak Allah saja yang turun/malaikat) tidak ada bagi Allah. Ia tidak akan pernah ditanya mengapa ia melakukan suatu perbuatan, karena yang akan di tanya itu adalah dirimu. Yang akan di tanya itu adalah manusia. Kita!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam bahasa kasar ala bandung Cicadas, mungkin sederhananya adalah: Kumaha aing we sia! Karena Allah memang lebih berkuasa atas kita. Karena Allah tidak sama dengan manusia ciptaannya yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jawaban itulah yang membuat saya memiliki keinginan untuk menemui sang Ustad. Jawaban itulah yang membuat saya menyimpulkan bahwa dia sudah pernah melalui titik ekstrem di dalam pemikiran dan melakukan pengembaraan dalam diskusi-diskusi teologis yang filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti ini menjadi sangat langka, dan karena keterbatasan edisinya, carilah mereka, temuilah mereka dimanapun kau berada.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-8771388061512549548?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/8771388061512549548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/manusia-langka-oleh-divan-semesta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8771388061512549548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8771388061512549548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/manusia-langka-oleh-divan-semesta.html' title='Manusia Langka (Oleh : Divan Semesta)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvuCJoPWoTI/AAAAAAAAAYw/OSrwc9dsJEM/s72-c/16233_1149660985447_1345280850_30378968_6990689_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3898038875491632530</id><published>2009-11-10T21:41:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T21:47:07.703-08:00</updated><title type='text'>Mengkritik Dengan Cerdas ( Oleh Tukang Tidur )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvpPqkQO_iI/AAAAAAAAAX4/mNtKe5pmk-s/s1600-h/kritik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 282px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvpPqkQO_iI/AAAAAAAAAX4/mNtKe5pmk-s/s400/kritik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402718295689199138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang penulis—apalagi penulis pemula seperti saya—kadang kalau menerima kritik itu memang menjengkelkan. Bagaimana tidak? Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat awal tulisan yang mantap, memikirkan ending yang aduhai, mencari metafora-metafora yang tidak kuno, memikirkan frasa-frasa yang menurut kita bertenaga, dan lain sebagainya. Tapi, ketika tulisan itu kita sebar ke orang lain, kok ya malah dikritik? Menyedihkan sekali, bukan?&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal sebelumnya kita sudah yakin sekali bahwa tulisan kita ini adalah tulisan yang paling bagus senusantara. Kuntowijoyo sama Danarto mah lewat, begitulah kita berkata sehabis membaca tulisan yang baru selesai kita buat. Tapi, apa boleh buat, meskipun menjengkelkan, setidaknya kita juga harus tahu diri. Bahwa siapa tahu saja tulisan kita memang buruk, dan kitanya saja yang terlalu narsis. Bukankah konsekuensi seorang penulis itu adalah harus siap menerima kritikan? Kalau tulisan kita tidak mau dikritik, ya, sepertinya kita tidak usah menulis saja. Simpel, toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini kita memang tidak akan pernah bisa melepas diri dari yang namanya kritikan. Setiap orang dari berbagai macam profesi—petinju, pelukis, penari, supir taksi, karyawan kantoran, tukang bakmi ayam, dan lain sebagainya—pasti pernah dikritik. Begitu pula dengan penulis. So, enjoy aja, begitu kata iklan rokok yang sering kita lihat di televisi. Meskipun kita jengkelnya bukan main, sebaiknya kita berfikir positif saja, bahwa kritik itu adalah demi meningkatkan kemampuan menulis kita juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena kita tahu bahwa dikritik itu tidak menyenangkan, maka sebaiknya ketika ingin mengkritik tulisan seseorang, kita juga harus memiliki siasat agar kritikan kita tidaklah terlalu pahit didengar. Meskipun ada perkataan “katakanlah kebenaran meskipun pahit”, tetapi untuk seorang penulis pemula (seperti saya, contohnya), kritikan yang pahit tentu saja bisa menghancurkan mental—dan bahkan bukan tidak mungkin penulis pemula tersebut akan berhenti menulis sebab dia memiliki pemikiran semacam ini: “Ah, gue emang nggak bakat nulis! Gue emang nggak bakat! Argh!!!” Nah lho! Makanya, kita juga harus hati-hati dalam memberikan kritik. Maksud hati ingin menolong, malah menghancurkan mental seseorang. Tentu kita nggak ingin semua itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, sebagai penulis, sepertinya kita juga wajib tahu tentang bagaimana cara memberikan kritik yang baik dan benar terhadap sebuah tulisan. Agar kritikan kita dapat membangun dan bukan malah mengancurkan mental seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tujuan Mengkritik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama mungkin kita harus tahu dulu apa tujuan kita mengkritik. Apakah kita mengkritik karena ingin memberikan manfaat kepada orang lain? Atau ingin mengajak berkelahi? Kalau ingin mengajak berkelahi, maaf, sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini. Sebab, ditulisan ini saya hanya akan memaparkan tentang bagaimana caranya agar kita bisa membuat kritik yang bagus dan bermanfaat. Sebab, tujuan kita mengkritik itu memang seperti itu. Kita mengkritik untuk membantu orang lain, bukan untuk membuat mental seseorang menjadi runtuh.&lt;br /&gt;Oke... mari kita mulai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa Tipe Penulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penulis yang tidak bisa dikritik. Meskipun mereka berkata, “Eh, gue ada tulisan baru, nih. Mohon dikomentarin, ya.”, bukan berarti mereka ingin dikritik. Mereka hanya ingin dianggap betapa tulisannya sangat bagus. Istilahnya, mereka hanya ingin narsis. Jika berhadapan dengan penulis seperti ini, kita jangan terlalu serius menanggapi karya-karyanya. Sebab, jika tulisannya kita kritik, bisa dipastikan mereka akan selalu berkilah dan akan berkata seperti ini, “Oh, itu emang sengaja gue menulis kayak gitu. Biar nggak kayak kebanyakan orang. Itu style gue.”. Atau berkata seperti ini, “Ini gaya tulisan gue. Ini ciri khas gue. Gue emang sengaja nulis tanda serunya banyak-banyak. Biar orang lain pada tahu, bahwa kalau ada tulisan yang tanda serunya banyak-banyak, mereka pasti bisa nebak kalau tulisan itu adalah karya gue. Iya, gue akuin, untuk menciptakan gaya sendiri itu emang sulit. Tapi gue udah berhasil menemukannya. Yeah!” Hufff! Menghadapi penulis seperti ini, alangkah baiknya kita diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga beberapa penulis yang tahan banting alias siap menerima segala macam kritikan dengan lapang dada. Penulis tipe ini adalah penulis yang siap “babak belur” demi meningkatkan kemampuannya. Meskipun dikritik dengan cara apa pun, baik dikritik dengan pedas atau dikritik dengan halus, ia akan menerima dengan senyum merekah (meskipun hatinya berdarah-darah. Hehe). Tapi ingat, tidak semua penulis seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Baca Dahulu Sebelum Mengkritik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin mengkritik sebuah tulisan, kita wajib untuk membacanya terlebih dahulu. Bacalah dengan teliti, kata demi kata, peristiwa demi peristiwa, pokoknya segala hal yang ada di dalam teks tersebut harus kita baca sampai selesai. Buatlah semacam catatan di tulisan tersebut jika memang ada yang perlu kita beri masukan. Beri tanda pada setiap kata atau kalimat yang sekiranya ingin kita kritik. Tulislah semua pemikiran kita setelah membaca habis tulisan tersebut. Jika kita masih memiliki waktu agak lama, kita bisa membaca ulang tulisan itu agar tidak ada yang terlewat. Lagi pula, dengan kita bersikap serius seperti itu, tentu komentar kita akan didengar dengan serius pula. Sebaliknya, jika kita seperti ogah-ogahan dalam memberi kritik, jangan harap penulis yang kita kritik itu akan mendengarkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kritik Tulisannya, Jangan Penulisnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup. Ketika ingin mengkritik sebuah tulisan, alangkah baiknya kita jangan menggunakan kata “Kamu”, tetapi gunakanlah kata “Tulisan kamu”. Ingat, yang harus kita kritik adalah tulisannya, bukan penulisnya. Jadi jangan sampai kalimat seperti ini terucap dari mulut kita ketika kita ingin mengkritik tulisan seseorang, “Kamu kayaknya kurang bagus kalau menulis puisi! Kamu harus banyak belajar lagi, jangan cuma modal semangat saja.” Gubrag! Bisa dipastikan penulis tersebut akan sakit hati dan mungkin tidak akan pernah mau menulis lagi. Begitulah, sekali lagi, jangan kritik penulisnya, tapi kritiklah isi tulisannya, seperti: plot, ending cerita, karakter tokoh, setting, dan lain-lain. Mengenai hal ini, Melissa Donovan, kontributor situs Writing Forward, mengatakan, “You are judging the work, not the individual who produced it.” Sekali lagi, yang harus kita kritik adalah hasil kerjanya, bukan individunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mulailah dari Pujian!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita ingin memulai sebuah kritikan, kita harus selalu mengawalinya dari sesuatu yang bagus-bagus dulu. Maksudnya begini, jika kamu membaca tulisan seorang penulis pemula, dan ternyata tulisan itu sangat buruk, kita cari dulu apa sih yang bagus dari tulisan tersebut. Sebab, seburuk apa pun sebuah tulisan, pasti masih memiliki kelebihan. Entah itu ide ceritanya, atau tokoh-tokohnya yang unik, atau hal-hal yang lainnya. Jadi, dengan begitu kita bisa memulai dengan sebuah pujian. Misalnya seperti, “Waw, ide ceritanya menarik banget. Asli, gue aja nggak kepikiran untuk nulis cerita kayak gini. Kok, elo bisa sih dapet ide keren kayak gini? Salut gue!