Kolom Artikel

Yeah..ahlan wa sahlan di kolom artikel.di sini kalian akan menikmati artikel artikel dari penulis penulis Berandalan Puritan seperti Herry Nurdi, Thufail Al Ghifari (Vokalis The Roots Of Madinah), Dan Yanuardi Syukur dari Komunitas Anti Zionis Internasional (KaZI) dan kru - kru berandalan puritan lainnya. Kalian juga bisa melibatkan diri dengan mengirimkan artikel artikel kalian ke redaksi kami via facebook Berita Hari Ini atau bergabung group facebook Berandalan Puritan. Artikel pilihan akan kami tampilkan di blog sederhana ini..yeah!

Revisi atau Mati? (Oleh : Tukang Tidur)





Dalam dunia kepenulisan, revisi adalah hal yang tidak bisa kita abaikan. Untuk bisa menciptakan tulisan yang bagus, tentu kita jangan pernah sungkan untuk melakukan revisi. Penulis yang baik adalah penulis yang tidak takut untuk merevisi tulisannya yang bahkan sudah selesai.

Namun, seperti apa sih kegiatan merevisi itu? Apa bedanya dengan mengedit? Dalam dictionary.com disebutkan bahwa revisi adalah: to alter something already written or printed, in order to make corrections, improve, or update: to revise a manuscript. Merevisi artinya mengubah sesuatu yang sudah ditulis atau dicetak, dalam rangka untuk melakukan koreksi, memperbaiki, atau memperbarui. Editing adalah bagian dari revisi, tapi editing tidak sampai mengubah substansi dari sebuah tulisan, sedangkan merevisi itu kadang harus menulis ulang sebuah tulisan yang sudah selesai! Oh, tidak! Hehehe....

Seperti ketika sedang menulis puisi, misalnya, tentu kita sering menganggap bahwa puisi adalah sesuatu yang sakral, yang tidak boleh kita ubah sama sekali. Kalau puisi itu kita revisi, kita merasa berdosa sekali, dan puisi tersebut kita anggap sudah tidak suci lagi. Padahal, untuk membuat puisi yang bagus pun kita harus tetap melakukan revisi. Puisi bukan kitab suci, jadi jangan takut untuk merevisi demi mendapatkan hasil yang bagus dan berkualitas.

Sebagai contoh, saya pernah menulis puisi seperti ini:

Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang tertancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari?
Adakah yang lebih duri dari kalimat caci yang meluncur dari bibir seorang kekasih ketika kita sedang bersedih?
Dan, adakah yang lebih caci dari hidup yang tak pernah menjanjikan apa-apa selain mati?


Kata tertancap di puisi tersebut dikritik oleh teman saya yang kebetulan adalah seorang penyair. Teman saya itu memberi saran agar kata tertancap diganti dengan kata menancap, demi mendapatkan efek psikologis pembaca. Setelah itu, saya pun merevisi puisi tersebut menjadi seperti ini: Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang menancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari? Begitulah. Jika kita ingin membuat tulisan yang bagus, revisi adalah hal yang tidak boleh kita tinggalkan.

Minta Pendapat Teman


Sebagai penulis pemula, terkadang kita tidak bisa melihat kelemahan yang terdapat di dalam tulisan kita. Kita merasa tulisan kita baik-baik saja. Jadi, ketika ingin merevisi, kita sering bertanya-tanya dalam hati: “Apanya yang harus direvisi?” Untuk menghindari pertanyaan seperti ini, ada baiknya kita berbagi dengan teman dekat kita yang sesama penulis. Kita serahkan tulisan kita kepada mereka dan mintailah pendapatnya. “Gue baru buat cerpen, nih, tolong dikomentarin, dong!” Biasanya, dengan cara seperti itu, kita akan mengetahui kelemahan-kelemahan tulisan kita. Entah itu penokohannya yang flat (datar), terlalu banyak pengulangan kata, deskripsi setingnya yang tidak tergarap dengan baik, dialog yang terlalu kaku, banyak adegan-adegan yang tidak perlu, anakronisme, dan lain sebagainya. Setelah mendapat masukan seperti itu, tentu kita akan mendapatkan sedikit kemudahan ketika ingin melakukan revisi.

Saya juga sering melakukan hal seperti itu. Setelah selesai membuat tulisan, biasanya saya akan minta komentar dan masukan dari teman saya. Siapa tahu saja ada beberapa hal yang terlewat dari pengamatan saya. Setelah mendapatkan masukan, saya akan merevisi tulisan saya tersebut.

Jangan Pernah Malas


Jika kita malas merevisi, tentu karya-karya kita tidak akan bisa tergarap dengan maksimal, padahal karya kita itu memliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah karya yang bagus. Dengan malas merevisi, itu artinya kita tidak peduli dengan nasib tulisan kita. Biarin ajalah, yang penting sudah jadi! Jika demikian, adalah wajar jika tulisan-tulisan kita nanti akan menjadi tulisan yang tidak menarik. Jangan jadi penulis yang egois. Jika ada masukan yang bermanfaat, ambillah. Jika menemukan kejanggalan dalam tulisan kita, ubahlah. Dengan kita melakukan revisi, tulisan kita akan menjadi tulisan yang bagus dan berkualitas. Wallahu alam.

Akhirul kalam, teruslah menulis dan jangan lupa merevisi!

Wassalam,
Noor H. Dee
Si Tukangtidur