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada seseorang yang berkata seperti itu, pasti kita tersanjung bukan main. Iya, kan? Tapi, berikanlah pujian itu dengan jujur. Maksudnya adalah sesuatu yang kita puji itu memang benar-benar bagus. Jadi kita terbebas dari yang namanya kebohongan. Lagi pula, kalau pujian kita tidak tulus dan jujur, pasti penulis tersebut akan sakit hati dan tidak akan pernah percaya lagi sama komentar-komentar kita. Setelah memberi pujian, baru deh kita beri masukan seperti, “Kayaknya kalau cerita ini dimulai dari sang tokoh yang lagi buang ludah, pasti jadinya keren, deh. Soalnya kalau awal ceritanya ‘matahari pagi ini indah sekali...’ atau ‘pada suatu hari...’ itu sudah sering banget dipakai dan sudah klise.”  Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengkritik seperti ini, tentu lebih mudah diterima oleh seseorang yang sedang kita kritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gaya Menulis Setiap Orang Berbeda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengkritik, ada baiknya kita harus tahu betul gaya menulis seperti apa yang kita suka, dan cobalah pisahkan hal tersebut ketika kita ingin memberikan kritik. Jangan sampai mentang-mentang kita tidak suka cerita dengan ending terbuka, lantas kita menganggap bahwa cerita teman kita itu jelek, hanya gara-gara cerita teman kita itu menggunakan ending terbuka. Bisa dipahami kan maksud saya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hindari Ungkapan Negatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritiklah dengan bahasa yang santun, dan hindari penggunaan ungkapan-ungkapan negatif seperti: “Tulisanmu ini membosankan!”, “Tema cerita seperti ini udah basi!”, atau “Dari tahun ke tahun tulisanmu nggak pernah berubah. Statis!”, dan lain semacamnya. Ada baiknya jika kita gunakan ungkapan-ungkapan positif seperti ini: “Ceritamu ini akan menjadi lebih menarik jika...”, “Sepertinya ceritamu ini akan lebih menggigit jika...”, dan lain semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingatkan sekali lagi, bahwa kita mengkritik adalah untuk membantu, bukan untuk menyakiti. &lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Kesimpulan dalam Mengkritik&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini saya akan memaparkan beberapa kesimpulan dalam mengkritik yang mudah-mudahan bermanfaat:&lt;br /&gt;•Jangan mengkritik jika kita tidak diminta untuk mengkritik&lt;br /&gt;•Berikan pendapat yang bagus dan jangan buang-buang waktu kepada penulis yang hanya mementingkan egonya&lt;br /&gt;•Kritik tulisannya, bukan penulisnya&lt;br /&gt;•Awali dari sesuatu yang bagus, kemudian baru kita paparkan kelemahannya&lt;br /&gt;•Berusahalah untuk objektif, dan pisahkan antara gaya yang kita suka dengan tulisan yang ingin kita kritik&lt;br /&gt;•Beri usulan yang paling kuat demi kemajuan penulis. Jangan beri usulan yang tidak jelas&lt;br /&gt;•Bersabarlah dan teruslah belajar untuk bisa mengkritik dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya sekian dulu tulisan ini saya buat. Semoga bermanfaat. Jadi, sudah siapkah kita menjadi pengkritik yang baik?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini saya kembangkan dari tulisannya Melissa Donovan yang berjudul How to Give Good Critique, yang dimuat di situs Writing Forward.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3898038875491632530?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3898038875491632530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/mengkritik-dengan-cerdas-oleh-tukang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3898038875491632530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3898038875491632530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/mengkritik-dengan-cerdas-oleh-tukang.html' title='Mengkritik Dengan Cerdas ( Oleh Tukang Tidur )'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvpPqkQO_iI/AAAAAAAAAX4/mNtKe5pmk-s/s72-c/kritik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-2489337918034396845</id><published>2009-11-07T22:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T22:20:34.186-08:00</updated><title type='text'>Just ISLAM! (Oleh Arytha Itte)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvZiyyRqf9I/AAAAAAAAAWI/YM9ksupNqwM/s1600-h/bendera-islam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvZiyyRqf9I/AAAAAAAAAWI/YM9ksupNqwM/s400/bendera-islam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401613427706331090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bismillahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah Anda dengan kesempurnaan yang ada pada Islam? Dalam Islam, tidak menutup kemungkinan siapapun menjadi pemeluknya, dari golongan apapun, suku bangsa bahkan warna kulit sekalipun. Islam terbebas dari batas teritorial, bahasa, adat budaya, dan perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Sayangnya, kebanyakan Muslim belum menyadari hal ini. Mereka cenderung membatasi diri pada “Islam yang ini- itu”, dan “Islam lain-lain”. &lt;br /&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya, seseorang menilai sesuatu bahkan menilai manusia lainnya dengan batas-batas fisik tertentu. Misalnya, orang yang mengaku berIslam tapi lebih mementingkan ka-sholeh-an dirinya pribadi daripada membantu menyelesaikan masalah saudaranya yang kebingungan karena ingin mempelajari Islam. Banyak kasus yang terjadi di lingkungan sekitar yang mengarah pada ke-Islam-an seseorang sehingga akhirnya membuat oranglain bertanya-tanya tentang ke-Islam-annya. &lt;br /&gt;Cobalah lebih terbuka dan pahami makna dari hadits ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 4677”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits diatas dikatakan bahwa, “setiap muslim bersaudara” oleh karenanya apapun dan bagaimanapun batasan-batasan fisik dan non fisik dari seorang muslim hanya diikat dalam sebuah hubungan persaudaraan yaitu persaudaraan karena adanya kesamaan aqidah. Selain itu, hadits diatas juga menyatakan bahwa hendaknya sesama muslim saling membantu dan menutupi aib saudaranya satu sama lain.&lt;br /&gt;Namun, kesalahan yang umum terjadi di masyarakat adalah kurangnya kesadaran muslim dalam memaknai hadits tersebut diatas. Makna kata “bersaudara” dalam berbahasa saat ini cenderung dipersempit menjadi “yang segolongan, sedarah, se-suku,dll”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan kurangnya pemahaman atas hadits tersebut, sangat jarang sekali saya temukan muslim yang dengan ramahnya atau dengan tulusnya membantu muslim yang lain, jangankan membantu, tersenyum saja enggan dan tak jarang juga mereka berbantah-bantahan, membuka aib bahkan saling mencaci. Adakah seorang yang seperti ini benar-benar merupakan muslim sejati?&lt;br /&gt;Jangan memancing oranglain untuk berpikir bahwa dirimu bukanlah muslim yang baik. Tunjukkan cara terbaikmu terhadap saudaramu, siapapun ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah wahai yang mengaku muslim, Islam adalah Rahmat bagi semesta alam, bukan hanya rahmat bagi diri sendiri ataupun hanya bagi golongan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;No Nation, No Territory, No Racism, JUST ISLAM!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hanya ingin mengingatkan, tanpa maksud apapun.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-2489337918034396845?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/2489337918034396845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/just-islam-oleh-arytha-itte.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/2489337918034396845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/2489337918034396845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/just-islam-oleh-arytha-itte.html' title='Just ISLAM! (Oleh Arytha Itte)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvZiyyRqf9I/AAAAAAAAAWI/YM9ksupNqwM/s72-c/bendera-islam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-8331567092432576749</id><published>2009-11-05T02:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T02:50:23.324-08:00</updated><title type='text'>Tanggung Jawab (oleh Divan Semesta)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvKt46sTt7I/AAAAAAAAAU0/Z7gyZ_DxbQM/s1600-h/a1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 298px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvKt46sTt7I/AAAAAAAAAU0/Z7gyZ_DxbQM/s400/a1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400570096510023602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama motornya sesuai dengan cepatnya kejadian yang kami sekeluarga rasakan: Thunder. Ya, seperti halilintar motor itu menghantam knalpot motor yang kami pinjam dari seorang kawan. Akibatnya, istri saya yang tengah mengandung melayang, jatuh di aspal. Demikian pula dengan anak kami.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itu, tak ada lagi yang saya ingat selain ucapan astagfirullah serta reflek untuk memastikan bahwa keluarga saya baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, istri saya hanya benjol dan memar di kepala. Sementara seperti banyaknya kecelakaan yang dialami anak-anak kecil, anak kami tidak kurang satu apapun. “Anak kecil biasanya dilindungi malaikat,” ucap seorang sahabat, tetapi saya mengangkat tangan, saya tidak faham tentang hal gaib seperti itu. Sedangkan kondisi saya? Kaki kiri saya lebam di tabrak ban, sementara kulit kanan mengelupas berdarah digerus aspal. Usai memastikan kami sekeluarga baik-baik saja, saya langsung menemui pria yang menabrak motor yang kami pinjam. Saya melihat kakinya bengkak. Sebelum saya sampai di hadapannya, ia sudah menuding. "Mas ini bagaimana?! Kok belok tiba-tiba!" protesnya sengit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah menyalakan lampu motor, tetapi saya lupa apakah saya berbelok tiba-tiba atau tidak. Karenanya, saya hanya diam. Saya memilih untuk tidak berargumentasi. Saya meminta maaf, padanya. Saya bertanggung jawab dengan tak membantah apapun perkataan pria itu, meski bisa jadi dia pun salah: motornya terlalu cepat, atau dia sedang melamun dan beraneka macam kemungkinan lainnya untuk meringankan tanggung jawab menjadi tanggung jawab bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu hanya kemungkinan. Kemungkinan bahwa dia salah bukanlah sebuah kebenaran. Kemungkinan tentunya berbeda dengan kebenaran. Saya tidak mau menyalahkan orang. Dan entah karena diamnya saya dimarahi, dan …. Memberikan tisu basah untuk membersihkan lukanya, wajahnya tiba-tiba melunak. Ada keikhlasan tampak di wajah dan matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, kami pun saling meminta maaf. Ia mengikhlaskan kejadian itu. Dan setelah mengusap anak-kami yang masih menangis ia pun pergi setelah saya memberinya kartu nama. “Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini masih berlanjut, ketika kami tengah mengemas pakaian dan barang, pria itu pun mengirimkan short message pada saya. “Mas bisa datang ke tempat saya? Maaf karena saya harus ke Sangkal Putung. Kaki saya retak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terhenyak, sebab kami harus segera meninggalkan Malang. Dengan menyesal kemudian saya memberitahukan bahwa Di Malang, kami tengah berlibur. Waktu cuti saya habis, dan malam ini kami harus pulang. Sebagai bentuk tanggung jawab saya pun mentrasfer uang kepadanya. Tak hanya itu saja, saya pun menguras atm untuk mengganti kerusakan motor yang saya pinjam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam liburan itu saya akhirnya mengeluarkan biaya yang sangat tak terduga. Di bulan Oktober ini akhirnya saya hanya memiliki beberapa ratus ribu untuk bertahan karena  tabungan yang sayangnya tidak bisa diuangkan segera dalam bentuk uang. "Kita mendadak jatuh miskin," istri saya tertawa renyah saat mengetahui kondisi keuangan keluarga kami. Saya pun mengiyakan dan mengatakan dengan optimis bahwa, "Kita masih memiliki kesehatan dan akal De’." Dan istri saya pun menambahkan kalimat yang kurang. “Bukan hanya itu,” ucapnya. “Kita tidak hanya memiliki kesehatan dan akal, tetapi kita memiliki uang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memandangi kota Malang dari balik jendela bis malam, kami bersyukur. Kami tak merasa rugi atas apa yang kami tanggung. Kami telah membelanjakan uang kami dengan sesuatu yang luar biasa. Kami menguras tabungan untuk membeli makanan immaterial immaterial bagi nurani. Kami membelanjakan uang untuk membeli makanan bagi nurani kami. Kami tak pernah merugi. Kami merasa semakin kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cerita itu hanyalah sebuah awalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah yang pernah saya baca, di masa para sahabat Rasul, ada seorang lelaki yang diajukan ke pengadilan karena melakukan pembunuhan. Untuk menegakan order, maka sang pembunuh kemudian dijatuhi hukuman mati dan sebelum hukuman mati dilaksanakan sang hakim pengadilan memberikan sang terdakwa untuk mengajukan keinginan terakhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang bersalah itu kemudian meminta izin untuk pamit kepada keluarganya, dan sang hakim pun mengizinkan, setelah sebelumnya member perintah pada pria itu untuk kembali pada hari eksekusi. Setelah menyetujui sang terdakwa pergi –entah mengapa--  tanpa kawalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu, ketika hari eksekusi tiba, masyarakat dan sanak kerabat yang ditinggalkan menanti datangnya sang terdakwa. Mereka berpikir pria itu akan melarikan diri. Maka munculah teriakan-teriakan yang menyalahkan sang hakim atas tidakan gegabahnya (membiarkan sang terdakwa tanpa kawalan). Akan tetapi teriakan itu mereda sebab di menit menit terakhir sebelum eksekusi dilaksanakan, sang terdakwa datang dengan ketabahan. Pembunuh itu datang dengan keberanian yang bersumber dari pertanggungjawaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat, hakim, sanak kerabat pria yang terbunuhpun mendecakkan lidahnya. Mereka terkagum-kagum atas bentuk pertanggung jawaban yang dilakukan sang pembunuh. Dan cerita ini berakhir mengharukan karena ketika eksekusi akan dilaksanakan, keluarga yang terbunuh berdiri, mereka bersepakat untuk mengampuni sang pembunuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara pandang manusia dibentuk oleh lingkungan meski pada dasarnya pertanggung jawaban harus diserahkan secara eksistensialis pada individu, karena apa yang masuk dan mempengaruhi cara pandang kita tergantung didiri kita sendiri. Alhamdulillah saya di bimbing oleh keluarga yang baik, dibimbing oleh bacaan-bacaan yang memperkenalkan saya akan bentuk tanggung jawab entah dari rasulullah, kisah para sahabat yang mulia, penjelajahan Old Shatterhand dalam Winnetou atau Karabennemsi, atau bahkan melalui filsafat eksistensialisme yang di paparkan oleh Kierkegaard atau bahkan Nietzche. Beruntung pulalah kita yang sudah mampu melakukan salah satu tahapan terkecil dalam melakukan pencarian terhadapan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama mengatakan dalam buku-bukunya menyatakan bahwa pencarian kebenaran harus diawali dengan pesucian jiwa. Jiwa harus dibersihkan dari unsur-unsur yang menghalangi cahaya. Jiwa yang tercemar oleh kesombongan dan kedengkian harus di bilas, dicuci. Dan ketidak mauan seseorang untuk bertanggung jawab adalah kekotoran yang menghalangi kebenaran. Karena ketidakmauan untuk bertanggung-jawab itu berasal dari kesombongan untuk tidak mengakui bahwa kebenaran sudah datang di hadapan hati dan pikiran seseorang, tetapi seseorang itu menafikannya, seseorang berlari menjauhi padahal nurani dia selalu memanggilnya untuk kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmauan untuk bertanggung jawab akan merugikan siapapun juga yang mempraktikannya. Dan hal ini langsung saya rasakan di bis Malam yang mengantarkan kami pulang. Puluhan penumpang sebuah bis malam jurusan Malang-Bogor kecewa, karena staff bus eksekutifnya tidak mau bertanggung jawab bahkan untuk meminta maaf setelah kenyamanan kami terganggu oleh air ac yang bocor di kursi lima orang penumpang, serta toilet yang baunya sangat menyengat juga atas mesin mogok yang terjadi tiga kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmauan untuk bertanggung jawab, meminta maaf staff bus itu sungguh mengecewakan sehingga beberapa penumpang mengatakan dengan suara yang keras, "cukup sekali saja naik bus ini!" Saya yang sudah tiga kali naik bus ini pun kecewa karena selama ini tidak terjadi perbaikan oleh management. Tidak ada pembelajaran berarti sebagai bukti tanggung jawab yang dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bayangkan puluhan orang yang sudah mempersaksikan diri untuk tidak menumpangi bus tersebut akan berbicara-mempromosikan keburukan pelayanan bus tersebut, sedangkan sebuah teori mengungkapkan bahwa pelayanan baik hanya akan dipromosikan kehadapan 3 orang sementara pelayanan buruk  orang. Bayangkan bagaimana bentuk tanggung jawab memiliki korelasi terhadap perusahaan atau bisnis yang kita kembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebuah perusahaan tanggung jawab adalah sesuatu yang harus menjadi core value sebuah perusahaan. Apabila dalam sebuah perusahaan berkumpul individu-individu yang tidak bertanggung jawab maka tunggulah kehancurannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah sebuah kalimat mulia yang mengatakan bahwa sejarah akan dipergilirkan. Manusia-manusia yang uncivilized akan digantikan oleh masyarakat baru yang mulia. Dan salah satu bentuk kemuliaan adalah bentuk pertanggungjawaban. Hanya individu, masyarakat, perusahaan, dan negara yang memiliki penduduk mulia sajalah yang mampu menjalani 'evolusi'. Pertanyaan pamungkas sebelum saya menutup tulisan ini, ialah, maukah? Maukah kita melakukan evolusi jiwa dengan bertanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-8331567092432576749?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/8331567092432576749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/tanggung-jawab-oleh-divan-semesta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8331567092432576749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8331567092432576749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/tanggung-jawab-oleh-divan-semesta.html' title='Tanggung Jawab (oleh Divan Semesta)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvKt46sTt7I/AAAAAAAAAU0/Z7gyZ_DxbQM/s72-c/a1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-6051584207220793109</id><published>2009-11-03T22:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T22:06:41.896-08:00</updated><title type='text'>Don’t Forget Your Roots, and Don’t Sell Out! ( Oleh Tukang Tidur )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvEZbBERPyI/AAAAAAAAAUE/8Tn0kjEHS4U/s1600-h/Skinhead+Roots+Album.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvEZbBERPyI/AAAAAAAAAUE/8Tn0kjEHS4U/s320/Skinhead+Roots+Album.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400125380127440674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Don’t Forget Your Roots, and Don’t Sell Out!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't forget the struggle&lt;br /&gt;Don't forget the streets&lt;br /&gt;Don't forget your roots&lt;br /&gt;And don't sell out!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu adalah seorang skinhead atau punk,&lt;span class="fullpost"&gt;tentu kamu sudah tidak asing lagi dengan lirik lagu Warzone di atas. Lagu di atas judulnya “Don’t Forget The Struggle, Don’t Forget The Streets”. Biasanya lagu tersebut sering digunakan untuk menasihati teman-teman di scene (komunitas) yang sudah mulai lupa dengan “roots”nya dan sudah mulai ada kecenderungan untuk bekerja sama dengan media-media besar (sell out!). Istilahnya, lagu tersebut sudah menjadi semacam reminder bagi semua orang yang berkecimpung di dalam lingkaran komunitas DIY (Do It Yourself), bahwa jangan sampai deh kita lupa dari mana kita berasal dan jangan sampai juga kita menjual idealisme kita kepada korporasi-korporasi besar—seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa band-band underground (aduh, males banget saya menyebut kata ini) lokal—hanya demi mendapatkan secuil popularitas yang akan cepat sekali memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulisan ini tentu saja saya tidak akan membahas panjang-lebar tentang scene, skinhead, punk, dan DIY. Sebab, selain karena saya memang sudah memutuskan untuk keluar dari “lingkaran” tersebut, saya juga memang tidak begitu paham dengan semua itu. Di tulisan ini saya hanya ingin memaknai dua baris terakhir dari lirik Warzone tersebut, yaitu: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Don't forget your roots, and don't sell out!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika saya seorang skinhead, mendengar dua kalimat itu tentu roots yang dimaksud adalah rootsnya skinhead, yaitu kelas pekerja. Working class protest: nothing more, nothing less! Jika saya seorang punk, mendengar kata don’t sell out itu tentu maksudnya adalah jangan pernah mau jadi pelacur-pelacur kapitalis dan jangan pernah mau berjabat tangan dengan record-record majorlabel seperti Musica, BMG Indonesia, Indosemar Sakti, Aquarius, EMI, dan lain semacamnya. Mereka (majorlabel) tidak tahu apa-apa tentang punk, yang mereka tahu cuma bisnis. Itu sebabnya kita harus melakukan semua itu dengan do it yourself. Makanya, ayo kita bikin musik keras-keras, bikin lirik yang kasar-kasar, biar tidak ada majorlabel yang tertarik dengan karya-karya kita, dan kita bisa bebas melakukan apa pun yang kita inginkan! Dan seterusnya... dan seterusnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayangnya saya bukanlah skinhead dan saya juga sudah bukan lagi seorang punk. Saya adalah seorang muslim. Nah, bagaimana jika kalimat “Don't forget your roots, and don't sell out!” itu saya bahas melalui perspektif Islam? Saya rasa, di sinilah inti tulisan yang ingin saya bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Don’t forget your roots!&lt;/span&gt; Oke, saya tidak akan melupakan roots saya. Namun, di manakah roots saya? Dari manakah saya berasal? Lebih jelasnya, oleh siapa saya diciptakan? Apakah saya ada dengan sendirinya, muncul dari dalam air, kemudian menjadi dinosaurus, menjadi buaya, menjadi kera, setelah itu baru menjadi seorang editor picisan? Tentu saja tidak. Saya bukan penganut Darwin si pelopor manusia kera itu, sebab teori evolusi ala Darwin itu memang masih spekulasi dan tidak terbukti secara empirik. Lantas, dari manakah saya berasal? Saya berasal dari rahim ibu saya dan ibu saya juga berasal dari rahim ibunya dan ibunya ibu saya juga berasal dari rahim ibunya juga dan begitu seterusnya sampai akhirnya mentok di dua manusia pertama yang bernama Adam dan Hawa. Di sinilah saya berjumpa jalan buntu. Lantas, dari manakah Adam dan Hawa berasal? Di sini saya pun sepakat untuk mengatakan bahwa ternyata kita tidak muncul dengan sendirinya dan tidak berasal dari hasil evolusi jangka panjang, tapi semua ini terjadi karena pastilah ada penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah ia.” &lt;/span&gt;(QS Ali Imran [3]: 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia” &lt;/span&gt;(QS Al-Baqarah [2]: 117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya tidak akan bertanya, “Lantas, siapakah yang menciptakan Allah Swt.?”. Sebab, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sudah salah sejak awalnya. Pertanyaan paradoks yang tak perlu dijawab. Lagipula, bukankah Allah sudah memberikan penjelasan kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“...Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”&lt;/span&gt; (QS Al-Ikhlas [112]: 3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, akhirnya saya tahu bahwa saya berasal dari Allah Swt. Sebagai seorang yang merasa diciptakan, tentu saja saya tidak ingin menjadi seorang pembangkang terhadap Pencipta saya. Saya adalah hamba yang lemah, yang menciptakan diri sendiri saja saya tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam. Ya, itulah roots saya. Bukan Indonesia, bukan punk, bukan skinhead, bukan Anarki, dan tentu saja bukan betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t sell out! Ya, tentu saja. Saya tidak akan pernah menjual keimanan saya dengan pemahaman mana pun! “Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa.” Begitulah yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika beliau ditawarkan materi dan kekuasaan oleh para petinggi Quraisy agar ia meninggalkan dakwah tauhidnya. Mantap! Seperti itulah makna don’t sell out! yang sempurna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim memang wajib menjaga keimanannya. Jangan gadaikan keimanan kita dengan pemikiran mana pun. Kapitalisme dan turunannya, komunisme dan segala variannya, anarkisme dan berbagai macam modelnya, dan lain sebagainya. Tidak perlu juga kita tambahi embel-embel semacam: Islam Komunis, Islam Anarki, atau Islam Demokratis, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh orang-orang Islam yang tidak percaya bahwa agamanya (Islam) adalah agama yang sudah sempurna, dan tidak perlu lagi ditambal-sulam dengan pemahaman lain yang cuma berasal dari tempurung kepala manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah makna &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Don't forget your roots, and don't sell out!”&lt;/span&gt; di mata saya sebagai seorang muslim. Bagaimana dengan kamu?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-6051584207220793109?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/6051584207220793109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/dont-forget-your-roots-and-dont-sell.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/6051584207220793109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/6051584207220793109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/dont-forget-your-roots-and-dont-sell.html' title='Don’t Forget Your Roots, and Don’t Sell Out! ( Oleh Tukang Tidur )'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SvEZbBERPyI/AAAAAAAAAUE/8Tn0kjEHS4U/s72-c/Skinhead+Roots+Album.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3797968520870864677</id><published>2009-11-01T17:50:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T17:58:41.861-08:00</updated><title type='text'>Kehati - hatian dalam menjaga hati (Oleh: Arytha Itte)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Su48ocLw2TI/AAAAAAAAASs/_DizF_z1AhU/s1600-h/emotional-intellegence.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Su48ocLw2TI/AAAAAAAAASs/_DizF_z1AhU/s320/emotional-intellegence.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399319668721768754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, dulu saya belum mampu untuk memahami pepatah ” mulutmu adalah harimaumu ” atau “ lisanmu sepenting hidupmu” dan berbagai pepatah lainnya yang berhubungan dengan masalah lisan. Marah-marah, menggerutu, mengumpat atau bahkan beristighfar adalah sebuah reaksi emosi yang muncul dari jiwa seseorang. Dari mana munculnya semua reaksi tersebut ? setelah mencari kesana kemari, akhirnya saya menemukan sebuah jawaban yang nyata, yaitu hati. &lt;span class="fullpost"&gt;Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini…: Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati”.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits diatas, saya berusaha untuk menyelami maksudnya berdasarkan logika yang terbatas ini. Ternyata hati memiliki peran penting bagi seluruh anggota tubuh lainnya. Hati yang memerintahkan seseorang berbuat baik maupun sebaliknya.&lt;br /&gt;Hati yang menggerakkan lisan untuk mengucapkan apa yang terkandung didalamnya. Bagi beberapa orang, sebelum lisannya bergerak, maka otaknya akan bekerja terlebih dahulu, menjadi filter dari setiap kata yang akan dikeluarkannya. Namun, bagi manusia lainnya diluar dari tipikal manusia yang sudah saya sebutkan diatas, kemampuan otak yang Allah berikan kepadanya tidak dipergunakan dengan baik, bahkan tidak jarang, tidak digunakan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya baru memahami makna dari pepatah tarsebut. Jika mengingat-ingat tausiyah dari salah satu ustadz terkenal di Indonesia,beliau mengatakan bahwa diri ini ibarat teko. Apa yang dikeluarkan dari mulut teko adalah gambaran dari apa yang ada didalamnya. Berbagai celaan sudah pernah saya terima, mulai dari yang biasa saja, hingga yang kasarnya bukan main. Bagitu halnya dengan pujian (tapi ndak banyak orang yang memuji saya, karena ndak ada yang pantas dipuji dari diri ini hehe )&lt;br /&gt;Lagi-lagi saya teringat dengan tausiyah beliau, yang beberapa kali saya dengarkan di mp3 komputer saya. Salah satu hal menarik yang pernah disampaikannya adalah tentang hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ketika ada yang memuji, kita harus punya ilmunya. Bahwa pujian itu sebenarnya tidak cocok untuk kita. Kita dipuji, karena orang lain tidak tahu siapa kita yang sebenarnya. Yang dipuji adalah topeng, sehingga jika kita dipuji dan tahu ilmunya, maka tidak akan terjebak dalam mendramatisir diri dan membohongi diri menjadi orang yang bangga dan bahagia menghadapi pujian tersebut. Padahal kita tahu, pujian itu tidak sepenuhnya cocok dengan diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dicaci, kalau kita tahu ilmunya, maka cacian dan penghinaan itu lebih sederhana, dibanding keburukan kita yang sebenarnya. Maka kita tidak akan panik, goyah, stress bahkan kita dengar saja dengan baik dan dijadikan bahan renungan. Siapa tahu, itu bukan cacian, tapi informasi dari Allah untuk perbaikan diri kita. Sebenarnya hinaan mereka adalah perkataan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghinaan adalah sarana dari Allah untuk peningkatan kemuliaan kita dan sarana pengetest kearifan kita… ” &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sangat menyukai saat seseorang marah, menghina atau mencaci saya. Karena dalam kegiatannya tersebut, saya bisa mendapat bermacam-macam kasus psikologi yang tidak ada dalam literature yang pernah saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi seseorang bukanlah sebuah skenario yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat rapih dan “waw” saat orang lain menyaksikannya. Tapi emosi adalah sebuah letupan jiwa yang dari sanalah karakter seseorang bisa tergali dengan sendirinya, tanpa perlu melakukan riset. Saat menyaksikan seseorang yang sedang marah, biasanya otak saya mulai terpacu untuk berpikir, mulai dari hal-hal yang dapat tertangkap indera saya. Kemudian saya cermati bahwa apa yang baru saja keluar dari lisannya adalah gambaran jiwanya, kemudian saya serap baik-baik setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, kemudian saya memperhatikan gerak tubuhnya, sejauh mana dia bisa menguasai setiap bagian dari tubuhnya disaat marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja, karena marah, tangannya bergerak dengan tidak terkendali sehingga melukai lawan bicaranya, atau dampak terhebat dari ketidakmampuannya mengontrol diri adalah tanpa sadar menghilangkan nyawa seseorang yang berada dekat dengannya atau perlakuan absurd lainnya yang kemungkinan besar terjadi tanpa disadari (naudzubillahi mindzalik!) persis seperti yang ada pada tayangan berita kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa alasan seseorang bisa bertindak diluar batas fitrahnya? Lagi-lagi jawabannya adalah hati. Oleh karena itu, maka kendalikan hatimu, agar bisa berhati-hati dalam setiap tindakan yang akan kamu lakukan. Sebetulnya hanya diri sendirilah yang mengetahui bagaimana caranya mengendalikan hati dan pikiran. Saya mencoba untuk berbagi saran yang insyaAllah berguna…(amiin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tundukkan hati hanya kepada Allah dengan cara terikat padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jauhkan hati dari buruknya perasaan karena dapat menggerakkan pikiran dan   perbuatan ke”jalan yang kurang bahkan tidak benar”..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jangan jadikan hawa nafsu sebagi “panglima” dan “pengendali”nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bertemanlah dengan orang-orang yang dapat menjaga hatinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dll (pelajarilah karekter diri sendiri, disana terdapat banyak jawaban. Atau berusaha bertanya kepada orang-orang terpercaya yang jujur ,lembut, dan arif caranya dalam menyampaikan saran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bersikap bijaksanalah dengan berusaha untuk memperbaiki diri. Perbaikilah langsung kepada pokoknya, yaitu hati. Jangan tunggu hingga ia sakit, gersang, mengeras ,lalu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat."&lt;/span&gt; (QS. Asy-Syuara: 88 - 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bishawwab...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3797968520870864677?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3797968520870864677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/kehati-hatian-dalam-menjaga-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3797968520870864677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3797968520870864677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/11/kehati-hatian-dalam-menjaga-hati.html' title='Kehati - hatian dalam menjaga hati (Oleh: Arytha Itte)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Su48ocLw2TI/AAAAAAAAASs/_DizF_z1AhU/s72-c/emotional-intellegence.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3368040530609305025</id><published>2009-10-27T00:41:00.000-07:00</published><updated>2009-10-27T00:52:05.239-07:00</updated><title type='text'>Pembajakan Adalah Perlawanan (oleh : Thufail Al Ghifari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuamaiEz93I/AAAAAAAAAOs/RRSO6u2Pta4/s1600-h/muchablonde2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuamaiEz93I/AAAAAAAAAOs/RRSO6u2Pta4/s320/muchablonde2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397184178203916146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;O you know/Dib o to o do/Nyahoo teu&lt;/span&gt;…Anda pernah membaca tulisan itu. Rasa rasanya ya? Benar, tulisan itu ada di sampul belakang novel kedua Dewi Lestari yang berjudul Akar. Lantas, apa yang anda rasakan waktu membaca dan menyelami maknanya? Anda mungkin salah satu di antara mayoritas yang menyetujui maksudnya,     &lt;span class="fullpost"&gt;karena menurut alur logika berfikir anda, pembajakan memang meresahkan, menimbulkan penindasan terselubung terhadap para penulis hingga andapun mewajarkan jika diantara penulis ada yang berkeinginan untuk menguliti kepala pembajak guna memuaskan dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembajakan suatu karya, dalam hal ini kita mengambil contoh buku, menurut para ahli dimulai dari kemunculan distribusi ilmu pengetahuan masala yang kedua setelah Tsailun menemukan kertas. Dengan mesin cetaknya yang fenomenal, secara tidak langsung dalam tempo singkat. Guttenberg membantu lompatan inovasi ilmu pengetahuan hingga berpuluh – puluh kali lipat jauh lebih tinggi ketimbang masa sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu waraq, atau para penyalin membutuhkan waktu yang lama untuk  menyalin sebuah buku, maka hanya dengan menekan beberapa tuas, sambil ongkang – ongkang kaki dan sesekali menegak pilsener, seorang operator mesin cetak bias mendapat salinan ratusan lembar tulisan hanya dalam satu hari. Meski, mesin cetak memang tidak di tujukan untuk merugikan manusia, akan tetapi disetiap penemuan teknologi akan selalu ada sisi gelap yang menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itulah percetakan dan penerbitan buku, selaku karya intelektual seorang penulis menjadi tidak terkendali. Ketika penulis bersusah payah mencari ide, menjalani disiplin ilmu penulisan, menawarkan dan menunggu untuk diterbitkan tiba – tiba hasil keringat dan kerja keras intelektualnya dibajak begitu saja tanpa memperhatikan tata karma misalnya sekedar meminta izin kepadanya. Jika dalam perjanjian antara penerbit dengan penulis terdapat system royalty yang sedikit banyaknya akan menjamin keberlangsungan hidup penulis, maka pelaku pembajakan meniadakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman ‘21century digital boy’ ini, keberadaan pembajakan dan pembeli buku bajakan dianggap sebagai indikasi kurang sadarnya masyarakat terhadap penghargaan intelektual. Kalau kurang sadar berarti masyarakat kesurupan? Sungguh menyedihkan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila melihat masa sebelum mesin cetak Guttenberg ditemukan, pembajakan buku tidaklah menjadi permasalahan yang penting untuk diseriusi, sebab pada masa itu, penggandaan buku tidak dilakukan dalam bentuk cetakan masal, melainkan hanya dalam bentuk penyalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah terlihat betapa culasnya pelaku pembajakan. Di satu sisi ingin mengeruk uang sebesar besarnya, tetapi disisi lain, dia tidak ingin menunaikan hak penulis yang membuatnya kaya. Artinya pembajak hanya ingin untung sendiri. Dan orang yang ingin untung sendiri adalah orang yang picik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari kasus tersebut, maka untuk melindungi penulis lahirlah serangkaian aturan yang dikemudian hari dikenal dengan nama hak cipta(copyright). Kemudian, apa setelah manusia menguras fikiran dan energi untuk menghasilkan aturan yang berpihak pada penulis, lantas apakah hak cipta tidak membawa sisi gelap bagi manusia? Beberapa orang menganggapnya tidak! Benar, jika hak cipta memberi jaminan pada penulis, akan tetapi hak cipta dianggap pemutus  akses ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang pada umumnya kere, melarat atau miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan hak cipta, menyebabkan masyarakat tidak diperkenankan secara legal mengakses ilmu pengetahuan, meski dengan mengkopi lalu menjilidnya secara pribadi. Ali – alih dibuat untuk melindungi penulis, pada kenyataannya hak cipta dijadikan alat bagi pemilik modal penerbitan, untuk meraup keuntungan sebesar besarnya. Di posisi inilah hukum rimba pula yang berkata: Cuma yang kaya yang berhak mendapat pengetahuan, yang hidupnya ngap – ngapan, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk mengcounter hak cipta lahirlah ajakan untuk melakukan pembajakan, karena pembajakan adalah perlawanan. Demikianlah anggapannya. Lantas bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah catatan sejarah yang mungkin bisa diambil hikmahnya dalam menentukan pembuatan aturan yang melindungi penulism namun tidak melupakan bahwa seluruh lapisan masyarakat mutlak memerlukan akses pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke sembilan dan kesepuluh masehi ketika dunia islam dipimpin oleh kesultanan Abasyiah, beberapa orang sultan (diantaranya Harun dan Ma’mun Al Rasyid) giat melakukan pengembangan pengetahuan mengenai filsafat (terutama hellenisme) pengobatan, matematika, dan ilmu pengetahuan lainnya. Untuk menunjang usaha ini mereka membuat Bait Al Hikmah, sedangkan usaha lainnya, ialah dengan memberikan jaminan kehidupan yang lebih dari sekedar penyambung hidup untuk para penulis yang memiliki karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makmum dan Harun  Al Rasyid, menghargai karya penulis dengan menimbang karyanya yang kemudian menggantinya dengan emas. Tolak ukur pembayarannya adalah berat timbangan karya si penulis. Ibaratnya jika karya si penulis setelah ditimbang beratnya ternyata satu kilo maka Negara akan menggantinya dengan emas seberat satu kilo juga. Setelah penulis diberikan haknya, kesultanan Abasyiah, mempersilahkan masyarakat untuk mengakses karya penulis, menggunakan berbagai cara, menyalinnya sendiri, atau menyebarluaskannya meski dengan tujuan komersialisasi. Terserah, sebab Negara sudah menuntaskan hak penulis dan hak masyarakat untuk mengakses pengetahuan yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu cerita itu bukan ditujukan agar pemerintah membuat kebijakan mengganti buku Dewi Lestari taruhlah dengan setengah kilo emas. Terserahlah, pemerintah mau membayar dengan setengah kilo buku Dewi Lestari dengan sepuluh tangki bensin atau dengan kulit kerang zama kyoken modinger, asalkan bisa melindungi hak penulis cantik itu. Lantas bagaimana dengan nasib penerbit? Penerbit bias bekerjasama dengan pemerintah. Mengenai masalah teknis, silahkan bicarakan dengan ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kalam, mudah – mudahan tulisan ini bisa membuka wacana dalam mempertimbangkan hak cipta yang sudah terlanjur dilegalisasikan. Mungkin dari wacana ini akan muncul antitesa sementara: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembajakan untuk komersialitas?NO! Pembajakan untuk pencerdasan?YES!&lt;/span&gt; dari tesa: Pembajakan adalah perlawanan. Mungkin Indra Bekti akan menyusul Dewi Lestari mengorbitkan buku! Mungkin…akan ada wacana lainnya yang lebih baik, demi masyarakat dan dunia perbukuan yang sama – sama kita sayangi, mungkin…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3368040530609305025?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3368040530609305025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/pembajakan-adalah-perlawanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3368040530609305025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3368040530609305025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/pembajakan-adalah-perlawanan.html' title='Pembajakan Adalah Perlawanan (oleh : Thufail Al Ghifari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuamaiEz93I/AAAAAAAAAOs/RRSO6u2Pta4/s72-c/muchablonde2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-7413231825905101094</id><published>2009-10-24T01:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T01:30:00.572-07:00</updated><title type='text'>Ini tentang hidup Anda, dan saya (Oleh : Arytha Itte)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuK6_c6np4I/AAAAAAAAANU/MF87VGZFttw/s1600-h/heaven-watch.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuK6_c6np4I/AAAAAAAAANU/MF87VGZFttw/s320/heaven-watch.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396080902799861634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismilahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tentunya saya awali dengan mengucap nama Allah swt, Sang Pemilik jagad raya beserta isinya, sebagai bentuk syukur atas apa yang akan saya tulis berikut. Saya tidak mencoba menggurui ataupun memberi nasihat kepada tema-teman penikmat BP (berandalan Puritan), hanya sekedar share atas apa yang saya kumpulkan di otak yang lumayan sempit ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang yang saya temui dan akhirnya berbincang sejenak diantara padatnya aktivitas yang mereka geluti, berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“hidup bagi gue adalah hal yang biasa, bergumul dengan kerjaan kantor yang ga ada habisnya, rutinitas yang memuakkan, pulang kantor, kumpul sama keluarga, istirahat sebentar, besoknya cabut gawe lagi. Kayanya waktu gue abis tanpa gue sadari..bla..bla..bla”&lt;/span&gt; dan beberapa keluhan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kasus lainnya yang diceritakan seorang teman dekat kepada saya tentang seorang bos yang mengatakan pada staffnya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“kalau kata pegawai, enak jadi bos, gak perlu kerja, yang kerja anak buahnya. Padahal lebih enak jadi anak buah, gak tahu gimana rasanya repot menyiapkan gaji untuk mereka“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah betul hidup se-sederhana itu? Untuk beberapa orang, bersyukur atas apa yang diterimanya adalah hal yang sulit, sama sulitnya ketika ia diminta untuk mendeskripsikan makna hidup yang telah dilaluinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang berbeda-beda berdasarkan siapa dan bagaimana menjalani hidup, yang jika ditilik lebih dalam, memang sudah menjadi karakter alami bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas dan jarang bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah swt berikan. Maka sebenarnya Allah swt selalu menegur dengan menyerukan kepadamu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Fabiayyi ‘alaa-I Rabbikuma Tukadzdziban?”&lt;/span&gt; Maka nikmat yang mana lagikah dari Tuhanmu yang kau dustakan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah kita akan seruan itu atau purapura tuli untuk mendengarnya? Akankah kita tetap mempersalahkan nikmat-nikmat yang telah Allah swt berikan melalui berbagai cara yang bahkan kita sendiri tidak menyadarinya? Tidak mensyukuri nikmat berupa padatnya aktivitas kerja, disaat jutaan manusia lainnya menangisi nasib mereka yang tak kunjung bekerja, tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, atau sekedar meng-iya-kan tangis sang anak yang minta diberikan seribu duaribu uang saku. Akahkah kita seperti itu? Masih enggankah kita menghentikan gerutu tentang kebosanan pada hidup sedangkan banyak orang yang rela mati-matian membanting tulang dan melawan kebosanan mereka justru untuk hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit dari manusia yang sibuk tapi tetap menikmati kesibukannya karena menemukan kenyamanan dari apa-apa yang mereka kerjakan, tapi tidak banyak dari manusia-manusia tersebut yang terlalu asyiknya menikmati hidup, sampai lupa dengan bersyukur. Hidup tidak hanya dijalani dengan kenikmatan, karena kenikmatan sejati akan muncul dari rasa syukur yang penuh dengan kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak waktu yang manusia miliki hanya diisi dengan persiapan, rutinitas, atau mengingat-ingat apa yang pernah mereka kerjakan, tapi hanya orang-orang jenius yang sadar akan keberadaannya dan Allah swt sebagai Rabb-nya yang berhasil menjalani rangkaian kehidupan dengan bersyukur dan menjadi manusia-manusia unggul .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It’s about your life, dude! It’s not about how you understand the role of life , but it’s more to how you meaning and enjoying it with syukr, cuz the results you achieve will be in direct proportion to the effort you apply.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;La In Syakartum La Adzii Dannakum Walaa In Kafartum Inna Adzaab Lasyadiid…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-7413231825905101094?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/7413231825905101094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/ini-tentang-hidup-anda-dan-saya-oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/7413231825905101094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/7413231825905101094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/ini-tentang-hidup-anda-dan-saya-oleh.html' title='Ini tentang hidup Anda, dan saya (Oleh : Arytha Itte)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuK6_c6np4I/AAAAAAAAANU/MF87VGZFttw/s72-c/heaven-watch.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-5529741181016594205</id><published>2009-10-22T13:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T13:39:05.321-07:00</updated><title type='text'>Urban Resistance (Oleh : Thufail Al Ghifari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuC_q6bvYzI/AAAAAAAAAMI/SPG1TxyBQX8/s1600-h/7-chris-jordan-skull-with-cigarettes.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuC_q6bvYzI/AAAAAAAAAMI/SPG1TxyBQX8/s320/7-chris-jordan-skull-with-cigarettes.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395523097550873394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap berjalan, iringi hidup tapaki waktu yang tidak berulang. Dapati sketsa hari - hari yang telah menitipkan banyak warna. Inilah detak jantung trotoar yang makin hari makin mengganas mengawal aspal peradaban dan angkuhnya cengkeraman metropolis, menjalar membakar karakter urban, yang hari ini sebagian dari masih terus bertahan dalam pertempuran 24 jam nonstop,&lt;span class="fullpost"&gt;karena di dalam tidurpun kami harus selalu siaga atas lelahnya reduksi pikiran yang beriak, setelah hari hari membunuh daki dan debu debu berhimpitan dalam cakrawala harapan, cita - cita, realitas dan stagnasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah resistensi, terhadap diri sendiri, dirimu, kalian, mereka, engkau, dia dan semua yang coba berkata dalam baris baris bibir tentang 'kebenaran' dan kemungkinan lainnya. Ketika dialektika hanya sebuah tarian basah dari teknik balet bernama retorika dengan guru ketaklitan entah itu mau pakai label ulama, agama atau atheis sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelucon para perangsang wahyu dan dialektika, yang kebanyakan justru begumam dari kepastian sebuah ketidakpastian yang mereka pastikan atas dasar yang sebenarnya secara tidak sadar ada kepastian yang menjadi tidak pasti, karena dunia ternyata terlalu pasti untuk terbiasa melambai dusta dalam paralel sejarah, tradisi, hegemoni dan doktrin mati dogmatisasi, yang ujung dari tarian itu lebih banyak hanya melahirkan justifikasi dan tebang pilih. Semoga hari ini saya tidak benar - benar menemukan Karl Marx berkolaborasi dengan fatwa MUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya bersyukur pada ignorance, ketika knowledge adalah hegemoni ID Palsu dan secawan propaganda yang membuat saya makin bersyukur bisa membunuh karl marx dan tuhan secara bersamaan. karena proletar adalah kapitalis adalah konspirasi adalah kepalsuan adalah politisasi ideologi yang jauh lebih busuk dari euforia dominasi game poker di facebook saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika segelintir patriot membabi buta, mereduksi konsep baik dengan label dialektika atau manifesto. Maka air mani itu justru lebih berharga, karena dari situ saya bisa belajar siapa saya dan kemana saya pergi. Dan dari situ saya mengerti alasan saya berdiri baik secara fisik, ideologi ataupun iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urbanisasi semangat dan daya tahan terhadap hidup, maka ini memang resistensi dari kolong langit kaum urban. sejajar menjalar arti langkah jalan menuju manifestasi jati diri yang final. Dan karena itulah..kami tidak perlu lagi menjadi dungu seperti Wiro Sableng dan Sinto Gendeng dengan ribuan jurus perubah pemikiran diatas panggung kusir delman dan pesanan jamaah juga ketaklitan massal dari patriot egosentris entah dengan atau tanpa label administrasi golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran bagi kami sudah final, kebenaran yang membuat kami malas pergi sholat tarawih, kebenaran yang membuat kami menelanjangi bahkan mengazab semunya dongeng kuburan meledug dan lelucon mayat belatungan. Kebenaran yang membuat kami menutup pintu rumah kami ketika kalian bicara tentang kemenangan kebenaran diatas dukungan sebanyak-banyaknya, sejak voting dan hak pilih adalah keharaman karena itulah lebih masa bodoh lagi bagi kami untuk mencari dukungan sebanyak banyaknya demi kebenaran ini, maka saya terlalu yakin karl marx dan adam smithpun paham, tidak mungkin amerika menjadi begundal demokrasi dengan slogan patriotisme ala Che Guevara dan Stalin dari kacamata Gatotkaca dan kentut semar. Percayalah! Kuku Bima hanya bisa kamu temukan di warung kopi jahe dan jamu tradisional!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini, kami semakin mampu mereduksi hari, memaknai hidup untuk mengerti keterasingan itu anugerah. Karena kemuliaan itu sejatinya datang dalam keadaan asing dan pergi juga dalam keadaan yang asing. Tidak perlu banyak berpikir bagaimana kalian akan meninggalkan kami, atau justru kalian berpikir bagaimana cara merekrut kami. Karena sejatinya kami sudah meninggalkan kalian, jauh dan makin jauh dan akan semakin jauh. Menjadi 'bodoh' adalah lebih baik bagi kami, daripada menjadi 'pintar' dengan bergumam atas sambilan resistensi ujung aspal, ah Iwan Fals justru melakukan itu jauh lebih baik dengan atau tanpa Setiawan Djody di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah anugerah, karena kebenaran yang benar adalah kamu belajar dari ketidakbenaran untuk mengerti bahwa itu tidak benar. Hingga kamu akan melihat dan merasakan nikmatnya hidup dengan kebenaran sejati itu karena kamu mengimaninya dengan penjelasan sejelas jelasnya nasehat dari guru terbesar itu yaitu pengelaman hidupmu. Karena jika 'itu' benar..maka ia berkata dan melakukan, seperti ia melakukan apa yang ia katakan, dan yang benar itu juga tidak perlu dukungan dan tidak mengemis untuk diterima. Ia tetap benar dengan atau tanpa dukungan siapapun..maka hiduplah dan maknailah hidup, dan rasakanlah indahnya hidup dengan menjadikan dirimu tuhan dan berjalan bersama Kekuatan yang menciptakan semua tuhan dimuka bumi ini!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;makan tuh 'kebenaran'!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tulis Dengan Penuh Senyum Oleh : Thufail Al Ghifari &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-5529741181016594205?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/5529741181016594205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/urban-resitance.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5529741181016594205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/5529741181016594205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/urban-resitance.html' title='Urban Resistance (Oleh : Thufail Al Ghifari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuC_q6bvYzI/AAAAAAAAAMI/SPG1TxyBQX8/s72-c/7-chris-jordan-skull-with-cigarettes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-3698207659372741032</id><published>2009-10-22T02:29:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T13:39:21.353-07:00</updated><title type='text'>10 Kepribadian Orang Kreatif (Oleh : Seto Buje)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuAmgs9WJQI/AAAAAAAAALg/0_DeKVqsj_4/s1600-h/karya-narsis-buat-pameran-from-my-art-to-your-heART.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 211px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuAmgs9WJQI/AAAAAAAAALg/0_DeKVqsj_4/s320/karya-narsis-buat-pameran-from-my-art-to-your-heART.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395354696855987458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ehm, saya dapat ini dari mbak lis (tyainside.multiply.com), saya pikir ini menarik, saya baca, copas dan kini hadir dihadapan anda. Kenapa ini saya masukkan ke dalam rubrik catatangrafis? karena desain grafis adalah pekerjaan yang menuntut praktisinya untuk selalu kreatif. nah, apakah anda termasuk orang yang kreatif? baik sebagai seorang desainer grafis atau lainnya? silahkan simak...    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10 Kepribadian Orang Kreatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mihaly Csikszentmihalyi, seorang pakar kreativitas yang telah 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif, kesalahpahaman dalam menghadapi mereka sering timbul karena pada dasarnya individu yang kreatif memang memiliki kepribadian yang lebih kompleks dibanding orang lain. Jika kepribadian manusia biasa pada umumnya memiliki kecenderungan ke arah tertentu, maka kepribadian orang kreatif terdiri dari sifat-sifat berlawanan yang terus-menerus ‘bertarung’, tapi di sisi lain juga hidup berdampingan dalam satu tubuh. Apa saja sifat-sifat kontradiktif mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi, tapi mereka juga membutuhkan waktu lama untuk beristirahat. Mereka tahan berkonsentrasi dalam waktu yang lama tanpa merasa jenuh, lapar, atau gatal-gatal karena belum mandi. Tapi begitu sudah selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka; Di mata orang luar, mereka jadi terlihat seperti orang termalas di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif pada umumnya juga cerdas, tapi di sisi lain mereka tidak segan-segan untuk berpikir ala orang goblok dalam memandang persoalan. Ketimbang terpaku sejak awal pada satu macam penyelesaian (‘cara yang benar’), mereka memulai pemecahan masalah dengan berpikir divergen: Mengeluarkan sebanyak mungkin dan seberagam mungkin ide yang terpikir, tak peduli betapa bodoh kedengarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif adalah orang yang playful, tapi mereka juga penuh disiplin dan ketekunan. Tidak seperti dewasa lainnya yang melihat dunia dengan kacamata super-serius, orang-orang kreatif memandang bidang peminatan mereka seperti taman ria. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras mewujudkan ‘mainannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh imajinasi dan fantasi, tapi mereka juga tak lupa untuk tetap kembali ke realitas. Mereka mampu menelurkan ide-ide gila yang belum pernah tercetus oleh 6 milyar manusia lain, tapi yang membuat mereka bukan sekedar pemimpi di siang bolong adalah usaha mereka untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrovert. Pada kebanyakan orang lain, biasanya ada satu sifat yang cenderung lebih mendominasi perilakunya sehari-hari, tapi kedua sifat itu tampaknya muncul dalam porsi yang setara pada orang-orang kreatif. Mereka sangat menikmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama dengan orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian total ketika mengerjakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif biasanya rendah hati, namun juga bangga akan pencapaiannya. Mereka sadar bahwa ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan tokoh-tokoh kreatif yang menjadi panutan mereka. Mereka juga terfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga prestasi di masa lalu tidak sebegitu berartinya bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif adalah androgini; Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotipe gender mereka. Laki-laki yang kreatif biasanya lebih sensitif dan kurang agresif dibanding laki-laki lain yang tidak begitu kreatif, sementara perempuan yang kreatif juga lebih dominan dan ‘keras’ dibanding perempuan pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif adalah pemberontak, tapi pada saat yang sama mereka tetap menghargai tradisi lama. Tentu sulit menyematkan nilai kreativitas pada sebuah teori atau karya yang tidak mengandung sesuatu yang baru, tapi orang-orang kreatif tidak ingin membuat sesuatu yang sekedar berbeda dari yang sudah ada; Ada unsur ‘perbaikan’ atau ‘peningkatan’ yang harus dipenuhi, dan itu hanya bisa dilakukan setelah orang-orang kreatif cukup memahami aturan-aturan dasarnya untuk bisa menerabasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya, tapi mereka juga bisa sangat obyektif menilai hasilnya. Tanpa hasrat yang menggebu-gebu, mereka mungkin sudah menyerah sebelum sempat mewujudkan ide kreatif mereka yang sulit dinyatakan, tapi mereka juga tidak dapat menghasilkan sesuatu yang benar-benar hebat tanpa kemampuan untuk mengkritik diri dan karya sendiri habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka terhadap hal-hal baru dan sensitif pada lingkungan. Sifat ini menyenangkan mereka (karena mendukung proses kreatif), tapi juga membuat mereka sering gelisah -bahkan menderita. Sesuatu yang tidak beres di sekitar mereka, kritik dan cemooh terhadap hasil karya, atau pencapaian yang tidak dihargai sebagaimana mestinya, hal-hal ini mengganggu orang kreatif lebih dari orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;The Creative Personality – Psychology Today&lt;br /&gt;perpanjangan link dari Maydina's blog&lt;br /&gt;kiriman : bujangan jenggotan takut nikah alias seto buje    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-3698207659372741032?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/3698207659372741032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/10-kepribadian-orang-kreatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3698207659372741032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/3698207659372741032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/10-kepribadian-orang-kreatif.html' title='10 Kepribadian Orang Kreatif (Oleh : Seto Buje)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuAmgs9WJQI/AAAAAAAAALg/0_DeKVqsj_4/s72-c/karya-narsis-buat-pameran-from-my-art-to-your-heART.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-7235843771573361532</id><published>2009-10-18T12:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T13:39:38.585-07:00</updated><title type='text'>10 Racun Psikologi (Oleh : Arytha Itte)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuAlW9P6i9I/AAAAAAAAALY/7D--AdMC3Hc/s1600-h/Psychology4a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuAlW9P6i9I/AAAAAAAAALY/7D--AdMC3Hc/s320/Psychology4a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395353429918518226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun pertama :&lt;/span&gt; Menghindar&lt;br /&gt;Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Antibodinya : Realitas&lt;br /&gt;Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun kedua :&lt;/span&gt; Ketakutan&lt;br /&gt;Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, problem seksual, dll...&lt;br /&gt;Antibodinya : Keberanian&lt;br /&gt;Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun ketiga :&lt;/span&gt; Egoistis&lt;br /&gt;Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.&lt;br /&gt;Antibodinya : Bersikap sosial&lt;br /&gt;Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui, orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun keempat :&lt;/span&gt; Stagnasi&lt;br /&gt;Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.&lt;br /&gt;Antibodinya : Ambisi&lt;br /&gt;Cara : Teruslah berkembang, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun kelima :&lt;/span&gt; Rasa rendah diri&lt;br /&gt;Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.&lt;br /&gt;Antibodinya : Keyakinan diri&lt;br /&gt;Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang, yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih.. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Racun keenam :&lt;/span&gt; Narsistik&lt;br /&gt;Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.&lt;br /&gt;Antibodinya : Rendah hati&lt;br /&gt;Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun ketujuh : &lt;/span&gt;Mengasihani diri&lt;br /&gt;Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.&lt;br /&gt;Antibodinya : Sublimasi&lt;br /&gt;Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain..&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Racun kedelapan :&lt;/span&gt; Sikap bermalas-malasan&lt;br /&gt;Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.&lt;br /&gt;Antibodinya : Kerja&lt;br /&gt;Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun kesembilan :&lt;/span&gt; Sikap tidak toleran&lt;br /&gt;Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.&lt;br /&gt;Antibodinya : Kontrol diri&lt;br /&gt;Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Racun kesepuluh : &lt;/span&gt;Kebencian&lt;br /&gt;Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.&lt;br /&gt;Antibodinya : Cinta kasih&lt;br /&gt;Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan.. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia, gunakan cara diatas sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindardari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Arytha Itte&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-7235843771573361532?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/7235843771573361532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/10-racun-psikologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/7235843771573361532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/7235843771573361532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/10-racun-psikologi.html' title='10 Racun Psikologi (Oleh : Arytha Itte)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/SuAlW9P6i9I/AAAAAAAAALY/7D--AdMC3Hc/s72-c/Psychology4a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1625630106551909991.post-8010492803291173325</id><published>2009-10-18T12:08:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T13:39:58.502-07:00</updated><title type='text'>Di atas sebuah skenario (Oleh : Thufail Al Ghifari)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sttql2dfRnI/AAAAAAAAAKg/qsU1pmc29ps/s1600-h/patient-x2.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 233px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sttql2dfRnI/AAAAAAAAAKg/qsU1pmc29ps/s320/patient-x2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394022177213204082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah perjalanan. Ia seperti sebuah susunan cerita, kita adalah aktornya dan Allah Swt adalah sutradaranya. Di dalam scenario itu banyak adegan yang akan kita lakoni. Berbeda dengan sebuah syuting film biasanya, yang skenarionya bisa kita baca dan pelajari terlebih dahulu lalu kita perankan di depan kamera video.    &lt;span class="fullpost"&gt;Tapi kali ini, di dalam setiap adegan kita dalam pentas kehidupan ini kita tidak tahu apa yang akan kita lakoni. Kita hanya mengikuti alur nalar pikiran dan insting nurani kita. Mengalir seperti air mencari tempat terendah, melanglang buana membahana dengan lusinan kerikil hingga guncangan hadapi berbagai jenis badai, irisan perasaan hingga senyuman demi senyuman juga airmata. Semua membaur menjadi satu kisah yang akhir episodenya ditentukan oleh kita, apakah ia menjadi indah atau menjadi pahit dan sia – sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kita tidak sedang membaca sebuah teks skenario buta lalu memerankannya dengan ketaklitan. Disini isi skenarionya penuh dengan pilihan dan tidak dipaksakan, yang setiap pilihannya memiliki resikonya sendiri, karena sesungguhnya telah jelas jalan yang sesat dan jalan yang benar (Qs 2:256). Inilah sisi luar biasa Sang Rabbul Izzati yang Maha Pemurah dan Bijaksana. Ia memiliki scenario aslinya, namun Ia tetap mengizinkan kita menulis scenario kita sendiri, jika Ia ridho ia yang akan merubah beberapa scenario milikNya sesuai dengan perubahan yang kita inginkan pada diri kita sendiri (Qs 8:53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skenario kehidupan adalah sketsa nurani adalah misteri antara harapan dan keputusasaan adalah semangat dan keletihan adalah realita dan fatamorgana adalah logika dan wahyu adalah jiwa jiwa yang merana dan orang – orang yang terpilih karena mereka telah memilih dengan tepat alasan dan tujuan mereka memainkan sebuah lakon dalam sebuah kehidupan. Maka hari – hari kita adalah sekolah, ada begitu banyak literatur ilmu disana. Ilmu yang akan menuntun kita menuju jawaban akhir skenario kita. Ketika satu persatu alur scenario itu terbuka, terbaca dan kita melewatinya satu persatu, maka Sang Sutradara akan memanggil kita. Ia akan memberitahu kepada kita bagaimana kualitas akting dalam perjalanan kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu kita tidak perlu repot – repot mencatat ulang semua adegan yang telah kita lakukan. Karena sudah ada yang mencatatnya di setiap subuh utusan itu menunggu kita berjamaah di masjid untuk mencatat semua laporan adegan kita untuk dibawa ke Sang Sutradara. Begitu juga di kala ashar utusan itu dengan professional menunggu kita berjamaah di masjid untuk mencatat semua hasil dan kualitas adegan yang telah kita lakoni untuk dilaporkan.Hingga akhirnya semua catatan itu terkumpulkan laksana skripsi diakhir perkuliahan. Sidang skripsi akan dituntun oleh para asisten sutradara, malaikat malaikat di misteri yaumil qiyamah, yaumil akhir yang penuh keadilan sesungguhnya. Tidak ada satupun adegan terlewati untuk ditanyakan mengapa, karena apa, kenapa, untuk apa dan lusinan pertanyaan lain mengenai penjelasan adegan adegan yang sudah kita lakukan? Sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan semuanya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai orang – orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu mengikuti langkah – langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu” Al Baqoroh : 208&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Thufail Al Ghifari &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1625630106551909991-8010492803291173325?l=berandalanpuritanartikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/feeds/8010492803291173325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/di-atas-sebuah-skenario.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8010492803291173325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1625630106551909991/posts/default/8010492803291173325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berandalanpuritanartikel.blogspot.com/2009/10/di-atas-sebuah-skenario.html' title='Di atas sebuah skenario (Oleh : Thufail Al Ghifari)'/><author><name>Mind Resist</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-HUKM0V_n7Gg/TZrKIMeXCXI/AAAAAAAAA24/xJv8cuZV63k/s220/thuf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lSP-MNrVhV4/Sttql2dfRnI/AAAAAAAAAKg/qsU1pmc29ps/s72-c/patient-x2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
